Fiko Risjad memanggilnya, dan memberitahu pernikahan akan diadakan hari Sabtu minggu depan.
Setiap kata diucapkan dengan dingin. Tanpa senyum apalagi ucapan selamat.
Ketika tanpa sengaja pandangannya beradu dengan pandangan Jerome. Hati Chendana tidak bisa menahan rasa sakit.
Satu-satunya orang dalam keluarga itu yang tulus dan perhatian padanya, melihatnya dengan tatapan kecewa.
Chendana kembali ke kamarnya yang belum lama ia tempati dan dengan tenang menundukkan kepala untuk mengepak barang bawaannya.
Barang-barangnya selama tinggal di sini tidak terlalu banyak. Paling tidak lebih dari dua koper.
Meskipun masih ada waktu satu minggu, lebih baik dirapikan dari sekarang bukan? Terlebih lagi, keluarga ini sepertinya sudah tidak menginginkan kehadirannya lagi.
Pada saat mengumpulkan barangnya, Chendana melihat kamar ini dengan miris. Kamar ini dulunya milik Arintha, sebelum dia pindah ke lantai dua.
Alasan dia pindah ke sini adalah karena dia jadi juara lomba sketsa tingkat nasional dan pernah diliput oleh beberapa stasiun televisi.
Sebelum itu, tatapan Fiko sudah mulai memperhatikannya. Dia terkejut anak perempuan dari desa tertinggal, juga bisa membawa kehormatan untuk keluarga Risjad, dengan menjadi siswi yang nilai UN SMA-nya menjadi yang tertinggi se-Indonesia.
Selain itu, Arintha juga sering mengundang wartawan infotaintment. Akan jadi memalukan kalau membiarkan anak angkat mereka tinggal di kamar pembantu.
Sekitar setengah jam, Chendana tiba-tiba menutup wajahnya, tidak mampu mengendalikan airmata.
Di tengah-tengah kesibukannya. Pintu kamarnya terbuka, Chendana langsung mengusap matanya.
Mahya melangkah masuk, ada suasana canggung dengan kedatangannya. Dia menatap Chendana, sudut bibirnya melengkung, membentuk senyum dingin.
"Bu..." suara itu lirih.
Hati Mahya sedikit goyah, dia tertegun setengah detik saat melihat tampilan Chendana yang berwajah sembab, anaknya itu menggigit bibir dan memberinya tatapan mengiba.
Timbul rasa mau memeluk dan menghibur anak kandungnya yang menyedihkan. Tetapi, ketika bayangan Arintha yang ia temukan terkapar dengan busa di mulutnya melintas, dibuangnya perasaan itu jauh-jauh.
"Aku--"
"Jangan memanggilku ibu," Mahya bahkan tidak memberi Chendana kesempatan menyelesaikan ucapannya. "Aku tidak pernah melahirkan anak yang kejam dan tidak tahu diri sepertimu!" Ucapannya menusuk, tatapan matanya hanya dipenuhi kebencian seolah-olah Chendana hanyalah seonggok sampah yang bau.
Bagaimana dia punya keberanian untuk memanggilnya ibu setelah perbuatan memalukannya itu, membuat keluarga yang ia bangun dengan susah payah selama puluhan tahun, nyaris hancur dalam semalam?
Demi apapun, Mahya menyesal membawa Chendana bersamanya. Kalau tahu anak ini akan menjadi sangat kejam, lebih baik dia tinggalkan saja sampai mati di kampung.
Chendana mau menjelaskan. Namun, tidak peduli apapun cara yang ia lakukan, tidak ada satupun yang percaya kepadanya.
Pada akhirnya dia lelah untuk membela diri, lelah untuk menunjukkan kebenaran. Dia tidak lagi peduli dengan apa kata orang. Tidak peduli mereka percaya atau tidak.
Asalkan ibunya peduli dan percaya padanya, itu sudah cukup.
Karena itulah Chendana tetap memohon, "Bu, ini bukan seperti yang ibu kira. Aku nggak pernah merayu Janu, sekalipun nggak pernah. Aku berani sumpah untuk itu."
Mahya memandangi putrinya, dan merasa bahwa kata-kata Chendana tidak masuk akal, "Jelaskan, bagaimana kamu bisa sampai di kamar Janu?"
Chendana menggigit bibirnya dan mengeluarkan suara lirih, "Arin...Arintha, dia yang memberikan---"
Sebelum dia melanjutkan apa-apa, Mahya dengan cepat mangangkat tangannya untuk menampar pipi Chendana dengan keras.
"Chendana! Kenapa kamu sangat tidak tahu malu? Apa keadaan Arin bisa seperti itu kalau dia memang berniat untuk menjebakmu? Kamu nggak ingat betapa pedulinya anak itu sama kamu selama ini!"
Suara Mahya jelas dipenuhi kemarahan tak terkendali ketika dia memikirkan keadaan anak tirinya yang seperti mayat berjalan.
Chendana mengulurkan tangan untuk menutupi wajahnya yang telah ditampar. Rasanya sakit, tapi tidak melebihi sakit dalam hatinya. Mahya memang nyaris tidak peduli kepadanya selama ini, tetapi dia tidak pernah memukulnya sebelumnya.
Ini adalah pertama kalinya dia dipukul oleh ibu kandungnya sendiri.
Mengangkat kepalanya, Chendana memeluk pipinya yang merah dan bengkak dalam satu tangan, suaranya bergetar saat dia berkata dengan lirih, "Apa yang harus aku lakukan supaya ibu percaya?"
"Tinggalkan Janu, jangan menikah dengannya!"
Chendana meremas tangannya, dan menunduk dengan pelupuk matanya yang sudah mulai berembun.
Sebagai seorang gadis, dia sudah tidak harganya. Dengan berita kejam di luar tentang dirinya. Bagaimana dia akan menjalani masa depannya kelak?
Dia hanya mau melindungi dirinya sendiri. Apakah itu salah?
"Egois!" Semprot Mahya.
Chendana masih terdiam, mencari-cari sedikit kasih sayang dalam diri wanita itu. Tetapi tidak sedikitpun tersisa. Hanya tatapan tajam yang mengirisnya, seolah dirinya adalah musuh.
"Bu..." Chendana memanggil lagi.
"Diam! Jangan pernah lagi memanggilku ibu. Aku hanya punya satu anak perempuan, dan dia sudah hancur karena perbuatanmu!"
Mahya selesai bicara. Dia menginjak sepatu hak tinggi dan segera berbalik, ketika berjalan keluar, dia bahkan tidak mau menoleh lagi ke belakang.
Tetapi, sebelum dia melangkah melewati pintu. Dia mendengar Chendana berkata dengan suara tercekat, "Bu, apa kamu benar-benar seorang ibu?"
Jeda sejenak...
Chendana mengambil napas dalam, sebelum kembali bersuara, "Dengan Arintha, ibu selalu menyayanginya, selalu berdiri di sisinya. Lalu, bagaimana denganku? Bagimu aku bahkan tidak bisa dibandingkan dengan seuntai rambutnya. Tapi ibu jangan memperlakukan aku seperti ini." Airmata mengalir di wajah Chendana.
Wajah Mahya tiba-tiba putih dan menakutkan, jari-jarinya sedikit gemetar. Di masa lalu, meskipun memgalamu kesulitan, dia tidak pernah melihat Chendana menangis di depannya.
Dia tersadar dengan rasa malu pada dirinya. Dia benar-benar lupa bahwa Chendana adalah darah dagingnya, anak yang dia lahirkan dengan bertaruh nyawa.
"Aku anakmu, darah yang sama mengalir di pembuluh darah kita. Siapa yang akan menyayangiku kalau ibuku sendiri tidak mau menyayangiku?"
Suara Chendana putus asa, dan pada saat dia menyaksikan sosok anggun itu pergi. Dia hanya bisa meringkuk kecewa.
Tak lama kemudian, Bik Roh berjalan masuk dan tanpa berkata apa-apa membantunya merapikan barang. Kemudian, dia menghiburnya dengan suara rendah.
"Na, bibi awalnya berpikir bahwa hidupmu yang kurang beruntung, akan berubah setelah kamu lulus kuliah. Dengan kecerdasan dan bakatmu, kamu bisa mendapat kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bibi tidak berharap, kamu yang masih muda ini akan benar-benar..."
Chendana menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Airmata kembali menggenang di matanya.
Bukankah kemarin dia tidak mau pergi, kenapa tetap pergi? Jika saja dia tetap di rumah pada saat itu, akankah semuanya menjadi lebih baik? Apakah itu akan tetap mengubah hidupnya?
Ada terlalu banyak jika dan pasti.
Hanya saja, hasilnya tetap sama. Dia tidak bisa mengubah dan harus menjalani takdirnya.
"Nana, kehidupan kita sebagai manusia memang seperti ini. Pasrah diatur sama yang punya hidup. Asal kamu iklash, legowo. Semua perkara bisa dijalani sebagai nikmat, bukan kesusahan."
Bik Roh melihat Chendana masih diam. Diam-diam, dia mengusap airmata dengan tangannya seraya kembali berkata, "Kamu harus patuh sama suamimu setelah menikah. Ketika sudah saling menerima, kalian pasti bahagia, dan kamu akan memiliki rumah yang hangat."
"Bagaimana kalau nanti aku tidak bahagia?" Bisiknya dengan airmata berlinang.
Bik Roh mendekati Chendana, dan lembut menepuk pipinya, "Serahkan semua sama gusti Allah. Kamu pasti bahagia, bibi yakin."
Chendana mengangguk dan berkata dengan lembut bahwa dia mengerti.
Meskipun Janu membencinya, setelah lama, perasaannya akan bisa berubah bukan?
Chendana awalnya berpikir bahwa pernikahannya yang mendadak ini akan diadakan dengan sangat sederhana. Bagaimanapun pernikahannya dengan Janu terjadi karena skandal. Jadi, dia menduga, asal sah, itu sudah cukup.
Namun, siapa yang menyangka bahwa keluarga Massry menganggap pernikahan ini sangat serius.
Aula besar di hotel Mulia dihiasi dengan karangan bunga mawar merah dan lily putih yang sangat mewah dan ekslusif, ukiran es terlihat seperti nyata.
Seluruh tempat bercahaya bercahaya dengan cahaya pertama fajar dari lampu kuning muda, sangat indah.
Para pelayan berlalu lalang diantara tamu berpakaian elegan dan glamour yang datang ke sini untuk bergosip. Alih-alih memberikan doa restu.
Mungkin ini bukan pernikahan yang sudah lama mereka nantikan, tapi tetap saja pernikahan bukan?"
Ada banyak pembicaraan di antara kerumunan, dan tentu saja ada beberapa hal yang dibicarakan secara pribadi. Tetapi melihat mata aneh mereka, Chendana bisa menebak apa yang mereka bicarakan. Namun ada beberapa hal yang tidak perlu dijelaskan sama sekali!
"Aku nggak tahu, harus iri atau kasihan sama pengantin perempuan." Tamu yang datang mulai berbisik.
Di atas pelaminan, Chendana mengenakan kebaya yang dipilih oleh Wina, duduk sendirian dengan canggung.
Kalau tamu melihat lebih dekat. Tak ada satupun yang terlihat bahagia. Raulan dan Wina, memaksakan diri untuk tersenyum, sementara Fiko dan Mahya mempertahankan sikap tidak peduli.
Raulan berkali-kali melihat jam tangannya sementara, istrinya, Wina, sudah mulai cemas melihat keluar.
"Kamu masih nggak tahu juga bagaimana sifat anak kita. Lihat kan? Ini akibatnya karena kamu paksa dia menikahi gadis itu! Bagaimana bisa menikah kalau nggak ada mempelai prianya?"
Wina sudah habis akal. Dari awal dia tidak terlalu menyetujui pernikahan ini. Sebagai ibu, dia yang paling tahu bagaimana anaknya.
Dia tahu Janu tidak akan jatuh cinta kepada wanita lain, selain Arintha.
Kedua keluarga sangat berpengaruh. Kalau Janu benar-benar tidak datang, itu akan menciptakan skandal baru yang semakin merusak reputasi keluarga mereka.
"Jangan takut. Janu tahu bagaimana tanggung jawabnya." Raulan menenangkan istri dan juga dirinya sendiri.
Tetapi, dia mendapati dirinya menatap penuh kasihan kepada mempelai wanita.
Detik berubah menjadi beberapa menit, lalu beberapa jam. Mempelai wanita itu masih tersenyum tak berdaya melihat tatapan kasihan yang mengarah kepada dirinya.
Para tamu sudah mulai menunjukkan ketidak sabarannya. Pada saat itu, seorang pemuda berjas hitam berjalan masuk dengan saku tangan di sakunya.
Langkahnya kuat dan mantap. Wajahnya selalu tampan tanpa cela. Terlepas dari itu, bibirnya yang biasa tersenyum cerah, ia tipiskan sedemikian rupa hingga nampak tidak berperasaan.
Melihat kedatangannya, Raulan barulah mengembuskan napas lega. Dia mencengkeram tangan istrinya. Ketika keduanya bertukar pandang sekilas, mereka paham, ini bukan berarti semua aman.
Janu memang muncul, tetapi mereka masih khawatir. Bagaimanapun, temperamen putra mereka selalu tak terduga.
Tidak ambil pusing dengan bisikan orang di belakangnya, Janu melangkah dengan kakinya yang panjang. Hanya butuh beberapa langkah sampai akhirnya dia mencapai Chendana.
Dia menunduk dan menatap wanita itu. Sudut mulutnya menunjukkan ejekan. Chendana menyadari itu, tetapi dia sudah terbiasa melihatnya.
"Chendana, apa dengan pernikahan ini kamu berharap suatu saat aku akan menyukaimu?"
Chendana menggigil ketika melihat mata tajam dan dingin di depannya. Dia sadar, Janu akan selalu mengambil kesempatan untuk mempermalukannya.
"Arintha menganggapmu sebagai saudaranya. Ketika dia bersamaku, dia langsung meninggalkanku tanpa ragu-ragu kalau kamu yang meneleponnya. Dia selalu tulus kepadamu, tapi begini balasanmu padanya. Ini yang kamu sebut persaudaraan?"
"Kak, aku..."
Janu meraih dagunya dengan tiba-tiba, "Bermimpilah! Aku tidak akan menyukai orang jahat sepertimu bahkan jika aku harus mati. Kamu sudah menghancurkan Arintha, dan aku akan menghancurkanmu! Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!"
Ternyata ini niatnya...
Chendana merasa goyah, langkahnya terhuyung. Kakinya lemas.
Matanya mulai kabur dengan airmata. Tetapi, dia masih bisa melihat ekspresi dingin dan kaku di wajah ibunya, ejekan di wajah ayah tirinya, dan bahkan lengkungan dingin dan tidak ramah pada sudut bibir Janu.
Mereka semua menertawakannya. Namun, Chendan hanya bisa menutup matanya dalam kepahitan.