LVY part 16 revisi

582 Kata
"Pacaran lama, udah dilamar, tinggal menunggu sah. Artis inisial AR mergokin pacarnya tidur dengan asistennya!!!"  Berawal dari cuitan yang dibuat oleh dari akun anonim. Berita yang tadinya hanya dianggap angin lalu, mulai memicu gelombang ombak setelah dibagikan lebih dari 1000 orang.  Pada sore hari, akun yang lain telah mengekspos potongan video untuk vlog, saat itu Arintha membuka pintu kamar yang ditempati oleh Janu.  Dia jalan berjingkat-jingkat, lalu berteriak.  "Matikan! Matikan, jangan rekam! Aku bilang jangan rekam! Jangan rekam!!!"  Rekaman video itu goyang dan tidak nyaman untuk mata, sebelum muncul layar gelap, kelihatan tempat tidur yang berantakan dan dua orang tanpa busana tidur saling mendekap.  Namun, unggahan ini langsung dihapus dan menghilang dari dunia maya sebelum berubah menjadi tsunami yang menghancurkan. Semua berkat andil dan kerja keras bagian Humas bekerjasama dengan divisi IT dari perusahaan Massry. Tetapi, apakah mereka lupa dengan kekuatan besar yang disebut sebagai netizen?  Apapun yang sudah diunggah di media sosial--meskipun sudah dihapus, selama itu sudah ada yang mengambil tangkapan layar, atau mengunduh videonya. Aib itu akan selalu muncul dan muncul.  Sama seperti video Janu dan Chendana. Video mereka diunggah lagi oleh orang lain, dan hanya beberapa jam langsung menjadi trending di Indonesia.  Karena laki-lakinya adalah anak pengusaha terkenal yang juga kekasih dari artis kesayangan mereka saat ini, secara alami semua orang menaruh perhatian yang berlebihan. Dan itu membuat semuanya dalam masalah.  Terutama untuk reputasi dua keluarga mereka.  Karena kejadian ini, Arintha mengalami shock yang luar biasa. Dia terus-terusan menangis sampai kehilangan kesadarannya.  Ketika Janu dan orangtua nya datang ke rumah sakit, Fiko menyambutnya dengan satu tamparan keras.  “Kamu… kenapa kamu melakukan ini? apa tidak cukup Arintha untukmu?" Fiko memandangi pemuda didepannya dan meraung, matanya menjadi amarah yang tak terkendali.  Ada dilema dalam hatinya. Antara membiarkan Anaknya tetap bersama pemuda kurang ajar ini, atau menyuruhnya putus, tapi kehilangan kerjasama yang menguntungkan.  Janu meremas rambut dengan kedua tangannya. Dia sangat marah, terutama dengan dirinya sendiri, "Berapa kali harus ku bilang? Aku benar-benar nggak tau itu Chendana!"  "Apa bedanya Chendana atau bukan? Itu sama-sama menyakiti hati Arintha!" Katanya lagi dengan marah.  Otot-otot di wajah Janu bergerak-gerak, melihat Arintha yang pucat seperti mayat hidup, dia berjalan perlahan ke arah Arintha yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan berlutut: "Arin...maafkan aku...malam itu aku tidak..."  "Pergi jangan minta maaf kepadaku, minta maaf lah Ke Nana. Bertanggung jawablah sama dia." Ketika bicara seperti itu, Arintha tidak mau melihat Janu. Wajahnya pucat dan lemah membuatnya terlihat sangat menyedihkan. Tindakan Arintha ini mengejutkan semua orang, dan mereka semua memandangnya luar biasa! Mahya bahkan tidak percaya dan berjalan ke arah putriya: "Arin, apa yang kamu bicarakan? Kalian akan bertunangan. Kalau kamu membiarkan mereka menikah, itu akan lebih menyakitimu." Arintha mengatupkan bibir bawahnya dengan lembut, menyedot hidungnya dan tersenyum, memandang ke langit yang jauh dan berkata dengan lemah: "Lebih baik satu orang disakiti ... daripada masalah ini berimbas ke yang lain, terutama perusahanaan ... kalian tahu kan, bagaimana orang-orang sekarang?"  Semua memahami alasan Arintha, dan mereka, tidak tahu harus berkata apa ...  Tetapi ada alasan tersendiri bagi Arintha melakukan hal itu, tentu saja dia harus menjaga citranya sebagai korban yang paling menderita. Ketika pada akhirnya kamar tempat ia dirawat kosong. Arintha menyingkirkan infus yang dipasang di pergelangan tangannya. Dia menelepon sambil melihat hutan beton dari lantai lima, "Terus pantau dan naikkan beritanya, jangan sampai tenggelam." "Sampai kapan!" Tanya suara di ujung lain. Arintha melingkarkan telunjuknya pada ujung rambutnya yang indah, "Tentu saja sampai Janu mau menikahi perempuan bodoh itu. Setelah itu, barulah kita bisa bebas bersenang-senang."  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN