Pagi itu Sally bangun lebih pagi dari biasanya. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan langkah apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan perusahaannya. Ia mengusap rambutnya kasar, mengenakan kembali jubah tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Meninggalkan George yang masih terlelap. Ia meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan secangkir kopi seperti kebiasaannya lalu menunggu di sofa sambil berkutat dengan ponselnya. Mencari tahu rekan atau kolega yang bisa membantunya memberi saran untuk perusahaannya. Ia menghela nafas panjang. Hampir semalaman ia mencari tapi seluruh kontak di ponselnya sudah dihubungi. Tidak ada satupun yang bisa membantu. Hingga jarinya berhenti di nama adiknya sendiri. Rivaldi. Haruskah ia meminta bantuan Rivaldi? Seje

