Malam itu setelah mengantar Anya ke kondominium Je, Jo kembali ke rumahnya untuk mengambilkan Anya beberapa pakaian. Mereka tergesa-gesa dan tanpa persiapan apapun. Anya harus cepat mengungsi sebelum paparazzi itu bertindak ngawur. Di tengah jalan ponselnya berdering. Rupanya sang asisten yang menghubunginya. “Ya?” “APAAA?? Bagaimana ini bisa terjadi? Oke, aku akan ke sana!” Seketika Jo membanting setir dan memutar balik. Ia kembali ke kantor setelah mendapatkan berita mengejutkan dari sang asisten. Keuangan perusahaan kolaps dan mereka terancam kebangkrutan. Hutang bank ternyata begitu menumpuk dan tak terbayarkan. Asset-asset yang mereka beli ternyata merupakan investasi bodong. Dan aliran dana yang mereka selidiki waktu ternyata dikorupsi oleh oknum tertentu.

