Bab 10. Persaingan

1109 Kata
Lina terkejut mendengar ucapan Tristan. Matanya seketika berkaca-kaca. Andai saja dulu mantan suaminya, Agam yang berkata seperti itu, betapa bahagianya dirinya. Kenapa pria lain malah ingin diakui sebagai ayah Dion? Kenapa bukan ayah biologisnya sendiri? Kata-kata Tristan membuat hati Lina menghangat dan air matanya jatuh di pipi. Dengan cepat ia menghapus dan berusaha tersenyum. "Terima kasih ya, Bang. Abang mau memikirkan sekolah Dion." "Aku sudah bilang, Dion itu anakku! Tentu saja aku memikirkan sekolahnya." Tristan sebenarnya tak tega juga melihat wanitanya menangis seperti itu. Demi mengalihkan perhatian, ia kembali makan dengan lahapnya. "Ayo, makan. Setelah ini kita temani Dion bermain," ujarnya sedikit gugup. Lina mengangguk haru dan meneruskan makannya. *** "Kita mampir di sini dulu." Tristan menarik tangan Lina masuk ke sebuah toko. Mata Lina terbelalak. Ia menoleh pada Tristan. "Bang ...." "Aku belum membelikanmu cincin kawin, jadi sekarang pilih saja. Kamu mau yang mana?" Tristan yang sedang menggandeng Dion, lebih dulu masuk dan melihat-lihat. Lina menyusul dengan ragu-ragu. Ia mendekati Tristan. Pria itu tanpa ia tahu, memberi isyarat pada para pegawai di sana agar tidak memberikan reaksi berlebih padanya agar Lina tak curiga. "Bang," bisik Lina dekat di telinga Tristan. "Ini terlampau mahal. Bagaimana kalau beli yang di pasar aja? Aku lihat di pasar lebih murah." Ia merasa sungkan karena ia tahu perhiasan emas di sana pasti mahal. Sudah banyak uang yang pria itu keluarkan, ia tidak ingin membebaninya dengan meminta cincin kawin. Tristan mengerut dahi. Kenapa Lina memilih membeli cincin emas di pasar? Bukankah ia terbiasa dengan perhiasan di mal? "Lina, bukankah kamu terbiasa membelinya di tempat seperti ini?" Lina tampak canggung. "Eh, iya, tapi itu dulu. Kita 'kan menyesuaikan dengan kemampuan kita. Pengeluaranmu sudah terlampau banyak untukku, jadi aku ngak enak ...." Ia tertunduk dan melirik Tristan ragu. "Ini kewajiban, Lina. Aku harus melakukannya dan aku gak mau membeli barang sembarangan untuk istriku. Kalau aku mampu, kenapa tidak? Iya 'kan, Dion?" Tristan beralih pada Dion. "Coba kamu pilih, Mama cocok pakai cincin yang mana?" Pria itu menggendong bocah itu dan mendekati etalase. Lina serba salah. Melihat suaminya tetap memaksa, terpaksa ia mengikuti keduanya. "Yang itu, Yah!" Dion menunjuk sebuah cincin emas bertahtakan sebuah berlian kecil berwarna putih. Tristan memperhatikan pilihan Dion. "Kamu pintar juga, Dion. Yang itu bagus!" "Eh, jangan yang itu ... yang itu terlalu berlebihan." Mata Lina bergerak mencari yang lain yang lebih sederhana. "Nah, itu saja." Wanita itu menunjuk dari atas kaca etalase sebuah cincin emas sederhana tanpa hiasan apa pun. Tristan memperhatikan pilihan Lina. "Tapi ini terlalu sederhana. Apa kamu yakin mau yang ini?" "Iya, karena bisa dipakai sehari-hari." Tristan melirik Lina di mana wanita itu tersenyum malu. "Ya sudah, terserah kamu saja. Kan kamu yang pakai." Ia melirik pegawai toko di depan mereka. "Coba keluarkan yang dipilih istriku. Mudah-mudahan muat di jarinya." "Baik, Pak." Lina mencoba memasangkan cincin itu di jari manisnya dan ternyata pas melingkar indah di sana. Ia memperhatikannya dengan senyum sumringah. "Lina?" Suara bariton itu membuat Lina terkejut. Tentu saja ia kenal suara itu. Dunia terasa sempit saat bertemu lagi dengannya. "Siapa dia?" Tristan bertanya sambil menatap pria itu. Ia tak kenal pria ini. "Papa," sahut Dion cepat. "Apa?" Tristan melihat lagi pria di hadapan. "Inikah mantan suami Lina?" "Hoh ... belum lama berpisah, sudah dapat yang baru ya. Benar kata ibu, kamu memang w************n," sindir Agam. Ia memperhatikan Tristan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seorang pria muda dan tampan dengan pakaian khas anak muda. Berbaju kaos hitam dengan kemeja berwarna biru muda di luaran dan celana jeans. "Hei jaga mulutmu ya! Dia istriku!" Tunjuk Tristan geram. Ia tak takut dengan pria yang berpakaian jas lengkap itu sama sekali. Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik dengan gaya elegan dari balik tubuh Agam dan langsung bergelayut mesra di lengan sang pria. Siapa lagi kalau bukan Reka? Wanita keturunan India yang wajahnya mirip artis dari sana. "Oh, secepat itu ya. Atau jangan-jangan kalian memang sudah pacaran ketika kami baru menikah?" Wanita itu mengangkat kedua alisnya dengan pandangan sinis. "Setidaknya kami tidak mengambil hak milik orang lain!" Kembali Tristan terlihat murka. Lina langsung meraih tangan Tristan sambil menggelengkan kepala agar tidak meladeni keduanya. "Lina, apa seleramu sudah turun, hah, hingga harus menikahi orang semiskin ini?" Agam memandang sebelah mata pada Tristan. "Setidaknya kamu harusnya menikah dengan orang yang bisa menaikkan derajatmu, bukan orang sembarangan seperti ini!? Sia-sia saja kamu cerai dariku. Harusnya kamu dulu lebih menurut pada ibu, hingga ia tidak mengusirmu dari rumah." Untuk pertama kalinya, Lina bisa melihat seperti apa sebenarnya mantan suaminya. Dulu pria ini bahkan tidak pernah berani menghinanya seperti ini. Pasti pengaruh Reka sangat kuat hingga lupa bagaimana dulu hubungan mereka begitu harmonis. "Aku malah bersyukur telah bercerai darimu." Wajah Lina terlihat dingin. Ia melihat Agam kaget dengan perubahan ini. Wanita yang selama ini belum pernah berkata kasar padanya, berbicara dengan begitu percaya diri. "Kaget 'kan?" ucapnya tegar. "Karena aku tidak merasa cocok tinggal dengan orang yang menggantungkan kebahagiaan dengan mencari yang baru. Silakan saja teruskan keinginanmu, tapi jangan campuri urusan pribadiku, Agam!" Dengan tegas ia mengucapkannya di depan sang mantan suami. Untuk pertama kalinya ia merasa bangga pada diri sendiri, walaupun ia sendiri tak yakin dengan perasaan Tristan padanya. Yang penting sekarang, sang suami telah membelanya. Ia juga harus punya keberanian untuk membela dirinya sendiri. "O-ho-ho, baiklah ...." Agam tersenyum lebar. "Kamu bahagia ya. Tapi apa kamu tidak sadar sekarang kamu sedang memaksanya membeli barang mewah untukmu?" Pandangan mata Agam begitu menghinakan. "Lihatlah, suamimu yang seperti ini kamu paksa juga untuk membeli perhiasan di sini. Dia mana mampu, Lina ... mengacalah .... Memang apa sih pekerjaannya sampai berani beli barang mewah di sini?" "Sate ayam!" sahut Dion tanpa ragu. Mendengar itu, Agam dan Reka saling pandang dan tertawa. "Kamu menikah dengan tukang sate ayam!? Lina ... Lina ... Apa kamu begitu ingin cepat naik ranjang sampai harus menikahi tukang sate ayam?" Agam kembali tertawa. "Kamu sudah gilla ya. Mana mampu dia beli perhiasan di sini!? Semua perhiasan di sini harganya mahal karena dibuat khusus untuk orang tertentu. Apa kamu tidak tau itu?" ucap Reka ikut menambahi. "Mungkin cincin termurah di sini, dia harus beli dengan kartu kredit, padahal di sini gak boleh ngutang, lho!" sindirnya. Seketika Lina melihat cincin yang melingkar di jarinya. Ia melirik Tristan dengan khawatir. Cepat-cepat ia lepas cincin itu dari jarinya. "Bang, ini ...." Tristan langsung meraih tangan istrinya. "Lina, jangan ...." Ia menatap wanita berkerudung coklat itu sambil menggeleng. "Aku bayar cash kok!" Kembali Agam dan Reka tertawa. "Cash, tapi setelah itu uangnya habis. Ha ha ha ha!" Agam kembali tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya. "Ok, kalau kamu begitu kaya. Apa kamu sanggup beli perhiasan termahal di sini?" Tantangan Tristan geram. Tangannya sudah mengepal menahan amarah. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN