12

1454 Kata
Di hari yang sama dengan kejadian penyiksaan seorang perempuan yang dikirimkan Bang Rio untuk menggantikan gue dalam melayani Bli Raja adalah hari yang sama ketika seluruh cahaya yang gue liat selama ini hanya merupakan kamuflase kebaikan di dalam kelamnya kejahatan. Ya, dunia dimana gue hidup yang gue pikir selama ini merupakan sesuatu yang bullshit dengan semua kebaikan Pak Pandji dan Bu Angel. Terjawab satu persatu. Gue dibawa oleh seorang supir setelah dipersiapkan. Seperti biasa, dengan tampilan feminim dan tanpa alas kaki menjadi pilihan atas selera Bli Raja. Dress yang gue pake berwarna merah, warna yang sama ketika malam itu gue diusir dari rumah Pak Pandji dan Bu Angel. Dress kali ini benar-benar ketat dan memamerkan seluruh bagian punggung. Ada anting dan kalung berlian yang menghiasi tubuh gue. Tatto berbentuk seperti salip terbalik yang dibubuhkan oleh Bli Raja sesaat setelah kejadian pengusiran itu, tampak jelas terlihat, tidak tertutupi. Gue belum tau untuk apa gue dipersiapkan seperti ini. Mobil limousine yang membawa gue berputar menuju pusat kota, dimasing-masing jendela mobilnya dipasang tirai yang membuat gue harus membukanya jika ingin melihat lalu lintas luar. Aura dingin yang melingkupi malam ini membuat gue sedikit mengkerut membayangkan apa yang akan gue temukan nanti. Setelah satu jam perjalanan. Mobil limousine berhenti, gue bisa mendengar suara percikan-percikan air yang cukup kencang dari arah luar. Lalu pintu mobil terbuka sebelum sempat gue menduga percikkan itu berasal darimana. Ternyata mobil limousine ini berhenti pada lobby sebuah gedung berkelas international yang mewah. Beberapa penjagaan menggiring langkah gue menuju ke dalam gedung. Saat gue melihat ke arah belakang, tempat dimana mobil limousine tadi mulai bergerak meninggalkan lobby. Gue menemukan kolam yang dibuat dengan pancuran air berbentuk seorang perempuan telanjang. Tempat yang menghasilkan suara percikan yang gue dengar di dalam mobil. "Cepat jalan." Perintah salah satu bodyguard yang berada di kanan dan kiri tempat gue berdiri sekarang. Semula yang terlihat hanya arsitekturnya yang mewah tanpa satu pun penghuni. Gue harus menaiki tangga yang berbentuk seperti sepiral, menuju lantai dua. Ada lorong yang sangat panjang di sana. Di lantai yang sama itu, terdapat sebuah ruangan yang memiliki pintu sangat besar. Dari arah sana gue bisa mendengar beberapa keributan yang terdengar sayup-sayup. Saat semua sudah terkonfirmasi. Para penjaga pintu, membuka pintu itu dan membiarkan gue masuk ke dalamnya. "Ya Tuhan." Hanya kata-kata itu yang lolos dari mulut gue. Ketika melihat apa yang tersaji di balik pintu. Seorang bodyguard di belakang, mendorong gue agar kembali mengambil langkah, menuju arah yang mereka tentukan. Tapi, lantai ruangan ini lebih dingin daripada lantai yang pernah menyentuh telapak kaki gue yang dibiarkannya terbuka tanpa alas. Ruangan ini ada banyak sekat yang dibuat dengan meja dan kursi bundar di dalamnya yang di penuhi sekelompok orang berbeda-beda. Lampu-lampu berwarna merah, biru, kuning mendominasi. Membuat suasana menjadi remang dan gelap. Menakutkan untuk gue yang masih menyadari apa yang tengah terjadi. Banyaknya orang-orang yang bergelimpangan dan bergerak mengikuti irama musik yang memekakkan telinga. Membuat suasana menjadi begitu pengap dan sesak. Di antara mereka bahkan ada yang berhubungan intim. Satu perempuan untuk tiga sampai lima laki-laki. Hubungan sesama jenis atau bahkan mereka yang hanya sekedar menikmati pemandangan itu dengan bersorak. Saat gue mulai memasuki tengah ruangan. Langkah gue terhenti karena seorang laki-laki yang mungkin seusia gue, terjatuh dari tempat duduknya dengan wajah yang setengah sadar dan tidak. Gue mencoba membantu untuk membuatnya kembali berdiri. Tapi bodyguard di belakang serta merta langsung menarik gue. Menjauh dari laki-laki itu. Di saat yang sama, tubuh laki-laki itu gemetar, mengejang, irish mata hitamnya menghilang ke belakang dan menyisahkan hanya bagian putihnya saja. Suara tawa menggema di meja yang sama dimana laki-laki itu duduk tadi. Orang-orang begitu bahagia dan tertawa lepas, seperti tidak memiliki beban dan ketakutan saat melihat laki-laki tadi seperti tengah bergelut dengan mautnya. Gelas dan botol minuman beralkohol menyebar di antara mereka, bahkan ada salah satu gadis berambut kecoklatan yang membuat beberapa garis dari butiran bubuk yang ditaruhnya pada permukaan meja. Lalu, dia menghisap garis-garis yang dia buat sendiri melalui hidungnya dan kembali. Apa yang terjadi dengan laki-laki itu, terjadi pula pada gadis yang gue liat tadi. "Lanjut jalan." Rasanya mata gue mulai memanas, setelah mendapati banyaknya orang-orang melakukan semua hal yang ilegal di dalam ruangan ini. Banyak gadis-gadis muda yang berusia sama seperti gue atau lebih tua. Menari, setengah telanjang pada tiang-tiang yang menjadi tumpuan mereka di atas meja. Musik menggiring mereka untuk menari secara erotis. Para laki-laki hidung belang beraneka jenis, seperti menyembah, mendamba, menghamburkan uang pada gadis-gadis itu. Banyak di antara laki-laki yang datang ke sini menggunakan setelan jas, terlihat beberapa di antara mereka ada yang gue kenali sebagai artis atau anggota dewan dalam negeri. Di sudut ruangan yang luas ini, ada sebuah ruangan lagi yang lebih private dan tertutup dari dunia luar yang begitu mengerikan. Di dalam ruangan itu, gue mendapati Bli Raja tengah duduk di sebuah sofa hitam. Dia ditemani tiga perempuan seksi yang mengitarinya dari berbagai sisi. Gelas-gelas bir menghiasi meja yang di taruh pada tengah-tengah ruangan. Kulit-kulit kacang menyebar dimana-mana, begitu juga puntung rokok dan abunya. Ruangan ini lebih terang daripada ruangan di luar sana. Memamerkan banyak ornamen China yang mendominasi berwarna merah. Pandangan Bli Raja lantas berpaling dari tiga perempuan itu menuju ke arah gue yang tengah berdiri melihat dia. "Melati...welcome." Sapaan itu benar-benar tidak terlihat seperti sesuatu yang menggembirakan. Bli Raja memberikan isyarat pada ketiga perempuan tadi dan dua bodyguard yang menjaga gue untuk meninggalkan kami berdua di dalam ruangan. Bli Raja tidak lantas langsung menghampiri gue. Dia berpaling menuju meja yang terdapat beberapa botol minuman alkohol bermerek mahal. Membuka penutupnya dan meneguknya langsung dari sana. Sedangkan gue hanya bisa diam, menunggu. "Bagaimana? Sudah melihat dunia Kita yang sesungguhnya?" Tanyanya tanpa membalikkan badan. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka konsumsi? Bli Raja.." Dia berbalik, merespon panggilan gue. Menatap nanar sejenak,"Flakka, Heroin, Kokain, Ganja dan yang terbaru CPH4. Obat yang menghasilkan banyak uang. Banyak kekuasan." Bli Raja bergerak mendekat dengan sebotol minuman alkohol di tangan kirinya. Jalannya terlihat sedikit oleng tapi masih mampu bergerak sesuai dengan kemauannya. Menghampiri gue yang masih termangu di tempatnya. "Dari bisnis ini lo di besarkan. Di tempat seperti ini, lo juga di lahirkan." Tangan Bli Raja membenarkan tata letak rambut gue yang jatuh di kening, raut wajahnya berubah menjadi sedih, seakan-akan ada sesuatu yang menyentuh hatinya, itu pun jika memang dia benar-benar masih punya hati. Senyum mengembang lagi di wajahnya. Menghapus raut sedih yang beberapa saat sempat muncul. Dia tertawa sekilas, menggelengkan kepala dan kembali meneguk alkohol langsung dari botolnya. Sebelum kembali berbicara, dia mengelap mulutnya sendiri dengan punggung tangan, berekspresi sangat puas. "Jangan terlalu terkejut, Mela. Cepat atau lambat gue akan memberikan lo sebagian dari usaha ini. Lo harus belajar untuk mengembangkan bisnis keluarga Kita." Gue bisa merasakan bahwa saat Bli Raja mengatakan keluarga, nadanya berubah menjadi jijik. "Usaha untuk membunuh orang maksud lo?" Bli Raja kembali tertawa, persis di depan wajah gue. Aroma alkohol menyeruak dari mulutnya. Saat ini justru gue yang benar-benar merasa jijik dengan semua perilakunya. "Apa yang lo bilang barusan?" Tatapan kami saling beradu,"Lo pembunuh." Saat itulah Bli Raja melempar ke sudut ruangan botol yang sedang dia genggam. Tangan kanannya menjambak rambut gue dan mendorong gue sampai jatuh ke sofa. "Lo harusnya bilang makasih sama gue, seharusnya lo bilang itu, Mela." Teriaknya. Gue tertawa, meremehkan."Makasih karena udah buat gue sadar bahwa lo itu iblis, Raja? Lebih kotor dari anjing." Ucapan gue ternyata berhasil menyulut emosinya. Bli Raja tertawa lebih keras lagi, tawa yang menyeramkan. Tangannya melepas sabuk celana yang dia kenakan dan lantas menggerakan sabuk itu sampai mengenai gelas-gelas bir di meja. Membuatnya jatuh ke lantai, pecah, berhamburan seperti rasa keberanian gue yang kini kian menguap entah kemana. Bli Raja melempar lagi gesper yang dia pegang ke lantai. Dia bergerak, menindih tubuh gue. Kami saling bergelut, beberapa kali Bli Raja menampar gue tapi gue enggan berhenti memberontak. Tidak ingin mengalah untuk kali ini. Saat dia sibuk menciumi leher gue yang bebas, pandangan gue berhenti pada satu frame foto di meja dekat lampu duduk. Di sana, seorang gadis tengah tertawa, menampilkan raut bahagia. Dress kuning yang dia kenakan menggembang, tertiup angin. Rambutnya terturai, ikal di ujungnya. Raut wajah didalam foto itu membuat gue berhenti melawan Bli Raja yang kini melepaskan celananya. "Lo harusnya bilang makasih ke gue, Mela. Lo harusnya merasa beruntung." Bisiknya sambil tetap menjilati leher gue dan mengigitnya. Pada saat yang sama, gue menyadari apa yang akan dia lakukan kemudian dan hanya bisa melihatnya dalam diam."Apa yang lo akan lakuin ke gue sekarang, adalah apa yang lo lakuin juga sama gadis itu?" Ucapan gue terlontar begitu saja tanpa beban. Pertanyaan itu membuat pergerakannya berhenti. Dia mengetahui apa yang gue maksud."Sialan." Lalu dia kembali menghujami gue dengan ciuman dan pukulan sampai pada malam ini, dia kembali menyentuh gue seperti seorang p*****r, l***e, jalang yang tidak memiliki suara atas dirinya sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN