13

1191 Kata
Bli Raja membawa gue ke salah satu hunian apartement yang terlihat jauh lebih sederhana dari rumah dan gedung yang semula gue datangi setelah pemerkosaan kesekian yang dia lakukan terhadap gue. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Tapi kami masih terjaga, di atas ranjang dengan tubuh yang telanjang. Ya, kapan pun Bli Raja ingin. Gue ga punya pilihan untuk nolak. Kalau pun ada, semua berakhir dengan kekerasan. Semenjak berkali-kali Bli Raja meniduri gue. Selalu ada perasaan yang hilang setelahnya. Seperti sebagian diri gue ikut melebur dengan kebencian yang dia ciptakan. Sedangkan di sudut yang lain kerinduan akan Satur terus bersuara. Entah bagaimana dia sekarang. Bli Raja bergerak dari tempatnya, membuat ranjang yang kami tiduri bergoyang sedikit, dia mendekati gue yang tidur menghadap ke arah langit-langit, menatap ke arah sana. Nafasnya masih beraroma rokok dan alkohol, gue ga harus menghadap ke dia untuk menghirup aroma laknat itu. Dia mendekati pundak gue, mencium sisa-sisa persetubuan kami di sana. "Apa yang lo rasain sekarang?" Tanyanya dengan suara parau. Seakan-akan begitu peduli dengan perasaan gue yang saat ini gamang. Seolah-olah dia mengerti tentang bagaimana membuat perasaan orang lain lebih baik setelah apa yang dia lakukan. Tangan gue semakin menarik selimut ke atas. Mencoba memberikan jarak pada tubuh Bli Raja yang kekar dan berkulit coklat, berhias tatto dan beberapa bekas luka tusukan benda tajam, bersikap defensive. Gue ga mencoba bertanya sama dia darimana dia dapatkan bekas luka itu. Yang terlihat masih begitu menyeramkan meski sudah tertutupi oleh tatto burung phoniex. "Menjauhlah, gue lelah." Gue menelan ludah sekali, berharap dia akan sedikit mengerti. "Berhenti memikirkan semua hal yang ga perlu." "Apa yang lo anggap ga perlu adalah apa yang gue anggap penting. Kita ga punya hubungan yang dekat sampai harus berbagi perasaan." Jawab gue ketus. Dia tidak mengerti apa-apa. Kenapa pula dia harus berusaha memberikan nasehat. Jawabannya selalu sama saja. Bli Raja kembali membawa tubuhnya berada di atas gue. Kedua tangannya menumpu beban badan yang dia usahakan tidak menyentuh satu sama lain di antara tubuh kami. Jika diperhatikan dalam jarak sedekat ini. Bli Raja memiliki wajah yang nampak berbeda dengan Pak Pandji dan Bu Angel. Wajahnya tegas, terlalu tegas dengan potongan alis, rahang, tulang hidung dan bentuk bibir yang berisi penuh berwarna kecoklatan. Dagu'nya memiliki garis tipis, memberikan efek seperti terbelah menjadi dua. Gue belum pernah melihat orang memiliki ciri khas seperti dia. Tubuhnya tinggi, sama tingginya seperti Satur. Tapi jelas, perbedaan mereka sangat jauh. Tidak nampak di wajah Bli Raja jejak-jejak wajah Bu Angel yang memiliki garis wajah blasteran. Wajah Bli Raja terlalu, terlalu pribumi. "Hanya ada satu pemikiran yang perlu ada di otak lo. Lo hanya perlu mematikan perasaan lo sendiri." Gue mendengus kesal,"Berhenti untuk nyuruh-nyuruh kalau bisa lo cuma make gue. Lagian buat apa gue pake perasaan sama anjing macem lo." "Good. Dari awal gue minta lo sama si Pengecut itu juga karena hutang dan janjinya sama gue." "Oh ya, gue lupa. Gue cuma barang aja di sini. Jadi ga usah begitu peduli dengan apa yang gue rasain." Bli Raja meninju bagian kasur tepat di samping kepala gue. Matanya menyiratkan amarah tapi seperti biasa. Gue justru menantang dengan tetap menatapnya tanpa takut. "Cuma itu kan bisa lo. n***e, mukul, bunuh orang, mabok, jual narkoba." Gue tertawa sejenak, mengejek, kalau mengingat fakta apa yang dia suruh dengan menyebutkan gue harus bersyukur karena bertemu dia. "Kalau seandainya malem itu gue ga naruh lo di depan rumah Bu Mirna, lo juga bakal mati di bunuh sama si Pengecut itu atau lo bakal mati di tong sampah." "Lo ga ngerti apapun tentang kehidupan gue." Teriak gue sama kencangnya dengan emosi yang tengah membara di d**a Bli Raja. Apalagi setelah dia membawa nama Bu Mirna keluar dari mulut kotornya. Bli Raja tersenyum,"Besok pagi Setya akan dateng nemuin lo. Lo taukan apa yang harus lo lakuin, sayang?" Tanyanya sambil mengelus lembut pipi gue. Untuk sekali dalam seumur hidup. Gue mendorong tubuh Bli Raja menjauh dengan sekuat tenaga, tubuhnya oleng, jatuh ke arah samping. Pada saat yang sama, gue melayangkan kepalan tangan ke arah mukanya. Meringis, mendapati rasa berdenyut muncul di tangan gue tapi di hati, gue merasa teramat puas dapat melampiaskan emosi ini. Tinjuan itu sudah cukup mewakili semua apa yang ingin gue sampaikan ke dia. Gue bangun, menjauh. Membiarkan tubuh telanjang gue tidak ditutupi sehelai benang pun. Melihat ke arah Bli Raja yang kini justru tertawa seperti orang gila saat meraba sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Menurut lo dengan kaya gini bisa mengalahkan gue, Mela? Atau gue perlu bawa Satur juga biar bisa ngeliat lo dipake Setya? Gue rasa itu ide yang cukup menarik. Gimana menurut lo?" Gue mengambil vas bunga di atas nakas dan melemparnya ke arah Bli Raja yang sial, meleset. Dia berhasil menghindar. Bukannya membalas apa yang gue lakukan. Dia justru mengambil ponselnya dan menekan salah satu tombol di sana. Melihat ke arah gue yang masih berdiri, menahan emosi. "Hallo, Erdo. Bawa Setya dan Satur ke apartemen gue sekarang. Jangan sampe si Pengecut itu tau, kalau perlu, lo bisa ikat Satur. Gue denger dia udah ikut gabung setelah kepergian si p*****r ini." "..." "Oke, pastikan Setya sudah menjual barang-barang yang kemarin Kita kasih ke dia." Lalu sambungan terputus. Bli Raja mengacuhkan gue, dia sibuk memakai bajunya kembali. Setelah selesai, dia menghadap ke arah gue yang masih berdiri di sudut kamar. "Lo mau tau apa rahasia besar di keluarga Kita tentang jati diri lo?" "..." "Lo itu hadiah buat gue, Mela. Lo itu janji yang diberikan si Pengecut itu buat gue setelah berhasil membunuh Stella dan orangtua kandung gue sendiri. Dan lo tau, lo itu cuma anak haram dari si Pandji. Anak yang ga pernah diharapkan sama dia. Seandainya malam itu gue ga naruh lo di depan rumah Bu Mirna. Pasti lo udah dibunuh sama dia, sama seperti dia membunuh adik gue, membunuh orangtua gue, sama seperti dia membunuh Ibu lo." "Lo barang Mela, lo cuma tumbal. Lo hadiah buat gue dan sekarang, dari lo gue akan bisa balas semua dendam gue sama Pandji. Membuat semuanya terbayar impas, kalau lo cukup bisa mengerti. Lo bisa gabung sama gue untuk membalaskan dendam atas kematian Ibu lo." Suara Bli Raja menggema di kuping gue. Seperti suara-suara yang jauh dan tidak ingin gue percaya begitu saja. Suara itu menciptakan kebohongan yang terasa dekat. "Lo pikir gue bakal percaya dengan omong kosong itu?" Bli Raja menaikan pundak, acuh,"Percaya atau ga, bukan urusan gue. Kalau gue mau, gue bisa make lo cuma buat gue doang. Tapi apa yang gue temukan? Satur justru nyentuh lo untuk pertama kali dan bukan justru gue. Lo pikir kejadian malam itu bisa langsung gue lupain, Mela? No.." Dia mendekat, berjalan seperti malaikat pencabut maut. Tatapan begitu lekat, erat. Memaku perhatian gue ke dalam irish matanya yang hitam. Dia terus mendekat dan mendekat, sampai tidak ada jarak di antara kami."Melati, gue masih ingat gimana Ibu lo memohon sama gue untuk menyelamatkan anaknya. Mata lo sama seperti dia, tapi sayang. Seharusnya lo ga bersikap gegabah." Bli Raja tersenyum, memamerkan giginya yang putih."Coba bayangkan." Bisiknya. "Gimana rasanya dipakai bergilir dengan kami bertiga, Mela. Itulah yang dirasakan Stella sebelum akhirnya dia meninggal. Ahh, harusnya Angel bisa melihat bagaimana lo diperlakukan seperti sampah, atau Pandji. Hmmm...tapi untuk permulaan. Kita memulainya dari, Satur." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN