30

1835 Kata

Satu sentuhan dingin menarik gue berpindah kapal. Awalnya gue tidak menyadari tangan siapa itu. Sampai pada saatnya mesin kapal berbunyi dan meraung seperti macan tutul yang lapar. Satur, mengemudikan kapal yang lebih kecil daripada milik Bli Raja. Wajahnya jelas menyiratkan kekesalan, kemarahan, sebagian yang lebih besar mungkin rasa takut atau terkejut. Gue tidak menyadari semenjak kapan berpindah kapal. Semua kejadian itu, terasa cepat tanpa jeda. Penghinaan Bli Raja bahkan masih berdengung di kuping dan sekarang, gue merasa masuk dalam sebuah jebakkan yang lainnya. "Lo membunuh Bli Raja." Ucapan itu bukan pertanyaan, hanya sekedar gumaman diri sendiri yang akhirnya lolos tanpa sadar. "Hanya membuatnya pingsan." Ombak membuat pergerakan kapal menjadi begitu tidak stabil. Kadang gue

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN