Pukul 23:04 Brighita merasa mati rasa di kakinya. Ia mencoba mendorong tubuh berat Dylan yang tertidur di atas tubuhnya. Untunglah Dylan sedikit tersadar dan ikut menggulingkan tubuhnya ke samping. Aliran darah mengalir di kaki Brighita. Pelipisnya mengeryit merasakan kesenutan.
Tubuhnya terasa remuk saat akan di gerakan. Brighita mencolek-colek tubuh Dylan menggunakan jari telunjuknya.
"Jo. Aku ingin mandi. Jo bangun."
Dylan menggeram. "Iya sana cepat mandi." balas suara serak Dylan. Seakan tidak tau penderitaan yang dialami oleh Brighita.
"Aku tidak bisa berjalan, Jo. Ini semua salahmu!" kesal Brighita. Ia mengingat kejadian yang dilakukannya bersama Dylan. Pria itu bahkan bergerak sangat cepat dan membuatnya kelimpungan. Dylan memang benar-benar hebat untuk masalah ranjang.
"Ayo bangun Jo. Aku ingin membersihkan tubuhku." Brighita semakin mengguncang tubuh Dylan. Sedikit kesal karena Dylan tak meresponnya. Pria itu tetap asik terlelap.
"Baiklah jika kamu tidak mau menggendongku ke kamar mandi! Aku tidak akan memberimu jatah selama sebulan." ancam Brighita. Dan segera turun dari ranjang.
Brighita terpekik kala tubuhnya melayang tak menampak di lantai. Ia langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher Dylan yang tiba-tiba saja sudah terbangun dan membopong tubuhnya.
"Kita mandi bersama." Dylan mengulum senyumnya.
"Enggak. Aku hanya memintamu untuk mengantarku ke kamar mandi. Tidak untuk mengajakmu mandi bersama!" tolaknya.
"Kau sudah membangunkanku, Ta. Dan aku menginginkannya lagi sekarang."
"Hah?" Tata melongo tak percaya. Apa semalam masih belum cukup.
Dylan mendudukkan Brighita diatas kloset terlebih dahulu. Setelah ia memeriksa suhu air pada bhatup, barulah Dylan memindahkan Brighita. Memasukkan wanita itu berikut juga dirinya.
Suasana menjadi canggung sesaat setelah Dylan mengusap perut ratanya. Brighita menahan nafasnya karena gugup. Terlebih dengan posisi Dylan yang menyandarkan dagunya pada pundak Brighita. Memberikan rangsangan pada lehernya saat nafas Dylan berhembus mengenai permukaan kulit Brighita.
"Bernafaslah sayang." suara rendah Dylan yang menginstrupsi, menyadarkan Brighita dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Tawa rendah Dylan menimbulkan kemerahan di pipi Brighita. Ia malu. Bagaimana ia bisa gugup saat di hadapkan dengan suaminya sendiri.
"Katakan, apa kau mencintaiku?" tangan Dylan bergerak naik ke atas dan meremas p******a Brighita dengan lembut.
Sebisa mungkin Brighita menahan desahannya. Pikirannya tak bisa diajak berpikir secara normal. Hingga menjawab pertanyaan Dylan itu dengan jujur.
"Iyaahh"
Dylan tersenyum dan mulai melanjutkan aktivitasnya. Salah satu tangannya ia gerakkan menuju ke area kewanitaan Brighita. Mengusap lama permukaan itu. Bagian yang selalu menyiksa Dylan. Dan sialnya selalu memberikan kenikmatan baginya. Sudah lebih dari sepuluh kali ia berhubungan intim dengan banyak wanita, tapi Brighita seolah memberikan kenikmatan tersendiri. Yang semakin membuatnya kecanduan.
Kepala Brighita ia sandarkan pada d**a bidang Dylan yang memang berada tepat di belakangnya. Brighita mendesah tatkala Dylan semakin bermain di area intimnya.
Jari tengah Dylan ia benamkan ketitik terdalam yang bisa ia gapai di dalam kewanitaan Brighita.
"Ahhhh..." desahan yang sedari tadi di tahannya kini tak lagi bisa bertahan. Brighita mencengkram lengan Dylan kala pria itu mulai menggerakkan jarinya.
"Untuk menjadi wanitanya seorang Dylan Jordan, kau harus mematuhi beberapa ketentuan yang telah ku buat." suara rendah Dylan yang di barengi dengan permainan jarinya semakin membuat Brighita di atas awang-awang.
"Syarat pertama. Kau tidak boleh berhubungan dengan pria manapun."
"Tapi itu... Akhhhhh...." protesan Brighita terhenti saat Dylan yang mengeluarkan jari tengahnya dan kembali menusuk kewanitaannya dalam-dalam dengan sekali hentakan.
"Kedua. Jangan pernah membantahku."
"Akhhh.. Shhhhh..." desahan terus keluar dari bibir Brighita. Dylan terus mempercepat kocokan jarinya tanpa memerdulikan desahan nikmat Brighita.
Cairan bening yang membasahi jarinya semakin memudahkan dirinya untuk bermain disana. Mempercepat ritmenya, Dylan membantu Brighita agar segera memperoleh pelepasannya.
Dylan mencabut jarinya saat cairan milik Brighita telah membasahi jarinya. Wanita itu terengah kala memperoleh pelepasannya. Kepalanya pening akibat perlakuan Dylan barusan.
"Dan yang ketiga.." Dylan menarik dagu Brighita untuk mendongak menatapnya.
Mata hazel dan hitam pekat itu kembali bertemu. Mereka menatap satu sama lain dalam kurun waktu yang sedikit lama.
Dylan mendekatkan wajahnya. Dahi dan hidung mereka saling menempel. Dylan berucap tepat di atas bibir Brighita.
"Jika kamu melanggarnya, aku akan memberikan hukuman padamu."
Tepat kata terakhirnya, Dylan memberikan kecupan singkat di bibir Brighita. Brighita membatu mendengar ucapan dan perlakuan Dylan barusan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Melupakan Dylan saja sulit, dan sekarang pria itu malah justru seolah mengekangnya. Semakin sulit pula Brighita untuk mengenyahkan rasa cintanya kepada pria bastard yang memiliki rupa super duper tampan plus HOT ini.
Setelah permainan kecil yang dilakukan Dylan, akhirnya mereka benar-benar mandi. Dalam artian Dylan yang memandikan Brighita. Pria itu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Terbukti pada saat Dylan menyabuni p******a, serta area kewanitaan Brighita, Dylan menyabuni daerah itu lebih lama. Bahkan kadang Dylan mengulangnya sebanyak tiga kali, dengan alasan masih kurang bersih dan harus di bersihkan kembali. Sesekali Brighita juga mendesah saat Dylan dengan jailnya meremas payudaranya dan kadang memelintir putingnya.
Brighita terduduk di sisi ranjang sambil memperhatikan polah tingkah Dylan yang berjalan kesana kemari hanya mengenakan handuk yang mengikat pinggangnya. Bergerak ke arah lemari untuk mengambil pakaian milik Brighita yang sempat ia beli sebelum sampai di vila ini.
Dengan telaten Dylan memakaikan baju pada tubuh Brighita. Ia tersenyum puas saat celama dalam yang ia beli begitu pas di kenakan oleh wanita itu. Bahkan terlihat menggoda. Brighita sedikit risih, ia sudah bilang bisa mengenakan pakaiannya sendiri. Tapi Dylan tetap saja ngeyel dan malah akan mengancam mensetubuhi dirinya saat itu juga. Mau tidak mau Brighita menurut. Meski ia harus menahan nafas saat Dylan begitu dekat dengan dirinya. Oh sepertinya, rasa sukanya pada Dylan justru membuat Brighita merasa canggung sendiri.
Pandangan mata mereka bertemu saat Dylan telah selesai memakaikan pakaian terakhir di tubuh Brighita. Posisi Dylan yang berjongkok dan Brighita berada di hadapannya duduk di atas semakin membuat jantung Brighita berdegup kencang.
Dylan sialan! Jika seperti ini aku akan semakin mencintaimu bodoh. Geram Brighita dalam hati.
Untunglah, bunyi perut Brighita yang kelaparan menyelematkan dirinya agar berhenti menatap pria dengan mata hazel itu.
Kedua alis Dylan terangkat. "Lapar?"
Brighita mengangguk cepat. Wajahnya terlihat seperti anak kecil yang polos. Tangan Dylan terulur mengacak rambut Brighita karena gemas.
"Ayo." Brighita menerima uluran tangan Dylan dan mengekorinya di belakang.
Seketika Brighita teringat akan suatu hal. Menarik tangan pria itu, Brighita menghentikan langkahnya.
"Kau tidak ingin memakai pakaian terlebih dahulu?"
"Kenapa harus? Bukankah kau suka bila aku bertelanjang d**a? Aku sering menagkap basah dirimu melirik tubuhku ini." ungkap Dylan yang saat itu membuat warna kemerahan di wajah Brighita. Oh betapa malunya wanita itu.
Brighita merutuki dirinya yang tertangkap basah. Ia pikir Dylan tak akan pernah sadar dengan pandangannya. Dan ternyata ia salah. Mata hazel pria itu sungguh tajam ternyata, sekarang ia akan lebih berhati-hati.
"Bukan seperti itu. Aku hanya... Terkadang aku... Aku... Akhhh lupakan saja!" elak Brighita yang justru malah semakin membuat dirinya merasa terintimidasi akan tatapan Dylan.
Secepat kilat ia mencoba kabur meninggalkan Dylan.
Begitu sampai di dapur, Brighita menengok ke arah tangga atas. Dan ternyata pria itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kemunculannya. Hufft... Brighita dapat bernafas lega sekarang.
"Bodoh! Kau amat bodoh Ta. Oh iya, pastinya aku bodoh. Jika aku pintar mana mungkin aku mendapat peringkat 30 di antara 32 siswa di kelas. Oh hebat sekali." cerca Brighita pada dirinya sendiri.
Ia mulai menyibukkan dirinya pada peralatan dapur. Begitu ia lihat isi kulkas yang ternyata hanya ada telur mentah serta beberapa botol air putih membuatnya berpikir keras. Jika hanya memakan telur dadar tidak akan membuat perutnya kenyang. Mengingat pergumulannya dengan Dylan sangat panas itu membuatnya menguras tenaga ekstra.
Brighita memutuskan untuk mencari sesuatu pada lemari atas dapur. Semoga saja ia bisa menemukan sesuatu. Dan akhirnya, disana terdapat tiga bungkus mie rebus. Mungkin Brighita akan memasak semuanya dan menjadikan satu. Itu akan cukup untuk dirinya dan Dylan. Terlebih terdapat beberapa butir telur. Oh yeah sangat pas.
Dylan yang saat beberapa menit baru turun mencium bau aroma yang masih terasa asing baginya. Di hampirinya Brighita dan memeluk gadis itu dari belakang. Melingkarkan tangannya pada tubuh mungil Brighita. Menundukkan kepalanya serendah-rendahnya. Menghirup aroma alami tubuh wanitanya.
Brighita yang selalu mendapatkan perlakuan intim dari Dylan itu, mencoba setenang mungkin. Ia tetap fokus memasak mie instannya.
"Apa yang kau masak?"
"Mie. Tidak ada bahan-bahan di rumah ini. Dan hanya ini yang ada."
"Tapi aku tidak ingin memakan makanan murahan itu." ucap Dylan tanpa ada rasa bersalah.
"Kau. Baiklah jika tidak ingin memakannya." kesal Brighita. Ia bahkan sudah berbaik hati mau memasakkan untuk mereka berdua. Dan dengan mudahnya Dylan mengatai makanan yang ia masak dengan kata murahan. Oh pujian yang mengesalkan sekali.
Melihat Brighita yang memberikan respon tidak peduli, membuat Dylan harus membujuk gadis itu. Bagaimanapun ia juga merasa kelaparan.
"Tapi aku lapar." kata Dylan dengan nada melasnya.
Sekali lagi Brighita membuang nafasnya kasar. Melihat muka Dylan yang sangat cute itu membuatnya tak bisa untuk menelantarkan pria itu.
"Kalau begitu makan saja makanan murahan ini."
"Tapi mie tidak baik untuk tubuhku. Kau mau jika perutku buncit dan aku tidak sexy lagi."
Brighita mulai geram sendiri dengan tingkah Dylan.
"Baiklah jika tidak ingin memakan makanan tidak sehat ini. Aku yang akan memakannya sendiri. Masa bodoh dengan dirimu yang kelaparan." tegas Brighita.
Dylan menciut menerima omelan Brighita.
"Apa kau tega melihat suamimu yang kelelahan akibat di setubuhi secara brutal oleh istrinya." nada polos penuh godaan itu membuat Brighita mendelik tak percaya.
"Oh yang benar saja. Ketahuilah Jo. Kau yang selalu bersikap agresif saat di ranjang. Aku bahkan hanya bisa pasrah saat kau terus menghujami milikku!"
"Baiklah-baiklah aku hanya bercanda. Aku akan memakan makanan murahan itu."
"Baguslah. Lagi pula kau tidak akan buncit hanya dengan memakan semangkuk mie saja. Aku justru malah bersyukur jika kau punya perut yang buncit. Maka tidak akan ada lagi wanita yang mau berhubungan sexsual dengam mu."
"Eits.. Eitss.. Gadis kecil sepertimu tidak pantas berkata kasar seperti itu."
"Kalau kau sudah tau jika aku masih kecil kenapa kau selalu mengajakku berhubungan badan?"
Dylan seakan termakan dengan perkataannya sendiri.
"Yaa.. Seperti yang kau tau. Tubuhmu itu... WOW.. Super sexy." tangan dan mata Dylan bergerak mengikuti bentuk tubuh Brighita.
Brighita memang bisa dikata cukup muda. Tapi tubuh Brighita sangat hot untuk Dylan. Cukup untuk mengundang hawa nafsunya.
Brighita memutar kedua bola matanya malas. Apa hanya itu yang di pikirkan seorang pria.
"Dasar otak mesum." ucap Brighita jengah.
"Sejak duduk di bangku sekolah aku selalu mengimpikan untuk memiliki suami yang tidak hanya berpikiran m***m saja."
"Apa kau sedang menyindirku?"
Mengedikkan kedua bahunya, Brighita acuh tak ingin menjawab.
"Ketahuilah, honey. Pria yang memiliki pemikiran m***m akan selalu membuat gadisnya merasa ketagihan saat di ranjang. Bahkan kau pun selalu berteriak kepuasan dengan cara mainku."
Blush. Brighita merasa panas dipipinya. Memang benar Brighita selalu menikmati permainan Dylan di ranjang. Oh ayolah, siapa yang bisa menolaknya saat lawan bermainmu mampu memberikan kenikmatan dan kepuasan yang lebih.
Terlepas dari itu, setelah mereka menghabiskan semangkuk mie mereka masing-masing, Dylan menguap karena menahan kantuk.
"Jo, tidurlah terlebih dahulu. Aku akan membereskan ini." Brighita bangkit dan mengambil mangkuk miliknya serta milik Dylan.
Ia tidak tega melihat wajah lelah Dylan. Dan bukannya menurut, Dylan malah tidur dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan di atas meja makan.
Gelengan kepala dan helaan nafas Brighita saat melihat tingkah suaminya itu. Tapi bagaimanapun juga hatinya terasa hangat saat Dylan bersikap seolah ia ingin terus menemani Brighita, dan akan selalu menunggunya.
Brighita sadar jika itu bukanlah kenyataannya. Bahkan ia tidak tau atas dasar apa pernikahan ini terjadi. Ia bahkan tidak pernah merasakan menjadi seorang istri, baginya ini hanya seperti sebuah permainan. Sampai sekarang Brighita hanya ingin tau apa alasan dari pernikahan ini. Brighita sanksi kalau Dylan tidak akan mau mengumumkan pernikahan mereka ke publik. Karena setelah Dylan membatalkan pernikahannya dengan Devano, Dylan sama sekali tak berniat membuat pesta ulang pernikahan mereka.
Bukankah itu sudah bisa menjadi bukti bahwa Dylan memang hanya menganggapnya lelucon. Pernikahan ini sama sekali tidak ada gunanya. Memikirkan itu semua membuat Brighita tersenyum miris.
Ketika sibuk berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba listrik di rumah itu padam. Tubuh Brighita menegang ketakutan.
"Jo. Jojo.." Brighita mencoba memanggil Dylan dengan suara gemetarnya.
Hingga sentuhan tangan besar pria itu pada pundak Brighita membuat Brighita tenang seketika.
"Jangan takut. Aku akan selalu melindungimu." suara rendah Dylan menghangatkan aliran darah Brighita yang tadi sempat membeku.
Dengan langkah hati-hati Dylan, menuntun Brighita dalam kegelapan.
"Tunggulah disini. Aku akan menyalakan saklarnya." ujar Dylan setelah mendudukkan Brighita.
Derap langkah setelah beberapa menit perginya pria itu, menggema menyentuh dinginnya lantai dengan suara yang mengisi kekosongan ruangan itu.
"Dylan, kau kah itu? Kenapa masih belum menyala?" tanya Brighita.
Cukup lama tak ada jawaban dari pertanyaannya. Ia merasa sedikit aneh dan ketegangan yang sepertinya sedang terjadi.
Langkah itu semakin mendekat. Brighita was was seketika. Tepat saat orang itu berdiri di belangkanya, Brighita mencium aroma parfum pria yang asing baginya.
"Siapa kau?" tanya Brighita dingin. Ia mencoba membuat dirinya agar tidak terlihat takut.
'Kenapa aliran listriknya tidak menyala juga? Damn!' resah Brighita.
"Jo... Mmmffftt.." sebelum Brighita sempat berteriak, mulutnya sudah lebih dulu di bekap oleh orang itu.
Ia merasa tubuhnya di seret paksa. Brighita mencoba melewan orang asing yang tidak ia ketahui rupa dan bentuknya itu sekuat mungkin. Namun naas, perlawanannya hanya tinggal sejarah. Saat ia sadari ternyata kain yang di guankan untuk menutup mulutnya itu di beri obat tidur.
Brighita pingsan.
Dylan yang telah berhasil menyalakan kembali aliran listriknya, tidak nampak terkejut melihat ketidak beradaan Brighita di tempat ia meninggalkannya. Ia seakan telah menduga bahwa ini memang akan terjadi.
Ujung matanya menangkap sosok Irham yang kini berjalan kearahnya sangat tegas. Semua pakaian yang Irham kenakan berwarna hitam, mulai dari jaket kulit, celana, serta topi yang dikenakannya. Seolah ia telah siap berperang.
"Saya telah siap."
Dylan melemparkan pistol miliknya pada Irham dan berhasil di tangkap pria itu.
"Kita akan melakukan sebagai seorang kawan. Bukan sebagai tuan dan anak buahnya." tegas Dylan dan berjalan terlebih dahulu. Mata hazel pria itu menggelap. Tatapannya tajam dan membunuh. Langkahnya pun terdengar seakan ia adalah malaikat maut.
-------
Nafas Brighita memburu karena takut dan perasaan marah yang bercampur menjadi satu.
'Jangan takut. Tetap tenang. Jangan takut Ta. Mereka tidak akan mungkin melukaimu.' yakin Brighita.
Kedua mata gadis itu di tutup dengan kain, kedua lengannya juga diikat kebelakang. Brighita dapat meresakan bahwa penculik itu membawanya ke daerah yang memiliki aliran air. Ia merasa berada di alam terbuka. Setidaknya hanya itu yang bisa ia tangkap dari suara serta suasananya.
Dan mendengar beberapa kali banyak yang berbisik dan berbicara, Brighita menduga bahwa yang menculiknya bukan hanya satu orang. Mungkin lebih dari dua orang. Kenyakinan Brighita untuk selamat justru semakin menciut.
Brighita menepis kasar sebuah tangan kekar yang mencoba untuk memegang dagunya. Ia merasa jijik saat di pegang tangan itu.
Pria yang tengah berjonkok di hadapan Brighita itu tersenyum sinis melihat penolakan Brighita.
"Jangan mencoba untuk menyentuhku." ucapan mengancam Brighita yang justru semakin membuat pria itu tersenyum remeh.
"Apa kau mengenali suaraku?" ucap pria itu.
Begitu mendengar suara pria itu untuk pertamakalinya, Brighita berharap dugaannya salah.
"Delano. Kuharap aku salah mendengarnya." Brighita menggeleng tak percaya.
"Sayangnya kau benar. Mantan adik ipar." ucap Delano mengejek.
"Hah! Sulit di percaya. Apa mau mu."
"Hanya bermain-main saja. Aku hanya ingin menyakitimu, dan membuat suami sialanmu itu menderita karena melihat istrinya mati dengan keji di tanganku."
Seakan tidak takut, Brighita justru tersenyum miring. "Kau bisa langsung saja mengatakan pada intinya jika kau ingin membunuhku."
"Kau pintar sekali. Akhh.. Sanyang sekali, mendengar kematianmu pasti akan membuat Devano adikku sedih. Mengingat betapa ia pernah berkata bahwa dia sangat menyukaimu membuatku sedih. Andai saja kau tidak terlibat dengan pria busuk seperti Dylan, kau pasti tidak akan berada di posisi ini. Kau pasti akan menjadi adik ipar kesayanganku. Dan hidup bahagia di bawah lindungaku bersama Devano." Delano menapkkan kesedihan yang dibuat-buatnya.
"Hahha... Jadi yang kau lakukan saat ini adalah sebuah balas dendam?" dalam hatinya Brighita merasa katakutan setengah mati. Ia tidak tau dari mana keberaniannya itu muncul dan berkata seperti itu.
"Heem. Kau benar lagi kali ini."
"Pengecut." sinis Brighita. Membuat Delano geram seketika.
"Apa katamu?"
"Aku bilang pengecut. Kau menjadikanku sebagai alat untuk balas dendammu. Itu tandanya kau pengecut. Jika tidak, kau pasti akan lebih memilih melawan Jojo secara langsung."
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Brighita.
"Akhh.."
"Tutup mulut mu itu. Aku hanya ingin membuat Dylan Jordan merasakan apa yang aku rasakan saat ini." tekannya.
Delano menghembuskan nafasnya untuk meredakan amarahnya. Dan kembali bersikap setenang mungkin.
"Baiklah. Aku akan menceritakan satu kisah padamu. Once upon a time..."
"A.. Kita tidak sedang mendongeng sebelum tidurkan. Aku akan langsung saja."
"Dandelion. Nama gadis yang sangat aku cintai. Sekaligus sahabatku. Tapi dia begitu tergila gila pada pria yang bernama Dylan Jordan."
"Saat itu Dande mencoba untuk mendekati Dylan dengan cara apapun. Dande tidak pernah sadar bahwa aku sangat mencintainya melebihi nyawaku sendiri."
"Karena aku yang kecewa pada Dande, saat itu aku mencoba menjauh darinya. Dan saat aku kembali, Dande menatapku dengan mata sayunya, dan berkata bahwa ia hamil."
Jantung Brighita berdetak cepat. Berharap bahwa apa yang dipikirkannya itu salah. 'Ku mohon jangan.'
"Coba tebak siapa yang melakukan itu? Dylan Jordan. Ya. Dylan Jordan, dia yang telah menghamili orang yang ku cintai. Meski aku tidak sepenuhnya menyalahkan Dylan, tapi apa kau tau sesakit apa perasaanku? Aku mencoba merelakan Dandelion dan menemui Dylan agar bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Tapi yang dikatakan Dylan justru membuatku marah. Ia menyuruh Dande untuk menggugurkan kandungannya."
Kenapa sakit sekali. Brighita ingin menangis mendengarnya. Ia kecewa pada Dylan. Meski tidak seharusnya ia mempercayai perkataan Delano. Tapi mendengar nada pilu Delano sedikit membuatnya bersimpati pada pria itu.
"Dande merasa frustasi. Aku sudah menawarkan akan memberikannya pernikahan, tapi ia tetap menolak dan lebih memilih Dylan. Ia berkata tidak akan menikah dengan siapapun selain dengan Dylan. Akhirnya, Dande mengakhiri hidupnya sendiri, karena Dylan yang tidak juga menemuinya."
"Dan sekarang. Aku ingin kau menyusul Dande. Dan membuat Dylan berduka selama sisa hidupnya karena ke hilangan orang yang dia cintai."
Entah apa yang di pikirkan Brighita. Ia justru malah tertawa mendengar perkataan Delano.
"Sekarang aku tau kenapa Dande bersikeras memilih Dylan Jordan dari pada dirimu. Kau kejam." tekan Brighita pada kata terakhirnya.
"Kau bilang aku kejam? Jika aku kejam, maka Dylan adalah seorang bajingan."
"Ya, Dylan memang b******n. Tapi aku yakin Dande melihat sisi lain dari Dylan yang membuatnya terus memilih Dylan. Berbeda denganmu, Dande melihat sikapmu yang memang berhati batu."
"Berhenti bicara atau aku akan menyayat kulitmu itu." ancam Delano.
"Sadarlah bahwa Dande memang tidak akan menjadi milikmu. Ia bahkan tetap mencintai Dylan sampai akhir hayatnya." teriak Brighita.
Delano yang tidak tahan melayangkan belatinya pada lengan kanan Brighita. Menggoresnya dan membuat aliran darah keluar dari lengan Brighita.
"Akhh!!" pekik Brighita kesakitan.
"Aku jadi tidak sabar untuk membunuhmu."
"Hahahaha.. Kau tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dengan membunuhku."
"Kenapa tidak? Kau kan gadis yang sangat di cintainya."
Brighita merasa getir di hatinya. Andai memang benar bahwa Dylan mencintainya dan akan merasa kehilangan Brighita jika ia pergi. Ia akan mati dengan perasaan bahgia. Tapi itu tidak akan pernah terjadi, mengingat bagimana sikap Dylan yang mencumbu wanita lain di hadapannya, semakin membuatnya terluka. Mungkin ia tidak akan pernah menyesal jika ia mati sekarang.
"Pasti akan menyenangkan jika melihat Dylan Jordan menangis melihat mayatmu."
"Dia tidak mencintaiku." lirih Brighita tanpa sadar.
"Ya. Dylan mencintaimu."
"Tidak. Dia tidak mencintaiku. Sudah kubilang dia tidak mencintaiku. Akhhhh!!!" jeritnya.
Air mata mulai mengalir dan membasahi penutup kain mata Brighita. Hatinya pilu, karena sampai kapanpun Dylan tak pernah mencintainya.
DOR!