Chapter 8

2474 Kata
Dylan terus bermain dengan Jessi yang terus mendesah di bawahnya. Lain dengan apa yang terjadi, pikiran Dylan justru berputar tentang Brighita. Suaranya, desahannya, erangannya, semua tentang Brighita. Mendadak gairahnya hilang. Ia lantas berdiri dan mendudukkan dirinya secara kasar.Ada apa dengan dirinya? Kenapa Brighita terus bermunculan dalam pikirannya. Oh tidak. Dylan tidak mungkin jatuh cinta dengan wanita itu. Ia menikahi Brighita bukan karena mencintainya. Lalu kenapa hanya ada Brighita yang terus berputar dalam pikirannya. Dylan mengusap frustasi wajahnya. Jessi yang merasa terabaikan, mencoba untuk merayu Dylan kembali. Duduk di pangkuan pria itu dengan kedua tangannya yang melingkari leher Dylan. Mencoba untuk membangkitkan kembali gairah Dylan. Dylan hanya diam menerima semua perlakuan Jessi yang terus menciumi tengkuknya. Dylan juga penasaran, apakah cara Jessi itu mampu untuk membangkitkan gairahnya. Oh s**t! Semenit berlangsung, bukannya merasa b*******h, Dylan justru merasa jijik. Langsung saja Dylan menjauhkan tubuh Jessi dari dirinya. "Ada apa? Biasanya kamu akan langsung b*******h?" tanya Jessi. "Maaf Jessi. Aku sedang tidak berselera melakukannya." Dylan melangkah meninggalkan kamar hotel. Jessi berteriak kesal akibat penolakan Dylan. Detikan jam terus berjalan tanpa ada henti. Dan itu membuat Brighita terus memandanginya. Ia bukanlah sedang memantau waktu. Dia hanya sedang menunggu kepulangan Dylan. Sudah lebih dari tiga jam sejak kepergian Dylan, Brighita hanya terus duduk di mini bar sambil memandangi jam dinding. Apartemen milik Dylan sangat luas. Bahkan terdapat mini bar yang bersatu dengan dapur, serta ruang tamu dan juga ruang makan yang sangat luas. Dan Dylan hanya memiliki satu kamar tidur saja. Dalam ruang yang cukup besar itu, Brighita merasa kesepian. Ia terus berdoa semoga Dylan tidak melakukan hal semenjijikkan itu dengan wanita manapun. Dylan hanya boleh melakukan itu dengannya. Kenapa tiba-tiba Brighita bersikap possesif seperti ini? Ya. Brighita akui, ia mulai merasa menyukai Dylan. Hanya menyukai belum mencintai. Tapi tetap saja, dia masih tidak terima saat Dylan dekat dengan wanita manapun. Lagian Brighita kan istrinya. Jadi, sudah seharusnya ia cemburu. Benarkan? Ting! Brighita berlari secepat kilat saat mengetahui ada yang memencet belnya. Harapannya untuk melihat Dylan sirna karena bukan Dylan yang melakukan itu. "Apa benar ini apartemen milik tuan Jordan." tanya pria yang merupakan seorang cleaning service. "Iya. Ada apa?" "Tuan Dylan menyuruh saya untuk memperbaiki salah satu pipa air yang rusak." Brighita mengangguk lalu memberikan jalan untuk pria itu masuk. Selanjutnya Brighita hanya menghela nafas kasar. "Kenapa? Apa kau sedang menungguku?" Brighita hampir terlonjak saat tiba-tiba Dylan berada di hadapannya. Tidak langsung menjawab, Brighita menengok ke belakang pria itu. Apakah wanita itu ikut bersama Dylan atau tidak. Dylan yang sedari tadi mengamati Brighita menjawab rasa penasaran Brighita. "Dia tidak ada. Cepat masuk. Atau kau ingin keluar?" ketus Dylan. Brighita menghentak-hentakkan kakinya. Bukankah dia yang seharusnya marah? Brighita lantas berbalik dan langsung berhadapan dengan tubuh tegap Dylan. Aroma pinus langsung menguar ke indra penciumannya. Hampir saja Brighita lupa akan niat awalnya. Karena saking terhanyutnya dengan aroma pria itu. "Apa kau melakukannya?" tanya Brighita dengan mata bulatnya. "Tentu saja." bohong Dylan. Dan kebohongannya itu telah berhasil melukai perasaan Brighita. Brighita merasa panas pada area matanya. Ia yakin sebentar lagi pasti akan ada aliran bening dari sudut matanya. Tak ingin terlihat bodoh, Brighita lebih memilih berjalan meninggalkan Dylan menuju ke kamar. Melihat adanya perbedaan dalam sikap Brighita barusan, membuat Dylan betanya-tanya apa dia mengucapkan kata yang salah. Dylan menarik lengan Brighita. Dylan mendudukkan tubuhnya pada tepian ranjang, dan membuat Brighita berdiri untuk menghadapnya. Kedua kaki Dylan menjepit tubuh Brighita agar tidak bisa kemana-mana. Brighita segera mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Dylan. Namun yang dilakukan Dylan justru menyingkirkan tangannya. Dan langsung saja Dylan berhadapan dengan muka merah Brighita. Itu justru semakin membuat Brighita tampak menyedihkan. Karena hanya dirinya saja yang tertarik dengan pria itu. Begitu bodohnya Brighita karena berharap pria yang ada di hadapannya ini menikahinya karena ia mencintai Brighita. "Sir. Apa alasanmu menikahiku. Apa kau menikahiku hanya semata-mata karena bisnis?" Bibir Dylan terkatup rapat. Bungkamnya Dylan telah membenarkan apa yang di katakannya. Brighita terisak dalam hatinya. "Bukan hanya karena itu saja. Itu semua terjadi karena aku tidak mampu untuk melanggar prinsip ku." Oh ya. Lana sering mengatakan prinsip Dylan. Yang menurut Brighita tidak masuk akal itu. Brighita ingin menghentikan aliran air matanya. Itu justru malah semakin membuat Brighita terlihat menyedihkan. Tapi, air matanya sama sekali tidak ingin berhenti. Pelan tapi pasti. Dylan menarik tengkuk Brighita dan mendaratkan ciuman di bibir Brighita. Seketika itupula, Brighita terduduk di pangkuan Dylan. Dengan air mata yang telah mengalir deras. Mereka saling merasakan satu sama lain. Begitu juga dengan Brighita. Meski air matanya terus mengalir, ia tetap saja mendekap tubuh Dylan dengan erat. Semua itu menyadarkan Brighita bahwa ia telah jatuh dalam pesona seorang Dylan. Ia jatuh cinta. Parahnya ia jatuh cinta pada suaminya yang tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Rasa apa yang dimilikinya untuk Brighita saat ini tidak terlalu penting bagi Dylan. Satu hal yang pasti, ia ingin terus membawa Brighita ke dalam dekapannya. Dylan menghentikan ciumannya saat merasakan adanya pergerakan dari belakang Brighita. Dylan memeluk tubuh Brighita sembari menatap was-was pada area kamarnya. "Apa ada orang yang berkunjung?" bisik Dylan. "Bukankah kau menyuruh seseorang untuk memperbaiki pipa yang rusak." jawab Brighita seadanya. "s**t!" umpat Dylan. Kepulan asap mulai bergerak masuk ke dalam kamar. Brighita panik melihat adanya asap di kamar mereka. "Apa yang terjadi?" Dylan berjalan mundur secara perlahan. Tak lupa ia menggandeng tangan Brighita untuk mengikutinya. Hingga sampailah mereka pada jendela balkon. Dan detik berikutnya, Brighita merasakan dekapan Dylan serta tubuh mereka yang terhempas ke bawah. Brighita menjerit saat apa yang di lakukan Dylan justru melompat keluar gedung. Dan... BOOMMM!!!  Kamar yang mereka tempati telah mengeluarkan api berikut juga bunyi ledakan. "Haaahhhh...." Brighita mengatur nafasnya yang tak karuan setelah Dylan berhasil meraih pegangan pada salah satu pagar besi pada salah satu balkon. Satu tangan Dylan berpegangan pada pagar dan satunya lagi memeluk tubuh Brighita. Untunglah berat tubuh Brighita tidak terlalu berat. Bahkan bisa di katakan ringan oleh Dylan. Setelah berhasil menaikkan Brighita, Dylan mencoba untuk menaikkan tubuhnya dengan bantuan uluran tangan Brighita. Untunglah Dylan sudah banyak belajar dengan Clark. Sehingga dia tidak terlalu panik untuk menghadapi masalah seperti ini. Bahkan sebelumnya ia telah memperhitungkan akan ada banyak kejadian yang akan mengincar nyawanya suatu saat nanti. Tubuh Brighita bergetar hebat. Lututnya mati rasa. Untuk berdiripun ia harus menopang berat tubuhnya dengan berpegangan pada sisi dinding. "Tenanglah. Tidak akan terjadi apapun padamu." ucap Dylan untuk menenangkan wanita itu. Memang Dylan berjanji untuk melindungi Brighita. Karena bagaimanapun, Brighita tidak tau menahu tentang permasalahannya. Karena apartemen miliknya telah hancur, Dylan memutuskan untuk mengajak Brighita kesalah satu vila milik keluarga Virgoven. Tentunya setelah ia menyuruh Irham untuk membereskan semua masalah. Hanya keheningan yang terus menyelimuti. Pikiran Brighita masih kacau akibat kejadian tadi. Berada disisi Dylan tidaklah semudah bayangannya. Mencoba untuk memahami kehidupan pria itu sangat begitu sulit. Akibat melamun terlalu lama, tanpa ia sadari, mereka telah sampai di sebuah vila dengan pemandangan hutan yang rindang serta terdapat dermaga yang berada tepat di depan vila itu. Matanya disuguhi dengan pemandangan seindah ini, yang pastinya sangat menenangkan bagi Brighita. Kecupan hangat yang didapatnya dari Dylan membuat Brighita terkesiap. "Ayo turun. Kita akan tinggal disini sementara waktu." Brighita terus mengikuti langkah lebar Dylan dengan wajah tertunduk. Hingga tanpa ia sadari, Dylan berbalik dan membuat Brighita terhenti menabrak d**a bidang Dylan. Langsung saja Brighita mendongak untuk menatap wajah pria itu. "Masuklah ke kamar utama. Dan ambillah hadiah pernikahan untukmu." perkataan Dylan barusan sukses membuat mata Brighita melebar. Kesedihannya seakan terbuang kelaut. Tanpa pikir panjang Brighita segera berlari untuk menjemput hadiahnya itu. Tak ayal, tingkah Brighita barusan membuat Dylan terkikik geli. Mengalihkan perhatiannya dari Brighita, Dylan mulai menghubungi Clark. Cukup lama bagi Clark untuk menjawab telfon dari Dylan. Meski sedikit membuat Dylan kesal, tapi Dylan tetap sabar untuk memahami kesibukan Clark. "Clark. Delano mulai melancarkan aksinya. Meski dia belum melawanku secara langsung." Dylan memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celananya. Pemandangan yang asri tak menenangkan perasaan pria itu. Dylan justru semakin geram karena bayang-bayang musuh yang selalu menghantuinya. "Tenanglah. Jangan terlalu gegabah untuk membasmi pria bodoh itu. Kau perlu memancingnya. Jangan jadikan dirimu sebagai penjahatnya, jadikan dirimu sebagai pahlawannya." "Apa maksudmu?" "Kau perlu memberikan umpan untuk menangkap ikan. Sekarang dengarkan rencanaku baik-baik." Dylan tersenyum misterius kala mendengar apa yang telah di rencanakan saudaranya itu. Dan sekarang yang harus dilakukan Dylan adalah menikmati hari santainya bersama Brighita. Sesampainya Brighita dikamar utama, Brighita langsung mencari hadiah yang di maksud Dylan. Hingga matanya terjatuh pada sekotak berwarna merah yang tergeletak di atas kasur. Brighita mengambil kotak itu dan membukanya penuh semangat. "What!" pekik Brighita saat melihat isinya. Seriously? Celana dalam? "Kenapa kau memberiku celana dalam?" tanya Brighita saat Dylan telah sampai di sampingnya. "Aku tidak tau harus memberimu apa sebagai hadiah pernikahan. Lagian kau pasti akan membutuhkan celana dalam itu." Dylan menarik tubuh Brighita untuk berada di pangkuannya. Sejenak Brighita terkesiap dengan apa yang dilakukan Dylan. Ia mencoba untuk tetap santai. Meski jantungnya berdetak sangat cepat. "Tapi bagaimana kau bisa tau ukuranku?" "Aku sudah pernah melihat tubuhmu. Dan itu cukup membuatku mengetahui setiap ukuran dalam tubuhmu." Brighita kesal mendengarnya. "Tentu saja kau kan m***m!" "Dengar girl. Kau harus ber terimakasih pada si m***m ini. Karena ia telah memberimu kepuasan untuk yang pertama kalinya. Kau tidak akan puas jika kau melakukan yang pertama kali bukan dengan orang m***m sepertiku." "Tapi kau kan tidak harus memberiku celana dalam sebagai hadia? Kau bisa memberiku kalung atau cincin berlian! Kau kan kaya!" Tak mengadahkan ucapan Brighita, Dylan justru mengeratkan pelukannya pada pinggang Brighita. Mencium aroma tubuh Brighita yang berbau fruity. Dan itu sukses membuat Dylan b*******h terhadapnya. Endusan Dylan mulai naik kearah leher Brighita. Mengecupnya sebelum akhirnya mencium dan menyecap leher jenjangnnya. Dalam duduknya Brighita merasa tak nyaman dengan perlakuan Dylan. Bukan karena apa-apa, tapi cumbuan Dylan juga telah berhasil membangkitkan gairah Brighita. Merasa tak bisa untuk menahan birahinya, Dylan melepaskan ciumannya. Menatap wajah Brighita dengan mata yang berkilat akan gairah. Keduanya saling menatap cukup lama. "Aku menginginkannya." Deg. Suara rendah Dylan sudah berhasil membuat kewanitaan Brighita terasa lembab. Brighita hanya mengangguk menyanggupi permintaan Dylan barusan. Perlahan Dylan memberingkan Brighita. Setelah Brighita dirasa berada di posisi yang nyaman. Dylan melepas jaket denim miliknya dan menyisakan kaos putih. Ia memposisikan diri di atas Brighita dengan kedua tangan yang mengunci disisi kanan dan kiri gadis itu. Dylan meraup bibir ranum Brighita penuh penekanan. Tak hanya puas bermain dengan bibir gadis itu, Dylan menelusupkan lidahnya kedalam mulut Brighita. Ciuman dari Dylan membuat Brighita pusing bukan kepalang. Bagaimana tidak? Dylan terus menciumnya, tanpa celah sedikitpun. Melahap habis bibirnya seakan itu adalah kesempatan terakhirnya. Tangan Dylan yang bebas mulai memberikan remasan pada gundukan indah Brighita yang masih tersembunyi di balik baju. Kali ini Dylan tidak menggunakan tumpuan untuk menyokong berat tubuhnya, ia benar-benar menindih tubuh Brighita, membuat Brighita merasakan tekanan tubuh Dylan yang bisa dikatakan berat itu. "Ahhh.." Brighita mendesah saat Dylan mulai menjamah lehernya. Seperti biasa, Dylan selalu bisa membuat Brighita merasakan nikmat meski pria itu baru menjamah lehernya. Brighita yakin, jejak merah yang semalam di tinggalkan Dylan saja belum hilang, namun kali ini Brighita harus menerimanya lagi. "Apa yang kau perbuat padaku, Ta. Kenapa aku tidak bisa lepas dari tubuhmu." Brighita tak mampu memahami ucapan Dylan. Ia hanya terus memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Dylan. Sesekali Brighita mendesah merespon sentuhan pria itu. "Tubuhmu seakan memikatku untuk terus berada di dalammu." hembusan nafas yang di berikan Dylan pada daun telinga serta leher Brighita semakin membuatnya menginginkan pria itu. Ohhh.. Sekarang Brighita seperti w************n. Ia ingin Dylan cepat berada di dalamnya dan bergerak cepat menghunjamnya. Dylan berhenti menggrayangi tubuh Brighita. Mereka saling menatap cukup lama hingga Dylan bersuara rendah. "Katakan Ta. Apa kau juga menginginkanku." Ragu. Brighita takut saat ia mengatakan 'iya' Dylan akan menganggap Brighita sama seperti w************n. Dan itu tidak menutup kemungkinan bila Dylan akan mempermainkan Brighita. Namun akhirnya, Brighita menganggukkan kepalanya. Meski ia tidak mengucapkan kata, tapi perlakuannya yang melingkarkan tangannya pada leher Dylan cukup mewakili bahwa ia juga menginginkannya. Dylan tersenyum sarat akan kepuasan. Dylan mulai menggrayangi tubuh Brighita mulai dari bibir gadis itu, mengciumnya lama. Kedua tangannya mencoba untuk membuka baju Brighita. Setelah cukup lama Dylan mencari kancing baju Brighita yang tidak juga ia temukan. Dylan menggeram fristasi. Ekspresi Dylan yang menahan gairah sangat lucu di mata Brighita. Tingkah Dylan itu sedikit mengurangi rasa gugupnya. "s**t! Cepat lepaskan baju ini Ta. Atau aku akan merobek baju menyebalkan ini." Brighita terkekeh mendengar kekesalan Dylan. Tapi Brighita tetap melakukan printah Dylan itu. Dylan sedikit menjauhkan tubuhnya. Memberikan ruang untuk Brighita. Pergerakan Brighita yang membuka bajunya secara perlahan justru semakin membuat Dylan bernafsu untuk segera menyetubuhinya. Dylan merindukan dirinya berada di dalam Brighita yang rapat dan menjepit miliknya sangat erat. Ughhh... Sangat nikmat. Brighita geli sendiri melihat wajah penuh gairah milik Dylan. Setelah Brighita melepas semua pakiannya tanpa sisa, tak ingin membuang waktu Dylan kembali membaringkan Brighita. Bergerak pelan mengelus puncak p******a milik Brighita. "Mmmhhhffftt.." Brighita melenguh sembari mencengkram lengan Dylan. Ia ingin protes saat dirinya sudah telanjang bulat, dan malah pria itu masih lengkap menggunakan pakaiannya. Mulut Dylan yang menggulum payudaranya semakin membuat bagian inti Brighita basah. Terlebih lagi tangan Dylan yang justru mengelus area intimnya. Membuat Brighita terus mendesah penuh kenikmatan. "Kamu sudah basah sayang. Aku rasa kamu sudah siap untuk menerimaku." ucap Dylan yang mulai melepas pakaiannya. Tanpa menunggu jawaban dari Brighita, Dylan merenggangkan kedua kaki Brighita. Memposisikan dirinya berada diantara celah s**********n gadis itu. Perlahan Dylan memasukkan miliknya. Brighita masih saja rapat, dan saat miliknya sudah sepenuhnya masuk, kejantanan Dylan terasa hangat dilingkupi oleh milik Brighita. Terasa di remas dan di cengkram erat. Brighita yang merasa penuh di bawah sana, hanya bisa mendesah. Meski ini bukan yang pertama kalinya, tapi tetap terasa sakit. Setelah menunggu Brighita menyesuaikan ke hadiran dirinya di tubuhnya, Dylan mulai bergerak. Mengeluarkan miliknya dan menghentakkan dalam-dalam hingga ke titik terdalam Brighita. "Akhhh..." Brighita terus mencengkram kedua lengan Dylan yang berada disisi kanan dan kiri tubuhnya. Pergerakan Dylan semakin cepat. Tubuh Brighita terguncang akibat serangan Dylan yang bertubi-tubi. Malam bahkan belum muncul, dan mereka malah telah bergumul dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka. Dylan terus bergerak untuk terus mencapai titik kepuasannya. Oh s**t! Ini sungguh nikmat bagi Dylan. Bahkan ia tidak tau kapan ia akan bisa berhenti. Desahan demi desahan terus keluar dari bibir ranum Brighita. Dan karena desahan itulah Dylan semakin bersemangat untuk mencapai orgasmenya. Kepala Brighita menggeleng karena adegan panas mereka yang semakin menjadi. Kejantanan Dylan yang terus menghujamnya semakin membuat dirinya mendesah penuh kenikmatan. Terlebih saat Dylan menanamkan dirinya dalam-dalam. Ughh.... Brighita menyukainya. Ia bahkan telah keluar berkali-kali. "Ahhhhh.." desah keduanya saat mereka bersama-sama mencapi pelepasannya. Mereka sama-sama menghirup rakus oksigen yang ada di ruangan itu. Dylan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Brighita. Percintaannya dengan Brighita sungguh menguras semua energinya. Dan itu semua terbayar lunas dengan kepuasan yang ia dapat. Dan hanya akan bisa ia dapatkan dari wanita itu. Saking lelahnya mereka, sampai-sampai membuat mereka tertidur tanpa melepaskan kontak fisik mereka. Kedua insan itu sudah terlelap jauh ke alam mimpi dengan kesenangan mereka masing-masing. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN