Di dalam ruangannya itu, Dylan memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar pada kursi kebesarannya. Lagi dan lagi Dylan terus menghela nafas beratnya. Dia tidak tau apa yang merasukinya semalam hingga mampu berbuat sekeji itu kepada Brighita. Dylan mengakui bahwa ia cemburu melihat kedekatan Brighita dengan pria ingusan itu. Terkadang Dylan ingin membunuh pria itu saat mampu membuat Brighita-nya tersenyum. Karena hanya dirinya lah yang boleh membuat Brighita tersenyum. Aarghhhh!! God. Dylan menggeram frustasi. Sepenuhnya ia sadar bahwa Brighita telah mengisi setengah dari hidupnya. Mau tidak mau Dylan harus mengatakan bahwa ia telah menyukai Brighita. Entah kapan datangnya rasa itu, tapi yang jelas Dylan telah merasakan yang namanya cinta. Sekarang apa yang harus di lakukannya? "P

