14

1171 Kata
"Gue ga bisa." Suara petikan korek api terdengar, Bli Raja duduk di sebuah sofa berwarna krem dan menghisap rokok yang baru saja dia bakar. Sedangkan Bli Setya berdiri di depannya, masih menggunakan seragam sekolah, begitu juga Satur yang dipaksa bertekuk lutut dengan kedua tangannya diikat ke belakang semenjak mereka datang bersama beberapa bodyguard yang mengawal. Gue masih memilih berada di sudut ruangan dengan baju seadanya. Mendengarkan semua yang kini semakin runyam dan membingungkan. "Apa susahnya? Lo cuma tinggal make dia. Ga lebih susah sama tugas lo jual narkoba." "Melati adik gue, Bli." Suara tawa menyambut ucapan Bli Setya kemudian,"Adik? Lo tau sendiri Kita ga punya ikatan darah satu sama lain. Buat apa lo nganggep dia adik. Sekarang cepet, lo pake dia di depan gue." Bli Setya enggan meninggalkan tempatnya berdiri. Dia masih memandang ke arah Bli Raja dengan pandangan penuh permohonan meski gesture tubuhnya tidak menujukkan ketakutan atas aura yang mendominasi dari Bli Raja. "Gue udah gabung sama lo semenjak tiga tahun yang lalu, gue udah nurutin semua kemauan lo, Bli." "Itu keputusan lo sendiri. Gue ga maksa untuk lo ikut gabung sama gue." "Karena gue percaya sama lo. Lo yang memberikan kesempatan itu." Bli Raja bangun dari duduknya, dia mendekati Bli Setya sambil menaruh telapak tangan di pundak adiknya, menepuk pundak Bli Setya beberapa kali,"Dan lo tau sendiri, bahwa Melati sejak awal adalah hadiah buat gue. Kenapa lo masih diem ketika brandalan itu nyentuh milik gue?" "Gue sama sekali ga tau Satur punya hubungan sama Mela." Bantahnya, gue bisa melihat satu-satunya yang tidak berubah adalah sikap Bli Setya yang masih tetap tenang meski nada bicaranya memiliki penekanan berbeda. "Lo cuma pengecut yang mempergunakan Mela cuma buat balas dendam sama Papi." Gue melihat ke arah Satur, dia menatap marah ke Bli Raja. Berbeda dari apa yang terakhir gue lihat ketika dia membicarakan bagaimana kehebatan kakaknya dengan usaha yang dia miliki di meja makan terakhir kali. Gue ga tau seberapa jauh Satur mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di keluarga kami. Atau mungkin di sini cuma gue satu-satunya orang yang sama sekali belum tau tentang permasalahan ini. Bli Raja bergerak mendekati Satur,"Gue ga minta pendapat lo, bangsat." Tinjuan meluncur mulus sampai ke wajah Satur. Tubuhnya tumbang ke lantai dengan nafas yang terengah-engah. "Gue ga nyangka lo selicik ini, Bli. Gue pikir selama ini lo baik sama Kita karena lo memang benar-benar baik." "Hey, monyet. Lo pikir keluarga Kita adalah keluarga yang sempurna? Apa lo lupa dengan yang gue lakukan waktu lo diambil sama Mami di jalanan? Lo lupa gue yang pada akhirnya membuat Mami percaya buat ngangkat lo jadi bagian dari kami." Bli Raja kembali melayangkan pukulan menggunakan kakinya ke arah perut Satur. "Stop." Pada akhirnya gue menemukan suara gue yang selama ini hilang. Semua orang di kamar apartemen yang luas ini memandang ke arah gue dengan tatapannya masing-masing,"Lakukan aja apa yang dia suruh, Bli Setya. Kalau itu bisa bikin dia puas." "Mela." Satur berteriak. Seperti tidak rela dengan apa yang gue katakan barusan. "Gue ga ngerti apa yang lo cari dari gue, Bli. Kalau cerita itu benar, gue adalah anak haram dari Papi yang sama sekali ga diharapkan oleh dia. Gue masih ga habis pikir kenapa lo masih mengejar gue untuk balas dendam. Tapi kalau dengan menyuruh Bli Setya buat make gue, lo bisa ngelepasin Satur. Gue ga keberatan." Bli Raja bertepuk tangan sambil tertawa lepas mendengar kalimat yang gue lontarkan. Dia mendekati gue yang masih termangu, membelai dan menarik gue agar bertekuk lutut persis di hadapan Bli Setya yang masih berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan, "Good. Tunggu apalagi Setya? Ini saatnya lo membuktikan kesetiaan lo ke gue." "Bli." Satur berteriak lagi, memanggil Bli Setya yang masih berdiri kaku di tempatnya. Mungkin harapannya agar Bli Setya tidak berubah pikiran. Tidak mencoba menanggapi kembali perdebatan yang kini terjadi di antara kami atau melihat ke arah gue yang sudah bertekuk lutut di depannya. Belum cukup hanya seperti itu, Bli Raja menjambak gue, memaksa agar mendongakkan wajah menghadap ke Bli Setya yang menatap lurus ke arah depan. Lapisan air mata tipis menggenang di pelupuk, belum pernah gue merasa lebih terhina daripada hari ini. Tapi melihat seseorang terluka karena gue. Merupakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada hanya mengorbankan diri sendiri. "Gue akan bunuh Pak Gatot sebagai gantinya." Suara Bli Setya menggema, mengintruksi semua pergerakan yang ada di dalam ruangan ini. "Lo pikir gampang bunuh Gatot?"Bli Raja melepaskan jambakannya di rambut gue, kasar. Pandangan mereka kini saling menatap. Bli Setya berpaling ke arah irish Mata Bli Raja, menatapnya hampir tanpa emosi,"Gue akan bunuh dia buat lo, gimana pun caranya. Asal lo ijinin gue buat terbebas dari keharusan make Mela dan biarkan Satur juga bebas." "Lo mungkin akan mati sebelum lo berhasil bunuh dia." "Gue ga pernah mengecewakan lo'kan?" Ada nada bangga di dalam suara Bli Setya. Entah apa maksud tawar menawar ini dan siapa Pak Gatot itu sebenarnya? Beberapa detik yang bergulir lambat. Hanya ada deru napas satu sama lain di antara kami yang terdengar. Membuat gue berpikir bahwa apa yang gue liat dari Bli Setya hanyalah permukaannya saja selama ini. Dia lebih cerdas dari kelihatannya. Belum lagi tentang apa yang dia lakukan untuk Bli Raja selama tiga tahun terakhir. Menjual narkoba? Sama sekali ga terbesit di benak gue ketika melihat Bli Setya yang berwajah kutu buku itu kini sepertinya mulai berhasil membujuk Bli Raja atas tawarannya. "Oke, kapan lo ninggalin rumah Papi?" "Secepatnya." "Good. Lo bisa pergi sekarang, Setya." "Lo udah janji untuk ngelepasin dia." Bli Setya bergerak, mengenggam lengan Bli Raja yang mencoba berlalu di depannya. "Oh ya, setelah dia ngeliat Mela gue pake. Biar dia belajar buat ga nyentuh sesuatu yang bukan punya dia." Satur mencoba berontak dari ikatan tangan yang membelenggunya, tapi Erdo salah satu bodyguard kepercayaan Bli Raja menahan tubuhnya agar tidak bergerak. Gue melihat ada rasa kekhawatiran yang terpancar dari sana, dari matanya. Kenapa dia harus merasa khawatir? Walau gue sendiri sudah lebih dulu mematikan semua perasaan yang tersisa. Untuk apa dia menangisi seorang p*****r? Gue ga lebih dari sekedar pemuas nafsu dan alat untuk membalaskan dendam Bli Raja. Kenapa Satur harus memandang gue dengan pandangan seperti itu? Kami bahkan tidak memiliki hubungan yang cukup baik selama ini. Sedangkan air mata sudah lebih dulu mengalir di pipi. Ketika Bli Raja menarik gue dan menyuruh lagi Bli Setya keluar dari apartemen. Meninggalkan kami bertiga. Semuanya bergerak dalam gerakan yang lamban, bahkan ketika Bli Raja mulai merobek dress yang gue kenakan. Memaksa gue untuk menaruh sebagain badan di meja dengan posisi merunduk. Memperkosa gue dari arah belakang. Telapak tangannya menahan kepala gue, membuat pergerakan menjadi begitu sulit. Gue ga punya pilihan selain diam dan menatap ke arah Satur dengan air mata yang tetap mengalir tanpa isak. Pandangan gue dan Satur terus terikat dalam suatu hubungan yang ga gue mengerti. Bukan di hati, rasa sakit itu ada, atas semua perlakuan ini. Rasa sakit itu tercermin dimatanya. Dimata Satur. Dia berkali-kali meronta untuk menolong gue. Tapi gue hanya diam memandang dia. Jika ada sesuatu yang bisa gue percaya sekarang. Rasanya gue ingin mulai mempercayai Satur dengan semua perasaan yang dia punya buat gue. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN