bc

Possessive Brother

book_age16+
1.0K
IKUTI
5.8K
BACA
possessive
arrogant
dominant
drama
comedy
sweet
bxg
humorous
friendship
like
intro-logo
Uraian

Ovie merasa punya kakak super posesif seperti Kevin adalah sebuah kutukan. Ia selalu merasa kakak tertuanya itu membenci dan menaruh dendam padanya. Pernyataan itu ternyata tidak hanya ada dalam pikirannya, karena ketiga temannya juga berpikir hal yang sama. Ia selalu bertanya-tanya dan mencari tahu apa yang salah darinya. Namun yang ia tahu, semenjak kepulangan kakaknya dari Jerman, hari-hari tenang miliknya sirna dan semua semakin buruk ketika satu persatu rahasia keluarga mereka terkuak.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
Hujan menjadi salah satu fenomena alam yang tak bisa dihindari oleh siapapun dan untuk alasan apapun. Ketika rintikan air itu jatuh ke tanah, semua orang bersembunyi, berusaha untuk menghindari diri mereka dari air yang akan membasahi tubuh, atau menjadi sialnya menyebabkan sakit seperti flu. Berteduh jadi alasan paling tepat mengapa mereka masih ada di sini meski hari sudah hampir malam. Memasuki sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka. Sebetulnya, mereka sudah selesai mengerjakan tugas sekolah mereka sejak 30 menit yang lalu, namun karena hujan yang sangat deras di luar, mereka memutuskan untuk tetap menetap di sana. Perempuan bernama Ovie melihat ke luar jendela di sampingnya. Ia menghela napas karena sudah mulai merasa bosan. Ovie melirik ketiga temannya, sebelah ada Laura, seorang gadis berambut ikal sedang memainkan ponsel sambil meletakan kepalanya di atas meja. Dion, pria yang duduk di depannya sedang membaca buku. Genta, pria yang duduk di depan Laura sedang menonton sesuatu di ponselnya. Hujan yang besar membuat Ovie tidak bisa mendengar apapun dari ponsel Genta. “Semoga nggak lama lagi,” dia bergumam, berharap hujan cepat berhenti. “Lo mau pulang? Gue pikir jauh lebih bosan di rumah,” kata Laura. Gadis itu mematikan ponselnya ketika petir menyambar keras. “Kayaknya hujannya bakal awet sampai malam. Genta, matiin ponsel lo! Nanti kesamber geledek!” Cowok itu menurut, “Iya, Sayang.” “Dih?” Gadis itu mendelik. “Mitos tuh,” celetuk Dion sambil menutup buku yang ia baca. Ovie menoleh pada cowok itu. “Apanya mitos?” “Nggak mungkin main hp kesamber petir. Smartphone itu pakai jaringan nirkabel, wireless, jadi nggak mungkin kesamber petir, kecuali main hp sambil di charge,” kata Dion membuat ketiga orang di sana mengangguk. “Petir bisa terjadi karena awan yang sarat bermuatan listrik negatif, tertarik dengan listrik positif di bumi untuk segera menetralkan muatannya. Karena mau mencapai bumi, makanya petir tertarik buat nyamber benda yang lebih tinggi dari permukaan bumi.” “Oke, jadi si petir ini bakal nyamber apa dulu?” Laura bertanya. “Gedung-gedung tinggi, tiang listrik, pohon.” “Kira-kira Genta urutan keberapa untuk di samber petir?” Ovie tergelak mendengarnya. Sementara Genta merasa hatinya tersakiti. “Udah cukup Dion untuk dongengnya. Kita udah belajar di sekolah tujuh jam masa harus menyerap teori lagi?” “Itu kalimat yang keluar dari orang malas!” cetus Laura. “Oke-oke, gimana kalau kita main?” Ovie mengusulkan ide. Dia sudah kebosanan dan tak mau kupingnya sakit karena mendengar pertengkaran mereka yang sangat kekanakkan. “Main game?” Genta berpikir mainan jenis apa yang sekiranya bisa dimainkan oleh empat orang, dan di dalam ruangan. Kemudian matanya melihat botol minum milik Laura, dia meraihnya dan meletakannya dalam posisi horizontal di tengah meja. “Truth or dare!” dia berseru, sambil menaik turunkan alisnya, menantang semua orang yang ada di meja itu. “Lagi? Lo masih inget kan apa yang terjadi terakhir kali kita main TOD?” Tentu saja, semua di meja ini mengingat sangat baik. “Of course, Sandra Jennifer Olivia Sandy,” ledek Genta. Laura memukul lengan Genta. Dia ingat malam terakhir masa orientasi mereka, saat itu mereka berempat sedang bermain truth or dare, lalu Genta memberi Laura tantangan yang sampai saat ini terkenang sangat baik di angkatan mereka. Darenya adalah, Laura harus memperkanalkan namanya sebagai Sandra Jennifer Olivia Sandy kepada setiap orang yang menanyakan namanya. Dan sialnya semua orang percaya bahwa itu adalah nama aslinya. Padahal itu adalah nama lengkap dari seekor tupai berbikini yang hidup di Bikini Bottom! “Kalian aja main, gue nggak. Membangkitkan trauma terbesar gue? Nggak, makasih.” “Cuma game!” “Iya, konyolnya cuma game, tapi semua orang kenal gue sebagai Sandy! Gue bahkan yakin Sandy sendiri malu kalau denger ini.” Dion menyentuh botol itu, berancang-ancang mengambil putaran. “Kalau dia macam-macam aduin aja ke bokapnya dia nonton film porno.” “Apa?” Laura terkejut, Ovie juga. “KAPAN??!!” Keduanya serempak menatap horor cowok itu. Genta berubah panik. “Dion, gue nggak nyangka lo fitnah gue sekejam itu! Sum—” Dion memutar bola matanya. “Gue liat tadi. Nggak usah sumpah-sumpah.” “Bukannya tadi lo baca buku?” “Gue kasih tau, nggak semua orang yang pakai earphone beneran dengerin musik.” Genta memaki. Tapi dia kemudian nyengir. “Gue udah delapan belas plus, nggak apa-apa kan? Nggak apa-apa dong.” Genta membela diri. “Belum! Dua bulan lagi!” kata Ovie. “Dion, putar botolnya.” “Betul! Kita semua udah delapan belas, kecuali lo, Maknae!” ucap Laura. Perkataan itu membuat Dion mati kutu. Dion memutar botol di depan mereka. Botol itu terus berputar hingga akhirnya berhenti tepat ke arah Genta. “Truth or dare?!” Ovie langsung menyemprot Genta dengan pertanyaan. “Truth!” “Cupu!” sembur Laura. “Gue nggak mau dapet dare aneh-aneh!” “Satu-satunya yang aneh di sini cuma lo,” celetuk Dion. “Nah, kan, Dion aja setuju. Hmm, oke, truth, ya...?” Laura berpikir. “Siapa orang yang lo benci?” pertanyaan itu keluar dari Ovie. “Kok yang dibenci? Harusnya yang disuka dong?” kata Laura. “Kalau yang disuka ‘kan udah jelas...” kata Ovie, dia saling berpandangan dengan Dion. Orang yang Genta suka sudah sangat jelas. Tanpa perlu di tanyakan lagi. “Ayo, jawab!” “Sepupu lo.” “Hah? Ray maksudnya?” Laura menyahut. Ada apa dengan sepupunya? “Jawab yang jujur!” “Itu udah jujur. Sekarang gue yang putar, ya.” Genta mulai memutar botol tersebut. “Ovie!” Laura berseru ketika botol itu berhenti dan tertuju pada gadis di sampingnya. “Gue pilih truth.” “Sekarang gantian, siapa yang lo benci?” “Bukan yang disuka?” Dion menyela sebelum Ovie menjawab, jelas dia mau tau siapa yang Ovie suka. “Kalau yang disuka udah pasti enggak ada, jadi enggak usah ditanya.” Ovie mulai membuka mulutnya untuk menjawab. “Kakak gue.” Jari-jari Ovie yang ia letakan di pahanya saling bertautan, tiba-tiba merasa gugup karena menyebut kakak tertuanya dalam percakapan mereka. “Bukan benci sebenarnya. Tapi kalian pasti ngerti perasaan enggak suka yang terbentuk karena terbiasa. Jadi, walaupun orangnya udah nggak ada, jauh dan bahkan nggak ngelakuin apa-apa, tapi kalian masih bisa rasain keselnya setiap kali ingat namanya. Seperti... kalian terlahir memang udah ditakdirkan untuk membenci dia.” Laura mengangguk. Dia ingat dengan kakak tertua yang Ovie maksud. Beberapa tahun yang lalu, mereka pernah bertemu dengan kakak Ovie yang satu itu. “Kalau dia ada di sini, gue nggak mungkin bisa duduk di sini bareng kalian.” Dan tanpa mereka sadari, seorang pria baru saja memasuki kafe tersebut dengan langkah tegap menghampiri meja mereka. “Gue ngerti,” ucap Laura. “Kayak—“ “Vi,” Genta memanggilnya tiba-tiba dengan mata yang lurus, bukan menatap salah satu dari mereka. “Ya?” “Kakak lo yang itu?” Gadis itu mengangguk. “Iya, yang di Jerman, yang gue harap nggak akan pernah pulang.” “Bukan.” Genta menelan ludahnya. Dan seketika aura di sekitar mereka berubah. “Maksud gue yang itu...—“ Laura, Dion dan Ovie bingung. “—Yang lima langkah di belakang lo sekarang.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook