Tatapan Bli Raja terpaku. Dia hanya menatap dalam jarak yang cukup untuk menahan dirinya dari serangkaian usaha yang selanjutnya akan gue tau menjadi seperti apa. "Ini tidak baik. Maksud gue, Kita bisa melakukan dengan normal." "Apa arti kata "normal" itu, Mel?" "Sesuatu yang-" percuma, tidak pernah ada kata normal di dalam kamusnya. "Jadi, lo mau gue melakukan apa?" Terlalu bodoh untuk tidak menanyakan apa yang seharusnya gue lakukan. Jelas, tatapan itu, mesin itu. Semuanya. Menjadi satu kesatuan penyiksaan yang akan gue lalui detik demi detik hingga membuat dahaga terhadap rasa kenikmatan Bli Raja terbayar tuntas. "Mel.." panggilnya dengan suara muram. "Oke.." tanpa melihat ke arah Bli Raja. Gue meloloskan gaun pesta yang melekat. Tapi sosok Bli Raja berhambur cepat menabrak tubuh

