Ovie tersenyum kala melihat Laura dan Genta yang tengah berebut sebiji bakso. Sebenarnya bakso itu milik Ovie, namun karena Ovie tidak kuat makan yang pedas-pedas, ia memberikan bakso pedas itu kepada mereka berdua. Namun sialnya jumlah baksonya ganjil hingga membuat mereka berdebat.
"Ngalah sama cewek!"
"Oh, mau gue ngalah sama lo?" Tanya Genta nyolot. "Mimpi!"
Laura melotot dan mencubit perut Genta yang duduk di sampingnya. Cubitannya tidak begitu kencang, tapi cukup membuat kulitnya jadi merah-merah.
"Jadi cowok kok nyebelin banget!"
"Jadi cewek kok bacot banget," Balas Genta tak mau kalah.
"Bagi dua aja. Ribet amat lo berdua." Dion mengunyah somay miliknya yang tinggal sedikit. Ia melirik ke arah Ovie yang terkikik senang.
Ovie tahu, mereka berdua— Genta dan Laura saling menyukai, saling mempunyai perasaan yang sama, namun anehnya selalu bertengkar tidak jelas. Tentu saja Ovie tahu, Laura sering cerita dengannya, dan Genta juga akan curhat tentang Laura kepadanya.
"Vie," Dion memanggi Ovie. Membuat Ovie menghentikan kikikannya. Ovie menoleh. Bukan hanya Ovie, Laura dan Genta juga ikut menoleh.
"Tugas kita kan belum selesai. Mau ngerjain kapan?" Tanya Dion serius. Memang di antara mereka Dionlah yang paling pintar, paling bisa mereka andalkan. Makanya mereka mau berteman dengan Dion. Bukan, bukannya mereka memanfaatkan Dion. Tapi, karena mereka ingin seperti Dion, pintar dan bisa dipercaya. Ada yang bilang pergaulan yang baik merubah sikap orang menjadi baik pula.
"Kapan aja gue bisa." Jawab Laura. Tepat saat Laura berkata, Genta mencomot sebiji bakso itu dengan cepat. Laura langsung ngomel-ngomel lagi. Dan Genta sukses menjadi korban pukulan mautnya.
"Ng... gue ikut aja." Ovie masih merasa tidak enak dengan teman sekelompoknya. Dia takut jika kejadian kemarin terulang lagi. Dia ikut saja apa kata temannya.
"Mau ngerjain di mana?" Tanya Dion lagi.
Laura berhenti menabok d**a bidang Genta. Kini tatapannya terarah ke Ovie, begitupun tatapan Genta dan Dion. Ovie yang menjadi tatapan mereka sontak terheran dan bingung.
"Kenapa?" Tanyanya pelan.
"Rumah lo aja, gimana?" Laura berkata.
"Hah? Nggak-nggak! Ada kakaknya, serem!" Genta menolak sambil menggeleng kencang. Meski dia mengakui bahwa Kevin baik kemarin, tetap saja dia tidak bisa membiasakan dirinya pada aura Kevin yang mengintimidasi itu.
"Lo takut?" Tanya Laura meledek.
"Lo mau nyamperin singa jantan?" celetuk Genta.
"Kemarin kan kak Kevin ngira kita jalan-jalan, nah biar kak Kevin nggak marah dan nuduh-nuduh lagi, kita di rumah Ovie aja."
"Setujuuu!" Laura berkata senang. Dari dulu ia paling senang jika ke rumah Ovie. Selain bertemu tante Luna yang sangat baik padanya. Rumah besar Ovie juga tersedia berbagai macam makanan, dari makanan ringan sampai berat.
"Kapan?" Kini Ovie yang bertanya.
"Hari ini." Dion memberi keputusan. Karena lebih cepat lebih baik. Dion juga sibuk di organisasi, waktunya sedikit jika digunakan untuk mengerjakan tugas kelompok yang sesungguhnya bisa ia kerjakan sendiri. Hanya saja ia ingin menghargai teman-temannya.
***
Dan di sinilah mereka berempat. Duduk di ruang tamu. Sudah lebih dari 15 menit sampai di rumah Ovie tapi belum ada sama sekali pergerakan untuk mengerjakan tugas.
Ovie meletakan laptopnya di atas meja dan menyalakannya.
Dari arah dapur Bi Siti— asisten rumah tangga di rumah Ovie datang dan bertanya, "kalian mau disiapin minum apa?"
Genta yang sedang tiduran di sofa langsung melek, dan mengubah posisinya menjadi terduduk. "Apa aja boleh, Bi. Kalau bisa yang dingin, asem-asem seger. Kayak jus jeruk gitulah, Bi." Ujar Genta dengan kekehan diakhir.
"Samain aja, Bi."
"Yeh, ngikutin gue aja lo."
Laura melirik sinis dan menjambak rambut Genta.
"Iya, Bi, samain aja." Kini Ovie yang menentukan pilihannya.
Bi Siti mengangguk dan tersenyum maklum. "ASHIAP!" Ovie tidak tahu darimana bibinya itu tahu kata-kata tersebut. Mungkin diam-diam Bi siti nonton juga. Bi Siti pamit pergi dan meninggalkan mereka.
"Gaul juga bi Siti." Ujar Genta terheran-heran.
Dion mengambil alih laptop milik Ovie, ia mulai mengetik sesuatu di sana dengan begitu serius. Tak lama Bi Siti datang membawa jus jeruk yang berada di atas nampan. Dengan gerakan cepat, Genta mengambil salah satu gelas dan meminumnya hingga habis. Lalu mulutnya mengeluarkan bunyi bersendawa.
"Jorok banget, sih!" Apapun yang Genta lakukan, pasti akan selalu Laura beri komentar. Yah, pada dasarnya apapun yang Genta lakukan tidak akan terlewatkan di matanya.
Ovie bergerak mendekati Dion, dan melihat apa yang pria itu lakukan, karena sejujurnya Ovie pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Matanya melirik ke arah jam yang ada di dinding, sudah pukul 5. Artinya kakaknya sedikit lagi pulang. Ovie menggigit bibirnya tanda takut.
"Lo berdua kalau nggak bantuin, nggak usah berisik, bisa?" Ujar Dion tajam. Ucapannya sukses membuat Genta dan Laura terdiam, dan sama-sama menunduk.
1 jam berlalu, Genta sedang tiduran di sofa. Ovie menatap jari-jari Dion yang sedang mengetik. Sedangkan Laura memainkan ponsel. Dion sudah dapat menebak, ujungnya yang mengerjakan hanya ia.
"Selesai." Ujar Dion tiba-tiba. Ovie yang tadinya hampir tertidur langsung terkejut. Menatap tangan lincah Dion membuatnya ngantuk.
"Udah?"
“Udah, Vi." Balas Dion sambil merenggakan otot-otot tangannya karena pegal mengetik selama 1 jam.
"Gercep juga. Ya udah, yuk." Ujar Genta sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Tanpa mereka sadari, Genta sudah tidur selama setengah jam.
Ovie mengernyit, "mau pulang?"
Bi Siti datang membuat keempat anak muda itu menoleh. "Jangan pulang dulu. Nyonya Luna suruh kalian makan dulu."
"Iya, maksud gue tadi, yuk makan!" Laura sontak menjewer telinga Genta gemas.
Mereka semua termasuk bi Siti berjalan ke arah dapur. Belum sampai di dapur, suara mobil dari arah bawah, yang Ovie tahu siapa pengendaranya sontak panik. Jelas saja itu mobil Kevin. Apa jadinya jika kakaknya tau kalau ia membawa temannya ke rumah. Pasti kakaknya akan menuduh temannya main, bukan mengerjakan tugas.
Ovie duduk di samping Laura, dan berhadapan dengan Dion. Sampingnya masih kosong.
Bi Siti menyiapkan makanan, dan membawanya ke meja makan. Makanan yang tersedia nampak enak dan sangat menggungah selera untuk siapapun yang melihat. Lihat aja contohnya Genta yang udah ngeces duluan.
Suara pintu terbuka membuat Genta dan Ovie saling menatap cukup lama. Genta menatap Ovie karena ia ingin bertanya suara apa tadi, tapi mulutnya seakan terkunci untuk berkata, hingga hanya mengandalkan tatapan berharap Ovie mengerti maksud tatapannya.
Langkah kaki sepatu membuat keadaan semakin tegang. Dion terlihat santai mengambil secentong nasi, Laura meskipun takut tapi masih berusaha untuk terus mengunyah sesuatu yang ada didalam mulutnya.
"Kalian yang kemarin, kan?" Suara berat itu menyapa gendang telinga Ovie, Genta, Dion dan juga Laura. Bi Siti yang baru menyadari kehadiran Kevin langsung berjalan menghampiri Kevin dan mengambil tas kerja Kevin, lalu pergi meninggalkan dapur untuk menaruh tas itu ditempat yang srharusnya.
Menjadikan tempat itu hening, meski tidak sepenuhnya hening, karena masih ada suara sendok Dion yang berdenting. Nampaknya cowok itu benar-benar cuek terhadap segala sesuatu.
***
"Kalian yang kemarin, kan?" Suara berat itu menyapa gendang telinga Ovie, Genta, Dion dan juga Laura. Bi Siti yang baru menyadari kehadiran Kevin langsung berjalan menghampiri Kevin dan mengambil tas kerja Kevin, lalu pergi meninggalkan dapur untuk menaruh tas itu ditempat yang srharusnya.
Menjadikan tempat itu hening, meski tidak sepenuhnya hening, karena masih ada suara sendok Dion yang berdenting. Nampaknya cowok itu benar-benar cuek terhadap segala sesuatu.
Kevin bergabung bersama mereka. Ia menempatkan diri disamping Ovie yang sedang mengunyah nasi dan ayam. Ovie tak fokus, hingga menyebabkan ia yang mengambil sambal terlalu banyak. Membuat ia kepedasan dan terbatuk.
"Uhuk! Uhuk!"
Genta yang duduk di depan Ovie sontak reflek memberikan air putih dingin miliknya yang masih utuh. Kevin yang melihat itu langsung mengambil gelas Genta dan langsung meminumnya.
"Kok kak Kevin yang minum?" Tanya Laura. Ia sangat khawatir dengan kondisi Ovie, mata Ovie berair dan merah, begitu juga hidung dan wajah Ovie. Gadis itu sepertinya tersedak. Tangan Laura terus mengusap punggung Ovie lembut.
Kevin berjalan ke arah dispenser dan mengisi gelas itu dengan air yang hangat. Ia kembali berjalan mendekati Ovie sembari memberikan gelas tersebut.
Mata Kevin menatap Genta tajam, "Nggak denger tadi Ovie batuk-batuk? Malah dikasih air dingin," ucapnya. Genta melanjutkan makannnya meski sedikit kesal dengan sikap Kevin. Jika boleh jujur ia lebih baik pulang saja dan makan di kost'an meski dengan indomie. Genta ingin membalas perkataan Kevin, tapi ia memilih untuk sopan dengan orang yang lebih tua. Padahal alasan lainnya yang lebih tepat adalah ia takut.
Mereka melanjutkan makannya dengan tenang. Ovie pun juga sudah tidak apa-apa meski matanya masih merah. Dion selesai lebih dulu, setelah itu Laura dan Genta menyusul. Laura meminta izin kepada Ovie untuk pulang. Ovie menjawab dengan anggukan, niatnya ingin mengantar teman-temannya sampai gerbang tidak jadi karena saat ia bangkit dari duduknya, tangannya ditahan oleh Kevin. Ovie menoleh, namun yang ia dapat hanya tatapan datar kakaknya yang sedang makan.
Dion, Genta juga Laura meninggalkan dapur lebih dulu saat mendapati tatapan tajam dari Kevin.
"Temenin kakak di sini." Ucapan atau lebih tepatnya perintah dari Kevin. Ovie tak menolak, ia hanya diam. Tangannya terulur mengambil pisang yang memang sengaja tersedia ada di meja makan. Tak terasa 2 pisang sudah habis Ovie makan. Ia sampai tak menyadari jika kakaknya sudah selesai makan sejak tadi.
"Suka banget pisang, ya?"
Ovie kembali tersedak. Untungnya kini ia tersedak pisang, yang lembut dan juga manis.
"Iya." Jawabnya singkat. Tangan Ovie terulur mengambil tissue guna mengelap tangannya yang lengket.
"Matanya merah."
Ovie mengerjap. "Tapi nggak apa-apa kok."
"Makanya, makannya pelan-pelan. Ngapain juga ngambil sambelnya banyak-banyak tadi."
"Ma—" ucapan Ovie terpotong karena teriakan Maudy, saudaranya.
"Hi, my beloved sister and brother!" Suara yang terkesan heboh itu membuat Ovie tersenyum. Setidaknya suasana tidak akan secanggung tadi. Maudy memang paling bisa memeriahkan keadaan.
Maudy mencium pipi kakak laki-lakinya, juga mencium pipi Ovie. Kalau Ovie sih, mana berani cium pipi Kevin. Berdekatan seperti tadi saja rasanya ia ingin mempunyai kekuatan super untuk menghilang.
"Wah, masakan bibi emang paling top!" Kagum Maudy sambil melihat makanan yang terjejer rapih diatas meja. Ia mengambil posisi duduk di samping kanan Ovie yang kosong. Karena samping kiri Ovie sudah ada Kevin.
"Tadi gue lihat di bawah ada teman-teman lo, Vi. Tapi, cuman diam aja, katanya nungguin lo. Terus gue bilang pulang aja. Soalnya gue lihat teman lo yang cakep itu udah masang muka naber, kan kasian." Ujar Maudy yang blak-blakan.
"Siapa?" Tanya Ovie heran. Temannya yang cakep?
"Nggak tahu, nggak kenal. Pokoknya cowoknya cakep."
Ovie tidak perlu berpikir lagi, sudah pasti Dion. Temannya itu memang ganteng, pintar, apalagi sikap dinginnya yang bikin gemas. "Maksud kakak Dion? Iya sih, Dion gan-"
"Siapa?" Suara dari arah kiri membuat Ovie terkejut. Untungnya dia tidak latah. Bukan hanya Ovie yang kaget, Maudy yang sedang asik-asiknya menggigit tulang ayam juga ikut terkejut.
"Siapa yang ganteng?" Tanya Kevin, kini suaranya terdengar lebih tenang, namun tetap saja tatapannya tajam, membuat Ovie yang ada di sebelahnya takut. Kevin itu memang mempunyai aura menakutkan.
"Kak Kevin jangan ngagetin gitu." Ucap Maudy, lalu ia melanjutkan lagi makannya.
"Ovie ke kamar, ya." Ovie bangkit dan berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai 2. Lagipula, kalau kak Kevin masih mau duduk di ruang tamu, kan ada Maudy yang masih makan. Lagian untuk apa ditemenin, Kevin kan sudah besar. Tidak mungkin ia takut dengan mba kunti yang memang suka iseng di rumah mereka, kan?
Mba kunti memang ada di rumah besar ini. Tapi belum pernah ada yang melihat wujudnya. Jangan sampai, amit-amit. Meski katanya mba kunti yang tinggal di sini baik namun sangat iseng. Tapi tetap saja kan yang namanya hantu, dan mahluk abstrak itu menakutkan.
Beberapa kali Ovie pernah menjadi korban keisengan mba kunti. Seperti saat tidur ia merasakan rambut yang mengenai wajahnya, padahal saat itu rambutnya sedang menggunakan roll hair. Pernah juga jendela kamarnya diketuk-ketuk, padahal tidak ada ranting yang berada di dekat jendela.
Menyeramkan sih, tapi lebih seram kakaknya.