Ovie berbalik ke kanan, lalu kembali ke kiri. Seperti itulah yang ia lakukan sejak tadi. Ia sama sekali belum tidur sejak dari dapur 2 jam yang lalu. Padahal kini waktu sudah menunjukan pukul 10. Tangan Ovie terulur mengambil ponselnya yang di charger, tapi kini sudah terisi penuh.
Ia membuka aplikasi line yang terdapat pesan masuk. Dari yang tidak ia kenal, hingga teman-temannya dari SMP. Ovie membalas beberapa pesan yang menurutnya penting tersebut. Hingga ada lagi pesan baru yang masuk. Kali ini dari kakaknya.
Kak Kevin
↪Tidur. Kok masih online aja?
Ovie terpaku. Ia jadi bingung ingin membalas atau membiarkan saja pesan itu. Akhirnya Ovie memilih untuk mencoba tidur, daripada nanti kakaknya mengirim pesan-pesan mengancam.
Disaat Ovie sedang menghitung anak domba dalam khayalannya, suara pintu terbuka. Membuatnya langsung menarik selimut hingga sampai d**a, dan pura-pura tertidur.
Orang yang membuka pintu sudah naik ke ranjangnya, dan tiduran di sampingnya. Ovie bisa merasakan wajahnya ditatap. Rasanya tidak enak.
"Tidur, Ovie."
Dari suaranya Ovie tau siapa itu. Kakaknya, Kevin. Ovie membuka matanya sedikit, kamarnya gelap, lampu memang sudah ia matikan sejak tadi. Matanya melirik ke samping, ternyata Kevin tengah menatapnya.
"Kakak ngapain?" Tanya Ovie, suaranya terdengar seperti berbisik.
"Nggak boleh? Dulu kalau kamu nggak bisa tidur, pasti minta kakak temenin, kan?"
Waktu itu Ovie masih SD, masih kecil. Kalau sekarang ia tidur bersama cowok meskipun kakaknya sendiri, tetap saja rasanya aneh. Ovie tak menjawab, ia berbalik membelakangi Kevin. Terasa jelas deru nafas Kevin di lehernya.
“Kak Kevin.”
“Kenapa lagi?”
“Olahraganya seminggu sekali aja boleh nggak?”
“Kamu lagi ngajuin penawaran?”
Ovie meringis. Dengan keadaan sedekat ini, keberanian Ovie semakin menciut.
“Kalau boleh, iya.”
Tak ada balasan. Pundak Ovie tegang, namun tak lama dia dapat merasakan Kevin turun dari kasurnya. Ovie sontak berbalik, dan dia melihat Kevin berjalan untuk mematikan lampu kamarnya.
“Seminggu sekali. Nggak ada penawaran lagi.”
Lalu pintu itu tertutup, bersamaan dengan sosok Kevin yang lenyap dari kamarnya. Ovie tersenyum. Merasa puas atas apa yang dia sudah dapat.
Seminggu sekali? Tidak jadi masalah.
***
Ovie terbangun saat merasakan usapan lembut di lengan atasnya. Usapan itu justru membuatnya tambah pulas dalam alam mimpi. Namun seketika usapan itu beralih menjadi cubitan yang menimbulkan rasa perih.
Ovie meringis sambil mengusap bagian yang kena cubitan, tapi matanya tetap terpejam.
"Ovie!"
"Mba, Kunti!" Ujar Ovie karena kaget dengan suara Maudy. Maudy melotot karena merasa dirinya dipanggil kunti, lalu kembali memberikan Ovie cubitan-cubitan kepada Ovie. Membuat Ovie meringis dan langsung mengubah posisi menjadi duduk. Matanya menatap ke arah kakaknya yang sedang berkacak pinggang.
"Enak aja dipanggil 'mba kunti.'" ujar Maudy kesal.
Ovie latah karena semalam ia mimpi mbakunti yang sedang melayang-layang dikamarnya. Mengingat mimpinya semalam membuat Ovie bergidik ketakutan. Takut jika mimpinya jadi kenyataan.
"Cepat sana mandi, nanti kak Kevin marah, loh."
Ovie mengangguk paham. Ia berlari menuju kamar mandi. Namun memang dasarnya ia ceroboh, hingga ia lupa membawa seragam sekolah. Di dalam kamar mandi, Ovie mematikan keran air dan berteriak, "kak Maudy, tolong ambilin seragam sekolah aku di dalam lemari!"
Pintu kamar mandi terketuk dari luar, Ovie membuka setengah dan mengulurkan tangannya keluar tanpa melihat dulu siapa pemberinya. Dengan cepat Ovie memakai baju karena berlama-lama dikamar mandi membuatnya kedinginan.
Setelah selesai menguncir rambut dan mengecek kembali isi tas, Ovie keluar dari kamar, berniat sarapan dengan kedua keluarganya. Ovie sudah sampai di bawah, alisnya bertautan bingung. Ada sesuatu yang janggal.
Di mana Maudy?
Ovie duduk di depan Kevin. Matanya menatap Kevin dengan tatapan bertanya. Namun nyatanya kakaknya itu memang tidak peka. Ovie makan roti bakar dengan gelisah. Ia menghela napas, dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Kak Kevin."
"Hm." Jawab Kevin singkat. Mulutnya sedang mengunyah, tapi tangan kirinya sedang mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kak Maudy di mana?"
"Udah berangkat daritadi."
Otak Ovie mulai berpikir, "Kap—"
"Habis dari kamar kamu, dia langsung pergi. Mau ketemu dosen bimbingan katanya."
Ovie mulai cengo. Mulai merinding saat membayangkan jika mba kuntilah yang mengambilkan seragam ini. Membayangkan tangan panjang dengan kuku-kuku yang tajam terulur melalui pintu kamar mandinya.
"Mikirin apaan?" Tanya Kevin heran melihat gadis di sampingnya bersikap tidak jelas.
Ovie menggeleng. Dan melanjutkan sarapannya.
Memangnya hantu itu bisa muncul di pagi hari, ya?
***
Ketika sampai di sekolah, Ovie buru-buru ingin menemui Laura. Namun gadis itu nyatanya belum datang. Satu-satunya keberadaan manusia yang bisa dia tanya di sana adalah Dion.
Ovie berdehem, dan mengambil duduk di samping Dion ketika cowok itu sedang membaca buku.
“Dion, gue ganggu nggak?”
Dion menatap Ovie. “Nggak.” Dari sikapnya, dia siap mendengar Ovie bicara.
“Menurut lo mungkin nggak hantu bisa muncul di pagi hari? Ya... gue tau ini nggak masuk akal banget, gue juga mau coba untuk nggak percaya, tapi gue nggak mungkin lebih percaya teori handuk punya kaki, kan?”
Dion menutup bukunya dan sepenuhnya fokus pada Ovie. Dia mengernyit. “Lo lagi ngomongin hantu atau handuk berkaki?”
“Tuh, kan! Manusia sepinter lo aja nggak percaya.”
Dion mengernyit. Saat itulah Ovie menceritakan apa yang terjadi padanya tadi pagi.
“Mungkin bi Siti?”
“Bukan!”
“Kalau gitu kakak lo.”
“Awalnya gue juga ngira kak Maudy tapi—“
“Bukan, maksud gue kak Kevin.”
Ovie bungkam. Kalau memang benar begitu, rasanya dia ingin mempercayai adanya hantu di pagi hari atau teori handum berkaki saja. Meskipun rasanya itu jauh-jauh lebih tidak masuk akal dan diluar nalar manusia. Memikirkannya ulang, Ovie jadi malu sendiri. Meminta tolong mengambilkan handuk ke Kevin? Kevin pasti makin berpikir kalau dia adalah anak kecil yang belum cukup mandiri.
Ovie memberenggut. Dengan membayangkan Kevin meledeknya dengan sebutan anak kecil cukup membuat harga dirinya terinjak.
“Ovie, lo oke?”
Ovie tersadar dari lamanunannya. “Oke kok. Lo lagi baca apa?”
“Life of pi,” balas Dion sambil menunjukan sampul bukunya.
Mata Ovie berbinar. “Gue pernah nonton filmnya! Siapa itu nama pengarangnya?”
“Yann Martel. Mau pinjem?”
Ovie makin semangat. Dia sudah lama sekali tidak membaca novel.
“Boleh? Lo udah selesai baca?”
Dion mengangguk. “Udah. Nih, lo bawa aja,” katanya sambil menyodorkan buku tersebut. Ovie mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Kemudian gadis itu kembali ke tempatnya dan mulai membaca buku tersebut sambil menunggu Laura dan bel berbunyi, yang tanpa dia sadari, Dion di sana masih memperhatikannya.