1. Bunga di Tengah Gurun
Kejutan di malam yang dingin membuat si gadis langsung kehilangan kantuknya, hampir pukul sebelas malam, dan kini tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah yang ditinggali Meisha seorang diri. Para pelayan dengan segan mengatakan hal ini kepada dirinya, bahwa di ruang tamu tengah menunggu seorang gadis yang mengaku sebagai sang sahabat sedari kecil. Alis Saila Meisha Hendraka langsung naik sebelah karena keheranan, ia kira halusinasi sedang mendatanginya kini. Saat masuk ke ruang tamu, iris yang rubi langsung dihadapkan dengan kehadiran seorang gadis cantik berambut cokelat gelap dan ikal, tak hanya itu karena keterkejutan pun menimpa Meisha, sebab sang gadis yang tak diundang langsung berlari ke pelukannya.
Mendapati serangan membabi-buta, membuat Meisha gelagapan.
“Meimei, aku rindu sekali!”
Gadis itu semakin mengencangkan pelukan, hingga Meisha menjadi kesulitan bernapas.
Setelah berusaha untuk melepaskan diri dari rengkuhan monster gila yang adalah sahabatnya, Meisha pun menatap wajah Inayah Sasya Prameswari dengan tajam, sama sekali tidak ada raut bahagia yang tercipta.
“Katakan sekarang! Kamu ini gila atau apa? Tidak mengabari aku lagi, hm! Kan aku bisa menjemputmu, dasar Ina!” Meisha kini berkacak pinggang dan terus mengomel dengan lincah sampai membuat Inayah mengurut kepala pusing.
Setelah mendengar omelan sahabatnya, mereka mendudukkan diri sejenak. Meisha tersenyum kecil karena memikirkan bahwa hari ini menjadi istimewa berkat kedatangan sang Sahabat secara mendadak. Untuk itu, Meisha lantas membuat sebuah rencana untuk menahan Inayah sampai seminggu penuh di rumahnya. Rambut pirang sang gadis yang adalah turunan dari nenek-kakeknya kini diselipkan di belakang telinga, sebab teramat antusias.
Namun, malang baginya karena setelah menGuerakan isi hati, Inayah malah mengatakan sesuatu yang kejam kepada Meisha.
“Apa? Kamu pasti telah menggila! Aku cuma mau nginap di sini dua hari, Meisha Sayang. Soalnya habis ini aku akan langsung berkunjung ke rumah My Honey Riko.”
Decakan sama sekali tidak ditutupi Meisha, iris yang rubi pun berotasi karena mendengar alasan menyebalkan gadis yang selalu tampil modis ini.
Mereka beberapa kali saling adu argumentasi karena sama-sama keras kepala, tetapi akhirnya Inayah lah yang menjadi pemenangnya. Meisha kelihatan sedih tentu saja, terakhir kali bertemu sahabatnya ini adalah libur tahun baru lalu, dan sekarang Inayah mengatakan hanya dua hari saja akan menginap di rumahnya. Jahat sekali.
“Tega banget, sih, Ina!”
Meisha memelas, berusaha memujuk sahabatnya dengan menggoyang-goyangkan tangan Inayah.
Menghela napas lelah, sang Gadis lantas menggelengkan kepala dengan tegas. Berpasrah diri karena sang Sahabat yang kejam, Inayah yang ingin mandi pun akhirnya dibawa Meisha menuju kamar. Walau sekarang Meisha agak merajuk, tetapi kalau sudah berhadapan dengan Inayah, ia tak akan tahan. Mereka pun kini kembali bercerita panjang lebar untuk mengobati rasa kangen yang mendera hati, bernostalgia tentang kisah masa lalu yang dirindukan.
Melihat bungkusan yang kira-kira sepanjang lima puluh centi dan lebar tujuh puluh centi itu selalu dibawa Inayah sampai ke kamar, tentu membuat Meisha menjadi penasaran. Ia pun segera menanyakan hal ini kepada gadis yang baru saja selesai mandi dan masih mengurusi rambut yang basah.
“Oh, ini untukmu. Maaf tadi aku lupa, Meimei”
“Kamu ini memang pelupa minta ampun. Tapi, makasih banget, deh. Hehe.”
Tangan lincah Meisha langsung membukanya, pupil rubi kini membeliak dan berbinar, kagum sekaligus terpesona. Di hadapan Meisha kini terpampang sebuah karya luar biasa yang bisa membuat seseorang terperangah karena melihat keindahan tersemat begitu apik di dalam lukisan ini. Bunga mawar yang bermekaran, itulah yang ada di dalam kanvas memesona. Lengan Meisha perlahan menyentuh untuk meresakan ukiran kelopak bunga indah tersebut. Ini adalah lukisan timbul, maka dari itu semua yang terlukis dapat dirasakan corak-coraknya.
Mengagumi setiap incinya, rubi Meisha kin menemukan seuntai nama di sudut bawah dan bertuliskan Suu.
“Suu? Itu namanya, Na?” mengerutkan alis, Meisha kini menatap sahabatnya.
Mereka saling berpandangan, kemudian gadis yang masih mengeringkan rambut tersebut mengangkat bahu, memang Inayah tidak terlalu tertarik dengan benda bersedi seperti ini, hanya saja ketika tadi ia melihat lukisan yang di jual di Jembatan Siti Nurbaya, Inayah ingin membelikannya untuk Meisha karena teringat bahwa sahabatnya begitu menyukai bunga mawar.
“Kamu ini gimana, sih? Gak jelas banget.”
“Mana aku tahu, Meimei. Kamu suka sama lukisannya, ya? Aku beli di jalan dekat Jembatan Siti Nurbaya.”
“Gak terlalu jauh kayaknya.”
Inayah hanya menganggukkan kepalanya, memang jalan tersebut letaknya sekitar delapan kilo meter dari rumah Meisha. Seperti yang dibicarakan Inayah, di sana adalah tempat khusus menjual oleh-oleh dan pernak-pernik lainnya.
Gadis bermahkota cenderung pirang langsung menggantungkan lukisan di dinding. Ia menatap sebentar, dan menjatuhkan dirinya di kasur yang empuk. Benar-benar indah tentu saja, coraknya begitu khas dan hidup. Ya, lukisan itu luar biasa dan Meisha merasa ingin sekali membeli berbagai koleksi lukisan dari Mr. Suu itu. Mengagumkan.
*
Terus digeluti dengan rasa penasaran, setelah Inayah pulang dari rumahnya, Meisha memutuskan untuk pergi ke sana. Tujuannya hanya satu, yaitu mencari sang Penjual lukisan buatan Mr. Suu. Ia benar-benar sangat tertarik dengan benda artistik tersebut, hampir setiap ia memasuki atau sebelum keluar dari kamarnya, Meisha selalu menyempatkan diri untuk menatap karya seni itu terlebih dahulu.
Jalan itu cukup panjang, jadi Meisha langsung saja melangkah masuk ke pusat pernak-pernik dan oleh-oleh yang berada di seberang. Dengan kaki yang sekarang memakai sepatu tanpa tumit, Meisha dapat menggerakkan kaki lincah untuk berkeliling tanpa takut ada rasa menyiksa di kaki.
Pandangan matanya menyisir tiap sudut jalan dan toko, ia pun bertanya-tanya kepada beberapa orang penjual di area tersebut. Salah seorang penjual guci dan keramik memberitahu kalau di sudut dekat toko kue kering ada yang menjual lukisan, tentu dengan semangat Meisha langsung mendatanginya. Ya, di sana ada sebuah toko cukup besar memperdagangkan benda berseni, terlihat bergelantungan dan tertata apik.
Ia lalu memasuki, dan melihat satu persatu nama yang tertera di sudut lukisan itu. Menggaruk pelipisnya, Meisha sedikit bingung karena tidak melihat nama ‘Suu’ di semua benda mengagumkan yang ada di sini.
“Maaf, permisi! Saya ingin bertanya, apa di sini ada lukisan yang dibuat oleh Mr. Suu?”
Pelayan toko mengerutkan alis karena mendengar pertanyaan Meisha, kelihatan tengah berpikir sebentar sebelum menjawab, kemudian menggelengkan kepala.
Mendapati informasi tersebut, Meisha mengembuskan napas, mungkin saja sekarang Meisha sedang tidak beruntung. Ya, bisa saja lukisan itu telah habis dan belum dibuat lagi oleh Mr. Suu. Mencoba berpikir positif, memikirkan di lain hari ia akan berkunjung ke tempat ini lagi. Melangkah, ia pun keluar dari toko.
“Ya, sekalian saja berkeliling dan belanja.”
Sekarang Meisha terlihat bersemangat, mungkin ia bisa menemukan gantungan kunci yang menarik, atau lonceng angin yang indah.
Beberapa bungkusan kecil sudah ada di tangan, beberapa benda malah telah berada di dalam tas samping yang ia bawa. Ya, ternyata tidak buruk juga berkeliling tempat ini, nyatanya sekarang ia menemukan banyak benda yang menarik atensi, sehingga dengan senang hati Meisha membeli beberapa mainan kunci bergambar kelinci itu.
Memutuskan untuk pulang, Meisha lantas berniat berjalan memutar karena lebih dekat dengan parkiran mobil, tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat bola matanya membesar.
Meisha langsung berlari dan mendekati tempat tersebut. Itu adalah lokasi penjual lukisan yang lainnya, ternyata masih ada—walau hanya dipajang di pinggir taman dan tanpa toko—tetapi lukisan yang dijual pun tetap sama indahnya. Sesuatu yang terlukis di dalam kanvas style art-nya sama dengan lukisan yang diberikan Inayah kepada Meisha.
“Waaahhh... akhirnya ketemu lukisannya Mr. Suu! Benar, senangnya bisa menemukan lukisan ini.”
Dengan nada yang riang, tetapi terlihat lega, Meisha pun bermonolog dengan dirinya sendiri. Gadis itu terus memperhatikan tanpa menyadari sang Penjual yang ada di samping. Itu semua karena Meisha masih begitu antusia dengan keberhasilannya menemukan lukisan tersebut, tangan-tangannya masih fokus menyentuh nama yang tertera di sudut kanvas.
“Maaf, apa Mbak tertarik dengan mereka?”
Penjual itu masih menghadap ke arah lukisan yang berjejer di depan, sama sekali tidak menatapnya, Meisha pun sampai bingung dibuatnya.
“Ah? Iya, Saya senang sekali bisa menemui lukisan milik Mr. Suu ini, hehe.”
Tersenyum kembali, setelahnya Meisha pun melangkahkan kaki dan memperhatikan setiap lukisan yang berjejer rapi di dekatnya, ia lalu melihat ke salah satu yang menggambarkan sekuntum bunga mekar dan berada di padang pasir tandus, bunga itu juga dikelilingi oleh burung gagak. Entah kenapa, Meisha menjadi sedih melihat hal ini.
“Ini, kelihatan sangat menyedihkan. Apa artinya?”
Lelaki itu tidak menoleh. Namun, menjawab pertanyaannya.
“Yang mana?”
“Ini.” Tunjuk Meisha kepada lukisan menyedihkan itu.
Helaan napas terdengar di telinga sang gadis, si lelaki sekarang kembali berbicara dan mencoba mendekatinya.
Manik rubi itu terhenyak ketika melihat lelaki itu berdiri, pantas saja walau berbicara, dia sama sekali tidak menatap wajahnya. Ternyata sang Pria seorang tunanetra. Sekarang, penjual yang berperawakan tinggi dan rupawan, berambut hitam dengan anak poni agak memanjang itu kian mendekat dan berhenti di jarak selangkah darinya.
Tongkat yang tadinya berada di satu-satunya lengan yang dipunya, di sebelah kanan, kini ia sematkan ke lipatan ketiak. Tangannya kemudian terjulur dan merabai lukisan yang tadi ditunjuk sang Calon Pembeli, setelahnya kedutan tipis pun menghiasi garis bibirnya.
“Ini maknanya adalah perjuangan hidup. Walau kamu sebatang kara di dunia ini, kamu harus tetap berusaha. Dan dengan usaha yang maksimal, maka akhirnya akan mekar walau dunia tidak memedulikanmu dan selalu ingin membinasakanmu.”
Sangat mengagumkan, dari sebuah lukisan bisa mengandung makna yang begitu berarti dan sekaligus membuatnya terharu. Meisha pun merasa getaran di hati, ia menginginkan lukisan bermakna ini.
“Wah, ini luar bisa. Saya tidak menyadari ada makna seperti itu di dalam lukisan, emm… saya ingin membeli lukisan ini, Mas.”
Tara kembali tersenyum, walau terkesan dingin dan tipis, tetapi sungguh tulus dari hatinya yang terdalam. Ia tentu saja senang karena hari ini ada pelanggan baru yang mau membeli lukisannya.
Mereka saling menyerahkan antara lukisan dan pembayaran. Anehnya, ternyata benda berseni itu tidak terlalu mahal seperti apa yang dibayangkan Meisha. Gadis itu kemudian menghubungi sopirnya untuk membantu membawa lukisan yang sudah berada di tangan, setelah sang sopir datang dan membawa lukisan itu, Meisha berniat menjabat tangan sang Penjual dan berterima kasih.
Sejak tadi, Meisha terus memperhatikan lelaki ini. Pria itu memang sangat tampan, tetapi memiliki ketidaksempurnaan pada fisiknya. Ya, selain tunanetra, sang penjual juga hanya memiliki satu lengan. Tangan kanan saja, sedangkan tangan kiri terlihat hanya ada sampai perbatasan atas siku. Mata indahnya tiba-tiba memanas, entah kenapa ia merasa sedih melihat lelaki di hadapannya. Padahah sosok itu juga memiliki warna mata yang indah, nyaris menyerupai batu emerald.
“Terima kasih banyak, Mas.”
Ia berjabat tangan sekarang. Si lelaki mengangguk dan mengucapkan ‘terima kasih kembali’.
Berpikir sejenak, dan belum meninggalkan tempat berjualan lukisan ini, Meisha pun memberanikan diri untuk mengenal lebih jauh si penjual lukisan. Walau awalnya ia agak ragu untk memperkenalkan diri dan menanyakan nama lelaki tersebut. Ia benar-benar sungkan.
“Emm… kalau boleh berkenalan, nama saya Meisha, dan Mas sendiri?”
“Ah, gak apa. Banyak kenalan itu baik, kan? Saya Tara, senang berkenalan dengan kamu. Dan terima kasih karena sudah membeli lukisan Mr. Suu, Meisha.”
Bibir lelaki bermata emerald itu kembali berkedut saat tersenyum, hal yang sama pun terjadi dengan Meisha, gadis itu bahkan tertawa kecil sampai matanya menyipit. Sekarang selain mempunyai pelanggan baru, sepertinya Tara juga mendapatkan teman yang menarik.
.
.
.
Bersambung