Anya tidak berani membalikkan tubuhnya. Ia membeku di sudut sana namun semua pasang mata kini mengarah padanya. Anya akan malu jika semua orang melihat betapa hancur hatinya saat Je akan dijodohkan dengan wanita lain. “Apa yang kau lakukan, Anya?” Je sudah berada di sisinya dan menarik tangannya untuk berbalik badan karena kini lampu sorot diarahkan pada keduanya. “Lepas, Je. Lepaskan. Mamamu sudah memilihkan wanita yang layak untukmu,” jawab Anya sambil menepis tangan Je. “Tidak. Aku tidak mau wanita lain selain dirimu,” kata Je lagi. Anya menatap Je dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Sesak dadanya harus menatap lelaki itu di saat terakhirnya di sini. “Kau… lebih layak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.” Anya terisak. Wajah Je menegang. Ia meng

