4. TUNGGU AKU DISANA!

1216 Kata
Richard mengelus liontin kunci yang ada di lehernya. "Kamu tahu Nit, dulu saat oma memberikan kalung ini dan bilang ini kunci harta karun, aku sangat senang," ujar Richard yang sudah kembali dari ingatan beberapa bulan lalu. "Aku sangat mencintai uang, saham dan harta lainnya. Aku pikir ini adalah kunci gembok rahasia opaku. Aku mengelusnya setiap malam, menciumnya bahkan bicara padanya agar kami saling setia selamanya. Aku sangat menjaganya," lanjutnya seraya mendengus. Mengingat semua yang baru saja dia katakan membuatnya mual dan hendak memuntahkan semua isi perutnya. Setelah mengetahui apa di balik liontin itu. "Hahaha, ternyata itu jebakan ya," ujar Nita seraya tertawa. "Ya, gemboknya ternyata si perempuan jelek itu. Ck, mengingat wajahnya saja membuat aku naik darah," jawab Richard seraya meninju udara dengan wajah gemesnya. "Awas loh, gemes-gemes ternyata cinta," ujar Nita memperingatkan sambil dia melanjutkan pekerjaan memilah-milah dokumen yang baru saja di tanda tangani oleh bosnya -Richard. Dia adalah wanita profesional. Bekerja sebagai sekretaris Richard di siang hari dan malam hari sesekali menghangatkan ranjang Richard. Bukan bagian dari pekerjaannya tapi karena dia suka melakukannya. Dan dari sana dia bisa menjadi wanita kaya yang bisa memenuhi segala keinginan duniawinya. Awalnya dia mengira dengan menyerahkan diri secara suka rela bisa membuat Richard luluh dan menatapnya. Mengangkatnya dari sekretaris menjadi perempuan istimewa seperti yang sering dia baca di novel romantis atau di drama-drama tapi semua itu tidak semudah yang dia bayangkan. Walau Richard tidak memiliki kekasih sepertinya pria itu sangat sulit membuka hati pada wanita. Pria itu lebih mencintai pekerjaan dari pada wanita. Sesekali jika pikirannya sedang kalut, dia pergi ke bar, mabuk dan berakhir dengan wanita di atas ranjang. Akhirnya Nita menyerah mengharapkan Richard menjadi kekasihnya dan dia lebih memilih menjadi wanita yang di cari saat Richard butuh. Dia suka ketika bahunya sangat di butuhkan oleh Richard. Dia suka ketika dirinya menjadi penghangat ranjang Richard. Sempat dia merasa bangga ketika Richard tetap memilih tidur dengannya walaupun sudah punya istri. Namun tak berselang lama, dia tahu cerita yang sebenarnya dan mulai kepo dengan istri bosnya itu. Bukan perempuan miskin yang norak dan gila harta. Perempuan itu bahkan tidak tertarik sedikitpun pada Richard dan membiarkan Richard berkelana dari satu wanita ke wanita lain. Dan baru-baru ini terungkap satu fakta bahwa Glory sangat ingin di ceraikan. Pantas saja dia tidak marah, tidak cemburu ketika Richard tidak pulang ke rumah hingga bermalam-malam. "Amit-amit!" jawab Richard seraya mengetuk kepala dan meja di depannya beberapa kali. "Jangan sampai, Nit. Aku tidak mau tertular hawa kemiskinan dan kejelekan darinya. Cukup dialah yang miskin dan jelek." Nita hanya menggeleng sambil tersenyum dalam diam karena dia sudah bisa mencium sedikit bau-bau 'rasa penasaran dan sedikit perhatian' pada diri Richard terhadap Glory. Buktinya, pria itu resah ketika Glory terang-terangan minta cerai. Dia marah tanpa sebab. Pernikahan keduanya sudah berlangsung beberapa bulan dan akhir-akhir ini Richard sering mengeluh tentang sifat Glory yang seperti berkuasa di rumah mereka. Glory yang tidak mau menurutinya dan benar-benar seperti hidup sendirian walaupun ada Richard disana. Satu hal yang Richard lupa, isi perjanjian mereka. Glory sangat patuh pada isi perjanjian itu. Nita setuju dengan cerita Richard karena terakhir kali ketika mereka kepergok Glory sedang b******u, Nita bisa melihat bahwa tidak ada sedikit pun rasa cemburu pada Glory kecuali kemarahan dan jijik. Gadis itu bahkan berani menantang Richard, melukai harga diri Richard. Makanya, sejak saat itu, Nita selalu berusaha menghindari Glory. Malu. Ketika dia mendampingi Richard sidak dadakan atau berkunjung rutin ke rumah sakit tempat Glory bekerja, Nita selalu menunduk ketika mereka akan melewati pos-pos perawat agar tidak terlihat oleh Glory. Dia juga menolak singgah ketika pulang bersama Richard walaupun beberapa kali di ajal Richard sekedar minum bersama. Bahkan pernah menolak membahas hasil meeting di rumah karena mereka sudah kesorean selesai meeting. Melihat Richard yang mulai terpesona pada Glory tapi belum sadar sepenuhnya, ada penyesalan yang mendalam menusuk hati Nita karena waktu itu tidak menolak Richard saat mencumbunya di atas sofa. Bagaimana jika nanti pasangan itu benar-benar berdamai pada keadaan dan saling menerima? Apakah Nita sangup ketika bertatap mata langsung dengan Glory? ***** "Undangan dari Leonor group tempo hari, kamu udah kasih tahu Glory?" tanya Nita sambil berusaha memiringkan badannya saat menoleh ke kursi belakang dimana Richard duduk. Keduanya sedang berada di mobil menuju sebuah cafe tempat pertemuan yang di sepakati dengan klien mereka. Kali ini, Richard ingin memperluas rumah sakitnya. Ingin membuat satu gedung khusus untuk ibu dan anak. Maka klien yang akan dia temui kali ini adalah seorang arsitek yang akan merancang bangunan tersebut. "Belum. Kapan itu?" "Dua hari lagi." "Harus ikut? Pasti nggak mau dia itu. Dia pasti banyak alasan seperti biasa." "Usahakan dia ikut. Udah keseringan nggak ikut ntar keluarga kamu curiga," ujar Nita menyarankan. "Harus di kerasin dikit. Paksa aja!" lanjut Nita. Alasan klise yang selalu Glory ucapkan adalah, dinas malam, dinas dadakan, nggak enak badan, senggugut. Richard juga tidak begitu ngotot untuk mengajak Glory sehingga lolos-lolos saja dari acara yang sebenarnya wajib di ikuti sebagai pendamping Richard. Nita selalu ada dan siap setiap kali Richard mengajaknya. Tapi benar kata Nita, sudah terlalu sering. Bisa-bisa sebentar lagi mereka mendapat panggilan dari rumah utama dan akan di interogasi. Tapi, memaksa Glory untuk ikut kali ini? Richard tidak menjawab karena dia ragu bisa mengajak Glory secara sukarela atau pasrah. Atau haruskah dia menggunakan neneknya sebagai senjata? Nama neneknya pasti salah satu nama yang tidak ingin di dengar oleh Glory karena walaupun setiap kali mereka bertemu, Glory tidak pernah terlalu dekat pada nenek Richard itu. Dia hanya basa basi di awal perjumpaan selanjutnya akan memilih diam dan menjawab jika ditanya. Semua orang tahu kalau Glory belum bersedia masuk di lingkungan keluarga Zachary tapi semuanya berpura-pura tidak tahu saja. Dan menyerahkan semuanya pada Richard sebagai suami. Mereka percaya bahwa Richard bisa mengambil hati Glory dan mengarahkannya perlahan untuk bisa bergabung dan mengakrabkan diri dengan keluarga Zachary. Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di tujuan. Dan ketika hendak turun, tak sengaja Nita melihat Glory ada di tempat itu juga tepatnya sedang memarkirkan sepeda motornya. Gadis itu sudah tidak mengenakan seragam kerjanya lagi dan penampilannya ternyata elegan walau hanya dengan jeans yang pudar dan kaos ngepas badan sedikit crop. "Ada Glory," ujar Nita memberitahu. Seketika mata Richard mencari-cari ke segala arah untuk menemukan orang yang baru saja di info ada di sekitarnya. "Sedang apa dia disini? Mau kencan lagi? Ck!" gumamnya kurang terima. Dia mengingat rekan yang akan dijumpainya adalah adalah anak dari rekan bisnisnya yang sudah pernah bertemu dengan Glory di suatu acara. Richard khawatir kalau Glory ada disini untuk berkencan dan keadaan rumah tangga mereka akan di ketahui oleh rekan kerjanya itu. Segera dia mengambil ponsel dan mencari nama Glory di kontaknya. Di ujung sana, Glory merogoh tote bagnya dan mengambil ponselnya yang bergetar panjang. Dia menghela nafasnya karena melihat nama pemanggil. Tanpa pikir panjang, dia langsung menekan tombol merah untuk menolak panggilan Richard. "Ngapain sih nelpon-nelpon," gumamnya seraya melihat ke sekeliling karena tiba-tiba dia ingat ada kemungkinan dia di ikuti atau di awasi oleh seseorang suruhan Richard. Glory semakin kesal karena ponselnya bergetar lagi dan nama pemanggil yang sama. Dia dengan kesal menggeser tombol hijau, "Apa?" Richard sampai menjauhkan ponselnya karena suara cempreng Glory yang langsung menyepa gendang telinganya. Sangat tidak sopan! "Hallo!" panggil Glory karena tidak ada jawaban dari Richard. Glory hendak menutup panggilan karena mengira dia sedang di permainkan sebelum suara Richard terdengar. "Jangan kemana-mana. Tunggu aku disana."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN