5. SPENDING TIME TOGETHER

1673 Kata
Kepala Glory menoleh kesana kemari mencari Richard yang kemungkinan besar ada di sekitarnya setelah mendengar kalimat perintah Richard. Matanya menyipit ketika melihat satu persatu mobil yang ada di sekitarnya tapi tak ada gunanya karena dia benar-benar tidak tahu mobil Richard itu yang mana. Nomor platnya berapa dia tidak tahu bahkan tidak mau tahu.a Jangankan nomor plat. Bentukan mobilnya kayak gimana pun dia tidak tahu. Hanya warna yang pasti dia tahu karena mobil itu terparkir hampir setiap hari di garasi di rumah mereka. "Apaan sih orang ini. Dia ini lagi ngerjain aku atau gimana sih?" gumam Glory dengan wajah yang kesal. Dia melihat jam di pergelangan tangannya dan waktu janjian yang dia tentukan sudah lewat lima menit. "Masa aku berdiri disini kayak orang b**o nggak ada kerjaan," lanjutnya seraya bersiap melangkah ke dalam cafe tanpa peduli perintah Richard. Baru berjalan sekitar dua meter menjauh dari motor, langkahnya berhenti ketika dia mendengar namanya di panggil. "Gloria!" Glory berdecak kesal karena orang itu benar-benar ada di sekitarnya. Dengan cepat dia mengambil ponsel dan hendak menghubungi Sam untuk membatalkan kencan mereka karena Richard ada disini. Glory tidak ingin wajah Sam dikenali oleh Richard karena bisa saja Richard membullynya di suatu tempat nanti. Belum sempat terhubung, Richard sudah berdiri di sampingnya dan langsung merangkul pundaknya. "Mau ngapain kamu disini?" bisik Richard dengan gigi terkatup. "Kencan?" "Nggak usah kepo urusan gue. Mind your bussines tuan muda Zachary," jawab Glory menirukan panggilan Richard di rumah utama. "Take off your hand from me," titah Glory tak kalah geram dengan Richard. Dia menggerak-gerakkan salah satu pundaknya agar tangan Richard terjatuh. "Better kamu batalin kencan kamu. Di dalam ada rekan bisnis Zachary, nenek dan mama kemungkinan akan datang juga untuk ikut meeting karena ini soal rumah sakit." Pret! Dia berbohong. Nenek dan mamanya tidak pernah lagi sibuk untuk mengurus ini itu semua. Mereka sudah mempercayakan semuanya pada Richard. Hanya akan hadir jika ada undangan dari rekan bisnis mereka yang sedang hajatan atau sedang melakukan perayaan tentang suatu hal. "Karena kamu udah disini, kamu ikut aku aja sekalian, ck!" ajak Richard sedikit memaksa tapi berdecak kesal ketika melihat pakaian Glory. "Ogah, aku pulang aja," ujar Glory seraya menyingkirkan tangan Richard yang setia bertengger di pundaknya. "Aku nggak ngerti soal bisnis. Bisa mati kebosanan dengerin kalian ngomongin ini itu," lanjutnya seraya berbalik sambil merogoh tas untuk mengambil kunci motor. Tangan Richard yang panjang segera menarik lengan Glory dan mengambil kunci motor yang baru saja di pegang Glory. "Ikut aku. Ini nggak akan lama." Tanpa bisa berkata apa-apa selain menghela dengan berat, Glory menyimpan ponsel di tangannya dan menurut pada Richard. Dia berjalan seirama dengan Richard yang merangkulnya menuju pintu masuk cafe. Di ujung sana, seseorang di atas motor segera memutar arah setelah panggilannya tidak di jawab. Ya, dia adalah Sam. Orang yang janjian dengan Glory. Sam melihat Glory di hampiri oleh seorang pria yang dia yakini adalah suami dari kekasihnya itu karena dari penampilannya sudah jelas. Seorang pengusaha kaya raya. Dia mencoba menghubungi Glory tapi baru dering pertama langsung di putus sendiri olehnya. Dia tidak mungkin mempersulit hidup Glory jika terus memaksa kekasihnya itu untuk kencan. Hatinya perih ketika melihat gadis yang begitu dia cintai di rangkul oleh pria itu dan di giring ke dalam cafe. "Seharusnya kita yang ada disana. Kenapa dia datang dan mengganggu kita?" gumamnya di balik helem full facenya. Sungguh ironis perjalanan cinta mereka. Dua insan yang saling mencintai harus berpisah hanya karena keegoisan orang tua yang memaksa menikahkan anaknya dengan seseorang yang tidak di cintai bahkan tidak di kenal. Namun karena kekuatan cinta mereka, mereka di pertemukan dan menjalin kisah cinta yang putus walau harus bersembunyi karena hubungan itu sudah tidak pantas lagi. Sam sadar, walau awalnya dia adalah orang pertama sekarang dia menjadi orang ketiga. Orang ketiga yang harus sadar posisi dan harus selalu mengalah karena jika suatu saat dia di kenali, maka akan beda jalan cerita hidupnya. Biasalah, orang misquin harta akan selalu kalah oleh orang berharta, berkuasa dan bertahta. **** Pura-pura menjadi istri yang sangat dicintai adalah peran yang akhir-akhir ini sudah mulai di dalami oleh Glory. Walau dalam hati dia mengumpat karena harus terjebak di kumpulan para orang-orang ber-IQ tinggi yang membuatnya mengantuk. "Anjirlah, mereka lagi ngomongin apa sih. Lama bener," gumamnya dengan sangat pelan. Dia hampir mati kebosanan duduk diam dan mendengar kata-kata baru yang tidak dia mengerti apa. Ponselnya hampir kehabisan daya dan terpaksa dia menghentikan kegiatannya scroll scroll apa saja yang masuk di berandanya. Mau pulang duluan takut di cincang Richard nanti karena di anggap sudah mempermalukan Richard di depan rekan bisnis. Tapi yang sedari tadi di tunggu oleh Glory adalah kedatangan nenek dan mama mertuanya yang kata Richard akan menyusul. Jika dua wanita itu datang, mulut Glory mungkin akan terbuka sesekali, jadinya tidak akan berasa basi karena kelamaan mingkem kayak sekarang. "Aku mau ke toilet sebentar," ujar Glory pelan saat dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Richard. Ada tatapan tidak percaya di mata Richard. Dia khawatir Glory akan kabur darinya. "Mau aku antar?" tawarnya dengan nada yang tenang. "Aku bisa sendiri. Kayak anak kecil aja, di temenin," jawab Glory dengan pelan. "Tenang saja, aku nggak akan kabur kalau itu yang kamu khawatirkan," lanjut Glory ketika dia mengangkat bokongnya. Suaranya sangat pelan dan yakin orang di sekitar mereka tidak akan dengar termasuk Nita si melon jumbo. Dalam hati Glory mengumpat jijik melihat tingkah Richard yang sok romantis dan sok perhatian. Glory berdiri tapi tangan Richard langsung menahan tasnya sebagai isyarat agar di tinggal disana aja. Matanya siap membelah tubuh Richard tapi wajah Richard sangat tenang saat satu tangannya memegang erat ujung tas Glory. Tak ingin berdebat karena itu akan menguras tenaganya dan juga menjaga harga diri di depan rekan Richard, Glory manut saja yang penting dia bisa mengangkat bokongnya dari kursi panas itu. Setelah kepergian Glory, rekannya sempat tersenyum dan memuji perhatian Richard pada istrinya. "Don't worry, dia hanya ke toilet, Bro." Bahkan ada satu pujian yang membuat Richard hampir mual tapi ada rasa marah juga karena Glory di puji. "Cantiknya nggak biasa. Even wearing jeans dan kaos oblong tapi auranya terpancar. You lucky, bro!" Richard tersenyum walau tangannya terkepal karena tadi sempat melihat mata rekannya itu mengikuti langkah Glory. Mana Glory pake baju yang nampak kulit perutnya lagi. Kan bisa ngundang birahi. "Awas saja, nanti di rumah akan aku robek-robek baju kamu!" batin Richard. Dia menyesal karena tidak kepikiran untuk memberikan jasnya tadi pada Glory. "Sorry ya, aku lupa ngabarin dia meeting kita di undur hari ini. Aku mengajaknya tadi pagi spending time ngopi-ngopi santai," jawab Richard segera mencari alasan apalagi rekannya itu menyinggung soal pakaian Glory. "Kebetulan dia memilih tempat ini juga," lanjut Richard. "Tidak apa-apa. Ini juga tidak meeting formal. Aku jadi merasa bersalah karena minta meetingnya di undur jadinya kencan kalian batal." Richard terkekeh pelan lalu menyeruput kopinya sekali. "No need to feel guilty. Masih banyak hari lain untuk kencan." Nita yang berada disana dan juga asisten si arsitektur itu hanya diam mendengar obrolan bos mereka. Nita diam-diam setuju dengan pernyataan si arsitektur soal aura Glory. Benar kalau dari wajah dia bukan gadis yang tergolong cantik bangat. Tapi cantiknya sederhana dan tidak banyak yang punya. Auranya cerah. Nita juga memuji otak Richard yang lancar mencari alasan tentang keberadaan Glory. Glory kembali dari toilet dan pembicaraan tentang bisnis masih berlanjut. Dia bersandar melipat tangan di d**a dan berpura-pura ikut mendengar padahal otaknya benar-benar menolak setiap kata yang mengaung di sekitarnya. Sesekali dia menatap Nita yang juga sibuk mencatat dan bertanya sesekali. "Sangat mendalami peran," batin Glory. Jauh di lubuk hatinya dia memuji kepiawaian Nita. Terlihat smart karena bosa nyambung dengan apa yang di bicarakan. Tangannya juga sangat lincah mencatat semua yang di kira perlu. Dia juga terlihat fashionable. "Tidak salah memang dia memilih jadi sekretaris. Hanya satu salahnya, kenapa dia mau jadi sexkretaris." Glory terperanjat ketikadia merasakan sentuhan di pinggangnya. Dia mengerutkan kening karena melihat Richard yang lancang. "Bagaimana kalau kita tutup dengan makan malam saja. Disini atau ada rekomendasi mungkin?" ujar Richard dengan ramah dan tulus. Mendengar itu, angin segar menerpa diri Glory karena pertemuan sudah di penghujung. Dia mengangguk menyetujui ajakan Richard. "Maaf Bro, kami masih ada agenda satu lagi. Mungkin lain kali saja. Silahkan lanjutkan acara kencannya," jawabnya ramah. "Maaf ya Bu, kami mencuri waktu kencannya." Glory mengangguk saja tidak peduli isi dari kalimat itu. Arsitektur itu berkemas dan menyalami mereka bertiga lalu bergegas pergi. "Pak, nanti akan saya rapikan dan kirim notulennya," ujar Nita menutp laptopnya. "Saya pamit pulang, Pak." "Kita makan malam dulu." Glory mencebikkan bibirnya, "Kencan bertiga gitu?" batinnya. "Saya belum lapar, Pak. Bapak sama Ibu silahlan lanjutkan." "Sadar diri rupanya," batin Glory. "Kalau begitu, biar kamu di antar saja sementara kami makan malam." Nita terlihat berpikir sebentar lalu menatap Glory meminta persetujuan. Glory tidak menanggapi apapun karena menurutnya itu urusan Richard dan Nita. Sementara dirinya, dia punya motor. "Saya naik taksi saja, Pak." Selepas kepergian Nita, Glory mengulurkan tangannya. "Berikan!" Richard mengerutkan kening lalu lanjut memilih menu yang ada di daftar. Pria itu mengangkat tangan memanggil waiters dan langsung memesan makanan untuk mereka berdua. "Kamu ada tambahan?" Glory mencebik kemudian menggeleng. "Aku minta kunci motor malah pesan makanan. Aku nggak makan." "Nanti kita pulang bareng. Sebentar lagi orangku datang ambil motor jelekmu." "b*****t!" gumam Glory. Dia melipat tangan didada dengan sombong berkata, "jelek begitu tapi yang jelas pake uang hasil keringat sendiri. Nggak warisan orang tua." "Nggak usah menyindir. Mobilku juga aku beli pake uangku sendiri." "Hallah! Uang sendiri memang, tapi dari hasil perusahaan." "Jangan kaget, perusahaanku sendiri hampir imbang dengan perusahan keluargaku. Suatu saat kamu pasti kaget mungkin pingsan kalau mengetahui semua keran uangku." "Ya, semoga aja. Itu bagus juga biar kamu bisa foya-foya dan pake uang kamu sendiri untuk semua kegiatan harammu." Richard mendongak dan terkekeh ringan. Entah mengapa, menurutnya Glory sedang menaruh sedikit rasa cemburu terhadap Nita. "Gloria!" Tatapan keduanya bertemu, "Kalau kamu masih miskin, jangan sombong. Kamu tahu kenapa aku menurut menikahimu?" Pembahasan mereka sudah mulai masuk ke topik sensitif yang bisa saling melukai. "Bukan karena takut miskin dan di buang dari keluarga Zachary. Aku hanya tidak rela semua kerja kerasku di nikmati oleh orang lain yang mungkin menggantikanku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN