Di depan ruang operasi, Dylan gelisah. Tangannya gemetar dan jantungnya terus berpacu cepat. Dylan begitu cemas dengan kondisi Brighita. Beberapa jam sebelum kecelakaan. Tatapan Dylan masih sedatar tadi saat terakhir kali Brighita pergi meninggalkan kantornya. Ia tidak bermaksud mengatakan itu kepadanya. Hanya saja, ingatan tentang Brighita yang akan mencoba melupakannya dan membuka hati untuk pria lain, membuat Dylan memanas. Dan buruknya, Dylan tidak mampu mengontrol emosinya yang meledak-ledak itu. Dalam hati kecilnya, Dylan bahagia mengetahui Brighita mengandung anaknya, darah dagingnya. Dylan menyesal telah berkata seburuk itu pada Brighita. Dylan menyesal. Sungguh. "Sir, aku.." ucapan Lucy terhenti saat Dylan menatapnya tajam, setajam pedang yang mampu menusuknya. "Pergi." Luc

