Gue baru selesai mandi ketika Bli Raja masuk ke dalam kamar gue secara tiba-tiba. Dia mengunci pintu kamar dan menatap gue yang masih berdiri di samping ranjang hanya dengan berbalut handuk putih. Keremangan cahaya lampu membuat suasana lebih mencekam dari sebelumnya.
Beberapa langkah diambil Bli Raja, mendekat ke arah gue yang ga bergerak seinci pun saat dia datang. Sepatu pantofelnya menciptakan bunyi yang khas, memecah keheningan. Tatapannya masih sama seperti kemarin ketika pertama kali gue bertemu Bli Raja sebagai client yang harus gue layani sebagai tamu spesial di bar.
Sekarang hanya ada beberapa jengkal saja jarak di antara kami. Gue bahkan bisa merasakan bagaimana tatapannya itu mencoba mendominasi. Merubah atmosfer menjadi di bawah kendali dia yang sama sekali ga mempengaruhi gue. Pandangan kami bertemu, tidak ada yang terjadi bahkan setelah beberapa lama waktu bergerak lamban, menghabisi detik demi detik yang berpacu dalam amarah yang diam-diam tersimpan.
Pandangan Bli Raja turun. Gue mengikuti arah pandangnya yang terhujam pada bekas kecupan Satur di d**a bagian kiri saat kami melakukan hubungan untuk pertama kali. Buru-buru gue menutup lebam itu dengan telapak tangan. Tapi tidak ada yang berubah. Tidak pada ekspresi Bli Raja.
Tangannya menyentuh ujung dagu gue dengan lebih lembut daripada yang terkahir kali. Saat gue berusaha menepisnya, dia menghentikan pergerakan tangan yang gue lakukan. Seperti tidak terima kegiatannya diganggu. Tatapannya masih sama, tidak ada kemarahan di sana atau sesuatu yang lebih menyeramkan, seperti sedang sangat menikmati apa yang ada di depan matanya, pandangan yang kian dingin. Tidak terbaca.
"Siapa yang meninggalkan bekas itu?" Tanyanya dengan suara yang dalam.
"Gue punya banyak client yang harus gue layanin malam ini. Jadi gue ga punya waktu buat jawab pertanyaan, Bli."
Jawaban gue masih tidak mempengaruhi ekspresi wajahnya. Padahal dengan sengaja gue melontarnya sebagai pemicu. Semula gue berpikir ada sesuatu yang aneh di dalam diri dia. Sesuatu yang mungkin lebih menyeramkan dari kemarin ketika Bli Raja memperlakukan gue lebih kasar daripada hanya sebagai seorang p*****r di rumah ini. Yang tidak memiliki hak apapun bahkan untuk dirinya sendiri.
"Pilih salah satu baju di lemari lo dan cepat turun ke bawah." Perintahnya, singkat.
Dalam hati, gue bisa merasakan kemarahan yang sedang dia tahan dari balik suaranya yang kini bergetar. Tapi gue ga merasa harus bertanggung jawab atas itu. Semua yang dia mau dan apa yang gue lakukan adalah dua hal yang berbeda. Bli Raja ga lebih dari orang asing bagi gue. Keluarga ini, semuanya, gue ga pernah benar-benar berusaha menerima mereka. Entah bagaimana untuk Satur, perasaan gue selalu merasa gamang setelah kejadian kemarin.
Dalam diam, gue melihat pantulan diri gue di depan cermin dan menghalau semua pemikiran tentang Satur yang menganggu akhir-akhir ini. Sentuhannya, kecupannya dan pandangannya yang menetap lama di dalam bilik memori kecil dalam otak gue, selalu berputar setiap saat ketika gue lengah.
Dress polos merah sebatas lutut yang mengembang seperti kelopak bunga mawar jadi pilihan gue. Gue memilih menambahkan cardingan berlengan panjang tipis, berwarna hitam dan memakai kalung pemberian Bu Mirna beberapa tahun lalu. Kalung sederhana yang berliontin kulit kerang. Tangan gue menggelung rambut dengan karet dan mengambil tas jinjing kecil yang berisi semua kebutuhan yang gue perlukan saat bekerja nanti.
"Lo harus sadar, Mel." Ucap gue pada diri sendiri ketika kegiatan gue tidak meredakan juga pemikiran tentang Satur.
Untuk siapa dan apa Bli Raja menyuruh gue memilih dress dari lemari. Sama sekali ga gue pikirin. Gue udah mengabari Bang Rio untuk menukar tugas menemani Bli Raja dengan gadis cantik lain malam ini. Bang Rio hanya menugaskan gue untuk menemani beberapa orang Jepang yang tengah selesai berbisnis dengan perusahaan lokal sebagai acara after meeting. Tentu, hanya menemani saja tidak ada interaksi lebih lanjut setelah selesai.
Saat gue mulai keluar kamar dan menuruni tangga. Suara aneh muncul, berkali-kali. Seperti seseorang yang tengah berkelahi. Gue mempercepat langkah kaki karena suara itu semakin menggema di lantai satu. Belum lagi ketika para pelayan berpakaian formal tampak bereaksi dengan wajah penuh ketakutan, berbaris, mengintip ke sebuah ruangan yang gue tau berfungsi sebagai ruang kerja Pak Pandji dan berakhir bersikap salah tingkah ketika gue datang.
Gue berlari pelan, menyusul sumber suara dan mendapati Satur tertelungkup di lantai. Wajahnya penuh luka dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Di dalam ruangan kerja Pak Pandji, Bli Raja tengah berwajah semringah. Berdiri dengan amarah yang terlihat jelas, dia mengibaskan kepalan tangan kanannya sambil tersenyum licik, merasa puas telah menghajar adiknya sendiri. Seperti berhasil melepaskan kekesalan yang entah karena apa.
Sedangkan Bli Setya berdiri tak jauh dari meja kerja Pak Pandji, berwajah khawatir tapi memilih berdiri dalam diamnya.
"Cukup, hentikan Raja." Bu Angel berteriak histeris ketika melihat Bli Raja hendak melayangkan pukulannya lagi pada Satur."Papi, hentikan anak-anakmu bertengkar seperti ini." Teriakannya membuat gue baru menyadari kehadiran Bu Angel di sudut ruangan.
Gue mendekat, berusaha membantu Satur yang terkapar di lantai, tanpa intruksi dari siapa pun, gue benar-benar tidak memahami apa yang tengah terjadi. Seluruh mata melihat ke arah gue kecuali Satur yang masih terengah-engah, menahan rasa sakit. Mereka melihat ke arah gue seolah-olah apa yang gue lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan besar.
Tatapan gue beralih ke Pak Pandji yang masih diam, tenang. Mendapati dua anaknya bertengkar, lalu pandangannya mengarah ke gue. Untuk beberapa saat dia hanya menatap, tatapan yang ga pernah dia munculkan sebelumnya.
"Bawa dia keluar dari rumah ini. Jangan pernah kembali lagi."
Bu Angel berlari ke arah suaminya, menangis,"Papi, Mela juga anak Kita."
"Kita sudah membicarakan ini berkali-kali, Mi."
Bu Angel menggelengkan kepalanya, menolak sesuatu yang ga gue mengerti. Sebelum sempat menyadari apa yang sedang terjadi. Bli Raja menarik tangan gue, memaksa gue berdiri dan meninggalkan Satur yang masih terkapar tak berdaya di lantai."Lepasin." Teriak gue.
"Bawa dia, janji Papi padamu sudah lunas.."
Gue semakin berontak ketika Bli Raja hendak menarik gue keluar ruangan."Lepasin, Mela."
"Mami, tolong Mela." Teriakan gue sama sekali tidak mampu membantu. Tidak ada orang yang bergerak dari tempatnya. Mereka hanya memandang gue dengan kasihan. Sedangkan Bu Angel masih memohon pada suaminya untuk membantu gue. Pada akhirnya, Bli Raja mengangkat tubuh gue ke pundaknya.
"Satuuuurrr.."
Teriakan gue ternyata membuat Satur bergerak, mencoba merangkak tapi pergerakannya dihalau Bli Setya yang langsung membantunya bangun. Mencoba menghentikannya yang bergerak, berusaha melihat dan membantu dengan pandangan penuh amarah, kecewa dan menyesal.
"Satuuuurrr toloooong...Lepasin." Gue bergerak, memukul punggung Bli Raja, memberontak. Melakukan apapun yang bisa gue lakukan ketika langkah Bli Raja keluar dari rumah. Beberapa orang berpakaian jas membuka pintu mobil yang terparkir di lobby. Lalu gue diturunkan dan dipaksa masuk ke dalam mobil.
Gue sempat menampar wajah Bli Raja, membuat tangan gue bergemetar hebat menahan emosi.
"Minggir, lepasin gue."
"Lo yang harusnya sadar diri di sini. Masuk ke mobil." Teriaknya.
"b******k. Lepasin."
"Melaaaaa.." gue bisa melihat Satur yang setengah berlari menyusul.
Tapi sejurus kemudian Bli Raja benar-benar memakai kekerasannya untuk memaksa gue masuk ke dalam mobil hitam miliknya. Beberapa orang sempat membantunya dan membuat gue gagal melarikan diri.
Di balik kaca film mobil yang gelap, gue menggedor, memanggil, berteriak meminta bantuan siapa pun. Tidak ada jalan keluar yang lain, gue terjebak. Seorang supir sudah membawa mobil ini melaju sebelum gue sempat menguasai diri, keluar dari wilayah rumah yang luas. Gue bergerak untuk melihat ke arah belakang ke arah dimana Satur terus mengikuti mobil yang membawa gue pergi keluar dari rumah. Sebuah harapan yang muncul tiba-tiba menghangatkan hati gue yang sekarang dipenuhi dengan ketakutan yang sulit diterjemahkan.
Gue menjerit mendapati perlakuan kasar dari Bli Raja yang tiba-tiba, merengkuh seluruh tubuh gue ke dalam pangkuannya. Berusaha mencium, meremas, menjamah dan menahan tangan gue agar tidak memberontak. Tangannya merobek sebagian dress yang gue pake, membuat air mata gue merembes keluar dari pelupuk. Untuk pertama kalinya, gue benar-benar takut sekarang.
"Anjing, b******k, lepasin gue.."
Tanpa gue sadari, tangan Bli Raja telah mengayun menuju muka gue. Sebuah tinjuan yang menggelapkan pandangan mendarat dan membuat cahaya lampu-lampu jalan yang berpijar seperti bintang-bintang kian memudar di belakang.
Satur. Gue butuh Satur.
***