31

1819 Kata

Kami duduk di sebuah ruangan dengan empat kursi berlapis kain beludru berwarna merah darah. Masing-masing kayu peyangganya terbuat dari kayu mahoni yang dipoles begitu mengkilap. Di bagian lengan kursinya, pahatan sederhana tampak sebagai hiasan yang cantik. Ada Satur yang memilih berdiri di dekat jendela kaca tanpa teralis. Ada Bli Setya yang berdiri dengan sikap protektif di belakang Farah yang duduk di sebrang kursi gue. Gadis itu lebih terlihat "hidup" sekarang, seburat warna kemerahan membumbul di kedua pipinya, meski wajahnya masih semurung langit mendung seperti pertama kali kami bertemu. Sirat ketakutan, rasa tak percaya dan permusuhan tampak lebih jelas di irish matanya yang hitam. Dia gadis cantik, bahkan ketika rambut keritingnya terpotong pendek dan diikat asal. Farah tetap me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN