11

1274 Kata
Di sebuah rumah yang sama besarnya dengan milik Pak Pandji. Gue dan Bli Raja tinggal untuk sementara, arsitekturnya lebih mewah dengan banyak lukisan yang menggantung di dinding-dindingnya. Lampu yang terbuat dari batu-batu permata berbagai warna, menggantung di langit-langit. Setiap lorong memiliki ornamen yang serupa, berlapis kayu mahoni yang mengkilap jika terpantul cahaya. Gue menempati sebuah kamar yang lebih luas dari kamar gue yang di rumah Pak Pandji. Gue ga bisa melakukan apapun, selain hanya menunggu perintah Bli Raja. Para penjaga berkeliaran di berbagai sudut rumah. Sesekali, dalam beberapa malam gue sempat mendengar keributan dan suara tawa yang menggema. Seperti sekumpulan tawon yang berkumpul. Tidak begitu jelas aktivitas apa yang mereka lakukan. Suara musik juga terdengar mengalun kencang di malam-malam tertentu. Tidak banyak yang bisa gue ketahui dari sekumpulan orang-orang itu. Bahkan gue ga pernah bertemu salah satu di antara mereka. Hanya pembantu paruh baya yang setia setiap tiga kali sehari mengantarkan makanan dan menanyakan setiap kebutuhan yang mungkin gue perlukan. Selebihnya, gue hanya seperti tawanan yang terkurung di sangkar emas. Gue berpaling dari arah jendela yang terbuka ke arah belakang, dimana suara pintu terbuka. Bli Raja sudah muncul dari pintu masuk yang kemudian kembali tertutup lagi. Wajahnya terlihat lelah, tapi masih cukup memancarkan aura menyeramkan. Lebih baik gue ga perlu menyulut emosinya selagi dia bersikap tenang. "Ada beberapa baju yang gue bawain buat lo. Mulai besok lo bisa ikut gue kerja." Gue berjalan, melihat orang-orang yang berlalu lalang membawakan tas-tas karton yang berisi pakaian, makeup sampai sepatu dan tas branded. Semua barang masih sesuai dengan selera Bli Raja. Gue ga menemukan kaos oblong atau celana jeans yang lebih casual dan santai. "Tapi gue masih harus sekolah." Bli Raja duduk di satu kursi, menaruh kakinya di atas meja dan menyulut api pada rokok yang baru dia selipkan di antara kedua bibirnya,"Buat apa sekolah. Lo cuma butuh skill kerja." Asap membumbung dari mulutnya. Mata Bli Raja sayu, melihat ke arah gue yang tengah berdiri tak seberapa jauh darinya."Coba pakai salah satu baju itu." "..." "Pake di depan gue. Sekarang." Gue ga mencoba membantah atas perintah yang dia berikan. Dengan mata yang was-was dan perasaan yang bercampur baur. Gue memilih asal, dress berwarna putih gading tanpa lengan sebatas lutut yang ketat. Gue melucuti pakaian satu persatu di depan Bli Raja yang mengawasi. Semenjak kemarin, ketika dia membubuhkan tatto di tubuh gue. Gue merasa tidak perlu ada lagi yang harus ditutupi. Apa yang ada di badan gue adalah termasuk apa yang dia kuasai. Intinya, gue hanya perlu bertelanjang seluruhnya di depan dia dalam artian yang bisa gue pahami. "Good. Lo harus terbiasa dengan pakaian semacam itu. Dalam beberapa hari kedepan gue akan memperkenalkan tentang dunia Kita yang sebenarnya." Bli Raja bangun, dia berjalan menuju ke arah gue. Tatapannya masih mendominasi, tapi kali ini ada sesuatu yang membuat jantung gue berdegup lebih kencang setiap kali Bli Raja mendekat. Sesuatu yang ga gue tau itu apa. "Apa yang lo liat sekarang cuma kebohongan, Mela. Lo harus berhenti peduli dengan orang lain. Lo harus meninggalkan keluarga lo di panti. Mulai sekarang lo hanya akan menjadi Melati yang berbeda, bersikaplah seperti apa yang seharusnya." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Bli Raja memasukan rokok yang dia hisap ke dalam mulut gue. Dengan pandangannya dia menyuruh gue melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan. Dalam satu tarikan napas, asap rokok memenuhi paru-paru gue. Untuk pertama kalinya gue batuk, belum terbiasa dengan asap rokoknya yang terasa menyakitkan di tenggorokkan. Senyuman menggembang di wajahnya, senyuman yang terkesan tulus tapi ga mudah untuk gue percayai. Di dalam hati, gue hanya perlu memulai semua dengan cara yang aman. Mengikuti apa yang dimau laki-laki ini. "Jangan mulai berpikir untuk berontak, Melati." Bli Raja kembali bergerak mendekat, gue bergerak mundur untuk menghindarinya. Tapi kemudian dia bergerak turun, berjongkok untuk melepaskan flat shoes yang gue kenakan. Membiarkan telapak kaki gue bersentuhan langsung dengan lantai marmer berwarna merah bata. Beberapa saat Bli Raja sempat mendongak untuk melihat gue dan kembali bergerak bangun, sebelah tangannya yang bebas masuk ke dalam bagian terintim gue. Menyentuh dan menekannya. Gue bergerak, mencoba menjauh dan Bli Raja tidak berusaha menahan gue lagi. Dia hanya tertawa, suara tawa yang parau. "Kalau lo udah berani n***e seharusnya lo ga perlu bersikap defensive.." "Gue masih punya privasi." "Ga ada privasi di antara Kita yang berkaitan tentang lo." Air wajahnya berubah dingin. Gue mulai berpikir dia akan menggunakan kekerasannya lagi karena gue memilih memperdebatkan omongannya tadi. Tapi ternyata salah, dia membuang putung rokok ke tempat sampah dan berjalan keluar kamar,"Ikut gue." Tanpa menunggu perintah dua kali. Gue mengikuti Bli Raja menuju keluar kamar tanpa alas kaki. Melewati beberapa penjagaan dan lorong-lorong redup yang menggemakan beberapa suara mengerikan dari arah yang jauh. Teriakan, jeritan, pukulan benda tumpul. Gue mencoba sedikit berlari, merapatkan langkah di samping Bli Raja walau sejujurnya dari semua suara itu. Sosok Bli Raja tetap yang paling menyeramkan. Kami berhenti di sebuah paviliun yang lebih terang daripada lorong-lorong tadi. Paviliun itu luas dan seluruhnya berwarna putih. Ada meja bundar yang di atasnya terdapat vas panjang berisi batu, air dan bunga segar berbagai jenis. Tapi bukan karena paviliun ini yang membuat gue membelalakan pandangan. Tapi karena apa yang sedang terjadi di ujung pelataran paviliun itu yang membuat gue menghentikan langkah. Seorang perempuan yang telanjang diikat pada sebuah tiang, sinar matahari menyorotinya secara langsung. Ada beberapa lelaki yang menyiraminya dengan air es berkali-kali, membuat perempuan itu menjerit ketika air dingin bersentuhan dengan luka-lukanya yang menganga akibat cambukan gesper salah satu laki-laki yang berperan sebagai algojo. Bli Raja rupanya menyadari gue yang tertinggal di belakang. Menghentikan langkah karena pemandangan itu. Dia kembali ke tempat dimana gue berhenti dan menyeret gue sampai ke luar paviliun dengan genggaman tangannya. Seluruh laki-laki yang semula menyiksa perempuan malang itu, seketika berhenti ketika menyadari Bli Raja datang dengan membawa gue di sampingnya dengan raut wajah ketakutan. Kami berhenti, beberapa langkah dari perempuan yang diikat pada tiang, gue meringis, ketika melihat ternyata luka-luka yang diakibatkan sabetan gesper para algojo lebih parah daripada yang gue duga sebelumnya. Sama sekali gue ga mengenali siapa perempuan yang diperlakukan biadab oleh mereka. Wajahnya tertunduk, seperti kelelahan karena diperlakukan secara tidak manusiawi. Bli Raja menyuruh salah satu dari algojo agar membuat perempuan itu mendongakkan wajahnya. Perempuan berparas cantik dengan alis mata yang tebal, menyatu. Kini menatap sedih ke arah kami. "Dia perempuan yang Rio kirim untuk menggantikan lo ketika harus melayani gue." Bli Raja melepaskan tangan gue yang sekarang melemas. Otak gue berhenti bekerja ketika ucapannya membuat gue sadar apa akibat dari tindakan gue yang gegabah. Bli Raja berjalan menuju ke arah belakang, memainkan rambut gue yang terurai lantas mulai berbisik di sana,"If you make a mistake, again, Mela. One person will be killed because of you." Gue berbalik, mencari sosok Bli Raja yang berjalan meninggalkan gue dan kemudian suara sabetan gesper terdengar lagi, membelah udara siang yang panas diikuti teriakan merana. "Bli, tolong hentikan.." gue berlari, mengejar Bli Raja, mencoba mencari perhatian dan berhasil menghadang langkahnya kemudian. "Gue mohon, Bli." "Kalau begitu, apa gue harus membuat lo menggantikan perempuan itu? Melayani para pelayan gue?" Tangan gue mengepal, menahan emosi yang berhasil tersulut."Berhenti gue bilang. Kalau lo cukup waras, gue bisa mengikuti semua mau lo tanpa melibatkan orang lain. Lo mau badan gue? Lo boleh pake gue sekarang. Tapi berhenti melibatkan orang lain dan menyakiti mereka." Bli Raja tertawa, sambil bertepuk tangan. Merasa takjub dengan apa yang baru dilihatnya. Emosi gue yang meletup, keluar. Seperti sebuah pertunjukan yang menghibur. Tapi detik berikutnya, tawa itu hilang dari wajah Bli Raja. Berganti dengan tatapan yang menghakimi. "Oke. Persiapkan dia malam ini, Erdo." Lalu Bli Raja pergi, meninggalkan gue yang kembali ditarik paksa masuk ke dalam kamar oleh penjaga. "f**k you, Raja. I will kill you." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN