"Huek." Brighita langsung melepas pagutan mereka. Lalu kedua tangannya membekap mulutnya yang serasa akan muntah. "Kau kenapa?" tanya Devano, khawatir. Merasa cemas melihat wajah Brighita yang sekarang berubah pucat pasi. Brighita berlari menuju kamar mandi saat perutnya kembali berontak untuk mengeluarkan isinya. Di dalam kamar mandi, Brighita terus memuntuhkan seluruh isinya hingga tak tersisa. Anehnya, perutnya sama sekali tak membaik. Tubuhnya lemas. Brighita ambruk di lantai. Air matanya kembali keluar. Apa dia hamil? Setelah merasa kondisinya mulai membaik. Brighita menyusul Devano yang menunggunya di luar dengan perasaan cemas. "Kau tidak papa?" tanya Devano, memegang kedua bahu Brighita. Brighita yang sedari tadi menunduk menunjukkan wajah penyesalannya. Entah untuk apa, ya

