10

1236 Kata
Dalam hidup ini gue ga pernah bertanya tentang dari rahim mana gue berasal. Satu orang yang pertama mencintai gue adalah Bu Mirna. Lalu, setelah tujuh tahun pertama kehidupan gue. Seorang perempuan bernama Bu Angel datang, memperkenalkan dirinya ketika untuk pertama kali gue terjatuh dari sepeda di taman panti asuhan. Bu Angel menatap gue seperti seseorang yang merindu. Saat melihatnya gue sama sekali tidak mengerti bahwa pertemuan pertama kami akan merubah hidup gue sampai detik ini. Bu Mirna menenangkan tangisan gue ketika Bu Angel dan Pak Pandji berusaha membawa gue untuk tinggal bersama mereka di rumah yang jauh lebih mewah dari hanya sebuah panti asuhan di sudut kota. Bu Mirna bilang bahwa gue bisa mulai percaya dengan Bu Angel dan menganggapnya sebagai Ibu. Dia yang menatap gue selalu dengan kelembutan dan perhatian. Mencintai gue sama besarnya seperti anak-anaknya. Tapi tetap saja, gue ga bisa merasakan kemudahan untuk memulai mencintai orang lain. Gue hanya anak yang diambil lalu dibesarkan untuk menggantikan harapan Bu Angel yang tidak bisa mendapatkan anak perempuan. Gue adalah pemuas harapan mereka. Hanya sekedar itu saja. Tapi Bu Mirna selalu bilang ketika kami selesai berdoa pada malam-malam terakhir gue di panti, bahwa setiap anak adalah berkat dari Tuhan. Tapi benarkah Tuhan memberikan kehidupan gue penuh dengan berkatnya? Suara pertama yang gue denger adalah suara mesin. Cahaya terang bergeser, menyinari pelupuk mata gue yang terpejam. Udara dingin menjalar, menyentuh kulit. Ada rasa sakit di sekitar wajah bagian kiri gue yang berdenyut pelan. Lalu gue mulai membuka mata dan terkejut ketika cahaya lampu pertama kali yang gue lihat menyorot tepat di wajah gue. Saat akan bergerak, kedua tangan gue tertahan, terikat dengan tali yang terbuat dari kulit berukuran lebar dan tebal berwarna hitam. Badan bagian atas gue terbuka, hanya menyisahkan bra hitam berenda yang terakhir kali gue pakai. Bagian bawah tubuh gue bahkan tidak tertutupi satu helai benang pun. Kedua kaki gue di taruh pada tiang-tiang yang memiliki cela dimana pergelangan kaki dapat di taruh dengan nyaman di sana. Membuat posisi kaki gue mengangkang lebar. "Don't move." Suara berat dan dalam itu. Gue berpaling menuju sumbernya. Mendapati Bli Raja yang kini memakai kaos hitam ketat berlengan pendek tengah berdiri agak jauh membelakangi gue. Terlihat sangat casual daripada biasanya. Dia berbalik, menatap gue yang masih berusaha melepaskan kedua ikatan tangan yang mengganjal. Bli Raja memakai sarung tangan berwarna senada, salah satu tangan memegang sebuah alat yang ga gue tau kegunaannya dan sebelah lagi memegang kapas. Gue mencoba meronta, mencoba bergerak meski sangat terbatas, berharap dapat melepaskan tangan gue dari ikatan yang menyakitkan. Sedangkan Bli Raja bergerak mendekat dan duduk persis di kursi yang berada tepat di sebelah tempat gue berbaring sekarang. Bau alkohol menyengat, menusuk hidung. Kapas yang dipegang Bli Raja sengaja diulas di bagian d**a sebelah kiri gue, tempat dimana bekas lebam yang Satur tinggalkan mulai menghilang. Gue mulai bergerak lebih aktif ketika melihat Bli Raja mendekatkan sebuah alat yang dia pegang ketempat yang sebelumnya dia bersihkan. "Stop.." teriak gue, menatap Bli Raja setengah memohon. Mata Bli Raja menatap gue, menyambut dengan dingin, menghentikan gerakannya. "Apa salah gue?" Cuma itu yang bisa gue pikirkan sekarang, mengingat semua perlakuan Bli Raja dan Pak Pandji yang mengusir gue tanpa sebuah alasan yang pasti. Hanya ingatan-ingatan itu yang memutar sebelum pada akhirnya gue pingsan dan berakhir di kursi panjang hitam ini. Berbaring tidak berdaya. Bli Raja kembali menggerakan tangannya, acuh, membiarkan alat yang dia pegang menyentuh permukaan kulit d**a gue. Rasa sakit tercipta di sana, gue ga bisa bergerak lebih agar Bli Raja menghentikan aktifitasnya. Dia bekerja dengan hikmat, seolah-olah tengah membuat maha karya dari rasa sakit orang lain. "Gue udah bilang sama lo sebelumnya. Gue bisa mengambil semua hal yang lo punya. Tapi lo selalu bertindak sesuka lo." Ucapnya tanpa melihat ke arah gue. Sibuk dengan pekerjaannya. Gue mengigit bibir, mencoba menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh alat pembuat tatto itu dan tetap memandang ke arah Bli Raja dengan harapan dia menghentikan semua ini. "Ini baru permulaan. Lo harus inget, hidup lo bukan menjadi milik lo sendiri. Mulai sekarang apapun yang lo lakuin harus ijin ke gue. Ga ada Papi, Mami atau Satur. Yang ada cuma lo dan gue." "Tapi kenapa? Apa salah gue?" Bli Raja menghentikan gerakannya. Dia mematikan mesin tatto dan menggulung kabel-kabel pada tempatnya. Lalu kembali lagi, mengelap permukaan kulit gue. Sekarang Bli Raja hanya duduk, memandang gue dengan tatapan nanar yang belum pernah dia tampilkan. "Lo udah n***e sama Satur?" Pertanyaan itu yang membuat gue bergeming. Diam seribu bahasa tidak berusaha lagi melepaskan diri dari ikatan. "Pilihan bodoh." Ucapnya. "Itu hak gue." "Apa bedanya lo sama p*****r kalau gitu?" "Kenapa gue harus berbeda dari para p*****r kalau gitu?" Dia tergelak, menarik bibirnya ke samping, senyuman licik yang pernah gue liat di dalam ruangan Pak Pandji saat Bli Raja selesai melampiaskan kemarahannya pada Satur, kembali muncul. Senyuman yang paling gue benci. Dia melepaskan seluruh ikatan tangan yang semula menahan gue di kursi panjang. Membantu kaki gue keluar dari cela kedua tiang. Lalu membiarkan gue bangun. Saat pertama kali berdiri dengan ketergesaan. Gue sedikit oleng, satu lengan Bli Raja mendekap gue secara cepat. Menarik perlahan ke sebuah spot dimana tiga kaca besar terpasang mencekung. Menimbulkan efek puluhan bayangan kami yang terpantul, sejajar, memanjang sampai berukuran paling kecil. Bayangan pantulan badan kami semula memudar di mata gue. Lalu kembali jelas ketika gue mulai menyesuaikan cahaya yang redup. Gue bisa melihat, tepat di bagian alat vital gue, ada tatto bunga anggrek yang gugur, tangkainya turun, persis menuju bagian paling sensitif gue. Pandangan gue beralih menuju d**a bagian kiri. Di sana sebuah garis tipis berwarna merah dengan menyerupai lambang salip tercetak secara sempurna. Mata gue menatap ke arah depan dimana pandangan Bli Raja jatuh ke arah yang sama. Walau pun gue tinggi, postur tubuh Bli Raja lebih tinggi dan besar lagi dari gue. Dia tepat berdiri di belakang, memegang kedua bahu gue dengan telapak tangannya. Gue baru menyadari, di kedua lengan Bli Raja yang tidak tertutupi kaos, berhias tatto berbagai bentuk dan warna, membuat gue sekilas kagum. Bli Raja merunduk, dengan sengaja dia menyelipkan anak-anak rambut gue ke belakang telinga sebelum pada akhirnya membisikan sesuatu di sana. "Gue bisa pake lo kapan aja yang gue mau. Sama seperti Satur yang menodai lo dengan nafsu bodohnya. Tapi, lo tetap harus ingat. Mulai detik ini apapun yang berkaitan dengan lo. Adalah kehendak gue." "...." "Lihat itu......setiap ada laki-laki yang nyentuh lo. Gue akan bikin tatto di sana. Di tempat mereka meninggalkan bekas di tubuh lo. Gue bisa nyuruh lo untuk n***e sama siapa aja. Bahkan ketika lo harus memuaskan nafsu para tikus yang datang ke bar Rio atau para gelandangan di jalan. Dengan orang gila sekali pun." Bli Raja mengecup pelan leher gue dan meniupkan angin di sana, perlahan, membuat sekujur tubuh gue merinding dibuatnya."Semua adalah kehendak gue, Mela. Melati." Beberapa kali Bli Raja mengusap rambut gue seperti anak kecil yang tengah dinasehati kakaknya. Dia bergerak, berusaha membuat tubuh kami saling berhadapan. Sorot matanya berubah jadi liar, berbeda daripada sebelumnya yang terkesan tenang. Senyuman merekah di sana, di wajahnya yang keras. Senyuman yang hampir berubah menjadi sebuah tawa yang menakutkan. Ibu jari Bli Raja memulas bibir gue perlahan, memasukan setengah ibu jarinya ke sana, ke dalam mulut gue yang terbuka. Sebelah tangannya menjambak rambut gue yang terurai. Kini Bli Raja benar-benar tertawa dengan suara yang menggema ke seluruh ruangan. Gue mencoba melepaskan jambakannya yang menyakitkan tapi Bli Raja justru mengeluarkan lidahnya dan menjilat bibir gue yang masih mengulum ibu jarinya.."Let's play.." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN