Di sore hari ini, tepatnya pukul 5 sore, Ovie sudah bersantai-santai diruang tamu sambil memakan sebatang coklat kacang dan membaca buku yang dia pinjam dari Dion. Di rumah yang besar ini hanya ada dirinya, Bi Siti dan juga Maudy yang sedang berganti baju dikamar karena Maudy juga baru pulang dari kampus.
Merasa matanya sudah cukup pegal karena membaca, Ovie menonton televisi. Sebelumnya TV itu menampilkan acara spongeboob namun sekarang sudah berganti menjadi acara berita. Dari dulu Ovie tidak suka nonton berita. Apalagi berita yang isinya kejadian pembunuhan atau p*********n. Ovie tidak tega.
Sebatang coklat sudah sampai digigitan terakhir. Ovie tidak sadar jika coklatnya sudah habis. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju kulkas dapur yang tersedia banyak coklat. Ovie, Maudy dan juga mamanya adalah penikmat coklat sejati. Jadi, kulkas harus terisi oleh coklat, tidak boleh absen!
Meskipun cemilan Ovie adalah coklat, tapi ia tidak merasa gendutan sama sekali. Berat badannya akan tetap segini-segini saja. Tidak bertambah. Kecuali pipinya yang membesar, membuat ia terlihat chubby. Tapi justru itu membuatnya terlihat semakin imut.
Ovie kembali ke sofanya, ia mengambil remote TV dan mengganti chanel yang ia suka.
"Vi," suara dari arah tangga membuat Ovie menoleh. Melihat kakaknya dengan baju santai berwarna biru dan celana sepanjang lutut sedamg berjalan ke arahnya. Setelah sampai, Maudy duduk di samping Ovie.
Ovie masih menatap Maudy. Penasaran akan apa sesuatu yang ingin kakaknya katakan.
"Kenapa liatin kayak gitu?" Tanya Maudy. Tangannya mengambil sebatang coklat yang ada ditangam Ovie. "Jangan kebanyakan makan coklat kacang, nanti jerawatan." ledeknya.
Ovie mendengus. "Kirain tadi kak Maudy manggil karena ada sesuatu."
Maudy terbatuk karena terselak kacang almond yang sebesar biji kelengkeng. Ovie menoleh melihat kakaknya yang terbatuk-batuk dengam wajah merah. Dengan gerakan cepat, Ovie mengambil air yang ada di meja sampingnya dan menyodorkannya pada Maudy.
Maudy mengambil dan langsung meneguknya hingga habis.
"Kenapa sih, kak?" Tanya Ovie heran.
"Gue terlalu fokus sama coklat yang lo pegang. Sampai lupa tujuan gue manggil lo apaan."
"Emang ada apa?"
"Mama dan papa ada kerjaan di luar negeri dan nggak bisa pulang cepat Tiket pulang pesawat yang mereka beli juga udah di cancel, gue nggak tahu kenapa. Katanya masih ada urusan penting di Paris dan bakal lebih lama."
"Pekerjaan lagi?" Tanya Ovie sedih. Ia paling tidak suka jika mama dan papanya terlalu fokus bekerja sampai melupakan kebersamaan keluarga.
Maudy mengelus bahu Ovie lembut. Maudy tahu, adiknya itu sangat merindukan mama dan juga papanya meski baru ditinggal sehari. "Gue kurang tau ada apaan. Coba aja tanya kak Kevin."
"Udah, jangan sedih. Nih coklatnya gue balikin. Ada yang bilang kalau lagi sedih makan coklat, sedihnya bakal hilang."
"Siapa yang bilang?" Tanya Ovie sambil tertawa.
"Kak Kevin."
***
"Emang bener kalau makan coklat sedihnya hilang?" Tanya Ovie entah pada siapa. Di kamarnya hanya ia sendiri. Yang pasti bukan berbicara dengan kuntilanak.
"Bisa, coba aja makan." Suara itu terdengar bertepatan setelah pintu terbuka. Ovie terkejut, pasalnya pintu kamar sudah ia kunci dari dalam. Ia selalu tidak mengerti kenapa kakaknya dapat dengan mudah masuk ke dalam kamarnya yang sudah ia kunci tanpa harus mendobrak pintu.
Kevin berjalan mendekat, hingga ia ikut duduk di kasur Ovie. Kini duduk mereka berhadap-hadapan. Ovie mengambil guling dan menaruhnya diatas paha. Karena ia hanya memakai celana pendek hitam. Bagi Ovie sangat terlihat tidak sopan jika ada yang lihat.
"Mau ngapain kak?" tanya Ovie takut. Ovie selalu takut jika melihat tatapan dari Kevin.
"Cuma main." jawan Kevin sambil menatap sekeliling kamar Ovie. Ovie diam. Tak tahu harus bicara apa.
"Kenapa? Kok keliatan takut?"
Ovie menggeleng kaku. Coklat ditangannya sepertinya sudah meleleh karena terlalu lama ia abaikan.
"Itu nggak dimakan?" Ujar Kevin sambil menunjuk coklat yang dipegang Ovie yang bungkusnya sudah dibuka. Ovie gelagapan. Ibaratkan sepasang kekasih, Ovie dan Kevin adalah sepasang kekasih yang masih kaku.
"Eh, ini mau dimakan kok. Tapi nanti. Udah malem, takut gendut." Ovie beralasan.
Kevin tidak memasang wajah curiga. Tatapannya jatuh pada coklat yang meleleh hingga mengenai jari-jari Ovie. Tangan Kevin mengambil coklat yang sudah tidak berbentuk dari tangan Ovie, lalu ia menutupnya hingga rapat. Setelah selesai, tangannya menarik tangan Ovie, lalu menjilat jari-jari yang terkena lelehan coklat tadi sampai bersih.
***
Pagi-pagi Maudy sudah di depan kamar Ovie sambil berteriak membangunkannya. Ovie kira ada sesuatu yang penting sampai Maudy berteriak seperti orang kemalingan. Tapi ternyata hanya pembagian uang jajan mingguan. Uang mingguan yang dibagikan setiap hari Jumat.
Dulu, papanyalah yang biasanya membagikan tapi karena Kevin sudah berada di Indonesia dan dapat memegang perusahaan, semua tanggung jawab diberikan pada Kevin.
Kevin mengeluarkan duit dari dompetnya yang tebal. Jika masalah uang, Maudy lah yang paling semangat dan selalu dibarisan paling depan.
"Kak Kevin jahat, ah. Masa cuma lima ratus ribu? Lipstick aku udah habis, kak..." rengek Maudy.
"Nggak usah pakai lipstick. Pakai arang aja,” ujar Kevin sadis.
"Kak Kevin!"
"Tambah sekarang, tapi minggu depan dipotong, mau?"
Maudy mulai diam. Ia bergeser, membiarkan Ovie mendapat giliran.
"Mau berapa?" tanyanya.
Ovie tidak berpikir, ia pun tidak tau harus menjawab berapa. Uang mingguannya yang kemarin saja masih tersisa banyak. Ovie tidak banyak memiliki keperluan pribadi, bahkan jika dia memang butuh sesuatu, biasanya mama atau Maudy sudah lebih dulu menyiapkan untuknya. Jadi, uang jajannya banyak yang tersimpan.
"Terserah, kak."
"Terserah bukan jawaban, Ovie."
Ovie menoleh ke samping, ternyata Maudy sudah pergi. Pantas saja kakaknya baik, ternyata karena tidak ada oranglain.
"Tiga ratus cukup kok, kak."
Bukannya mengeluarkan jumlah uang yang Ovie sebutkan, Kevin justru memberikan tujuh lembar uang seratus. Jadi uangnya ada tujuh ratus ribu. Ovie menatap Kevin heran, uangnya sangat lebih. Apalagi uangnya lebih banyak dari yang maudy punya. Ia merasa tidak enak jika Maudy tahu.
"Kebanyakan, kak."
"Simpan aja.”
Ovie mengambil uang jumlah besar itu dan menyimpannya di dalam dompetnya. Dia tiba-tiba berpikir untuk membelikan Luna gelang, atau novel-novel untuk dia baca. Mungkin novel yang bisa dia pinjamkan nanti ke Dion. Ketika sedang dalam lamunannya, dia baru menyadari kalau Kevin sudah bersiap-siap untuk berangkat. Ovie segera memakai tasnya dan mengikuti Kevin menuju mobil pribadinya.
Ketika sudah dalam perjalanan, Ovie membuka ponselnya dan membuka aplikasi belanja online untuk mencari sesuatu.
Kevin melirik singkat. “Kamu mau beli apa?” cowok itu bertanya ketika mereka berhenti di lampu merah.
“pengen beli bracelet buat mama. Tapi modelnya nggak ada yang bagus di sini.”
“Mau beli langsung?”
Ovie menoleh. “Beli langsung?”
“Iya. Di toko. Biar bisa milih modelnya sendiri.”
“Kalau di toko biasanya lebih mahal,” ujar Ovie pelan. “Uang aku nggak bakal cukup kayaknya.”
Kevin menatap wajah Ovie sekilas sebelum melajukan mobilnya karena lampu merah sudah hijau. “Cukup. Pasti cukup.”
“Kalau nggak cukup gimana?” Ovie bertanya.
“Kan ada kakak.”
Seharusnya Ovie berhati-hati dengan kebaikan yang Kevin tawarkan. Karena entah bagaimana itu terdengar seperti memiliki makna lain.