Arintha tidak memiliki adegan film hari ini, jadi dia semula berencana untuk menghabiskan waktu untuk bersantai di rumah kemudian pergi ke salon sorenya.
Namun, karena ada perubahan script yang tiba-tiba saja diberitahu oleh penulis naskah, semua rencananya ia batalkan.
Chendana yang berdaya mengikuti gadis itu. Telinganya sudah berdengung, bahkan hampir tuli karena terus menerus mendengar omelannya.
Hari ini mereka akan mengambil film untuk adegan kecelakaan.
Sebenarnya adegan ini tidak ada dalam versi novel. Tetapi penulis naskah membuat improvisasi sendiri dengan seijin penulis aslinya.
Masing-masing pemain mengambil revisi naskah terbaru untuk dirinya sendiri. Janu mendengus jijik ketika dia melihat tangan Chendana terulur untuk mengambil naskah milik Arintha.
Menyadari itu, bibir Arintha tersungging senyuman samar. Entah apa yang membuat Janu tidak menyukai Chendana.
Arintha tidak memiliki adegan film hari ini, jadi dia semula berencana untuk menghabiskan waktu untuk bersantai di rumah.
Namun, karena ada perubahan script yang tiba-tiba, semua rencananya ia batalkan.
Chendana yang berdaya mengikuti gadis itu. Telinganya sudah hampir tuli karena terus menerus mendengar omelannya.
Hari ini mereka akan mengambil film untuk adegan kecelakaan.
Sebenarnya adegan ini tidak ada dalam versi novelnya. Tetapi penulis naskah membuat improvisasi.
Masing-masing pemain menerima revisi naskah terbaru. Janu mendengus jijik ketika dia melihat tangan Chendana terulur untuk mengambil naskah milik Arintha.
Menyadari itu, bibir Arintha tersungging senyuman samar.
"Adegan ini sengaja ditambahin supaya penonton baper. Jadi, kami mengandalkan chemistry kalian berdua. Terutama kamu Arintha!" Sutradara menatap gadis di depannya.
Kekhawatirannya menjadi kenyataan. Akting pendatang baru ini masih payah, mentah. Parahnya, dia tidak bisa marah. Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena dia direkomendasikan oleh sponsor.
Awalnya sutradara kawakan itu merasa heran, dari sekian banyak artis muda berbakat. Kenapa, Massry yang merupakan sponsor utama, memaksa supaya peran Salwa jatuh ke tangan Arintha.
Tetapi, begitu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana putra keluarga itu mereka memperlakukan Arintha Risjad, dia jadi paham.
500 ribu dollar, hanyalah angka yang bisa ditulis dan diangan-angan oleh orang biasa, tetapi untuk keluarga Massry, 500 ribu dollar yang mereka investasikan untuk film ini, hanyalah sebungkus es batu yang dibuang begitu saja di tengah jalan saat hari panas.
Sutradara sepertinya hanya bisa mengikuti kemauan investor. Setelah bertahun-tahun membuat film, dia tahu, idealis tidak bisa dipakai untuk membeli beras, membayar cicilan, atau untuk membuat senang pasahgannya.
"Oke! Talent pergilah make-up dan ganti outfit kalian! Kita mulai setengah jam lagi!"
Selama Arintha dipoles, Chendana membaca ulang naskah dengan tekun. Dia juga membuat coretan dan catatan kaki agar mudah dimengerti oleh Arintha.
Dalam adegan ini, Nat baru saja bertengkar dengan orang tuanya yang menyuruh dia mengakhiri hubungan dengan Salwa. Seperti layaknya cerita Romeo Juliet, Salwa ternyata anak dari musuh keluarga. Masih dengan emosi, dia mengendarai motornya ke rumah Salwa, dan melihat pacarnya sedang dipeluk oleh saingannya yang diperankan oleh Iqbaal.
Dalam versi novel, semua pemeran utama dan pemeran keduanya memakai mobil-mobil sport mewah bertebaran dalam setiap bab.
Tetapi karena harga mobil sport terlalu mahal, dan untuk menekan biaya produksi, penulis naskah menggantinya dengan motor yang sudah dimodifikasi.
Arintha adalah orang yang pertama keluar setelah mengganti pakaian. Chendana langsung menghampiri dan menyodorkan naskah.
"Arin, dari baris ini sampai sini bagianmu."
Arintha melihat lebih dekat pada naskah yang ditunjukkan oleh Chendana. Ada banyak tanda dan coretan tulisan tangan Chendana di sana.
"Bagian ini paling penting. Tunjukin bagaimana perasaanmu waktu Nat koma dan divonis nggak akan bisa bangun lagi."
"Susah amat sih! Tinggal nangis, pakai tetes mata saja kenapa?" Dia merengut. Kelemahannya memang adegan menangis.
Chendana menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kamu nggak bisa menghayati perannya kalau pakai tetes mata. Bayangin aja hal-hal yang bikin sedih."
Kedua alis Arintha sedikit mengernyit setelah mendengar ini, kemudian termenung, "Apa ya? Bingung aku, Na. Soalnya hidupku senang terus sih, nggak pernah sedih."
Ketika mendengar kata-kata Arintha. Chendana hanya meringis.
Benar juga, anak yang lahir dengan sendok emas seperti dia, mana kenal dengan sedih.
"Kamu lihat aku." Chendana menundukkan kepalanya.
Pertama-tama memasang ekspresi tidak berdaya, dan kemudian sedikit bingung. Semenit kemudian, gelombang airmata mulai membasahi bulu matanya yang panjang.
Sutradara memandang Chendana dengan mata rumit. Apa dia benar-benar berkakting? Ekspresi sedihnya begitu kuat. Kalau saja wajahnya tidak jelek, dia bisa jadi artis watak penerus Christine Hakim.
"Arintha! Kamu yang pertama take, mana Iqbaal?"
Bagian properti tergopoh-gopoh mendekat, membisikkan sesuatu ke telinganya.
Setelah mendengarnya, sutradara mengangguk. Sambil melihat Arintha.
"Kamu latihan dulu sebentar." Sutradara memberi arahan, "Buat senyata mungkin, kalau kamu bisa memainkan adegan ini dengan baik, maka nggak akan ada masalah lagi dalam sisa adegan."
"Mas Hanung, Mas santai aja. Dia pasti bisa melakukannya."
Pada saat ini, Janu baru selesai mengetes laju motornya.
Saat Janu mematikan motor dan berjalan masuk, set langsung meledak, terengah, dan Arintha bahkan tidak bisa menahan mulutnya yang terbuka takjub.
Aura tuan mudanya hilang, berubah menjadi cowok urakan. Kecuali kaosnya yang putih bersih, jaket, jeans dan sepatunya berwarna hitam. Rambutnya berantakan seperti tidak mengenal sisir. Namun, gaya itu membuatnya sangat menawan, alisnya gelap dan tebal, dan dia masih memiliki tatapan arogan yang mengancam.
Orang-orang yang awalnya bias terhadap aktingnya, bahkan mulai mengakui kalau dia memang sangat cocok untuk peran badboy.
Dengan senyumnya yang seperti gula, dia menghampiri Arintha.
"Karena kita berdua sama-sama tidak berpengalaman, bagaimana kalau latihan bareng?"
Arintha tidak menolaknya. Dia menyuruh Chendana pergi begitu mengambil naskahnya.
Janu menemaninya menjalani tiga putaran latihan, dan Arintha berhasil mendapatkan jiwa untuk perannya yang agak melankolis.
Tidak jauh dari sana, gadis-gadis melihat dua orang yang saling menempel satu sama lain dengan sangat akrab. Mereka semua cemburu.
Sejak tiba, Janu telah memberi semua perhatiannya kepada Arintha. Dia bahkan tidak memberi kesempatan untuk para gadis mendekati dan mengenal dirinya kecuali pada saat pengambilan adegan.
Ketika akhirnya menyerah untuk mendapatkan perhatian pewaris tampan, mereka hanya bisa bergosip.
"Dia ada di sini, bisa jadi memang karena Arintha. Aku pernah dengar, peran ini sudah deal buat Iqbaal, sebelum akhirnya mendadak diganti."
"Bukannya sponsor terbesar buat film ini dari perusahaan Massry? Wajarlah kalau anaknya yang jadi pemeran utama."
"Yang paling penting, mereka berdua emang cocok."
Saat mereka bergosip, mereka melihat Janu dan Arintha berjalan mendekati sutradara.
Gambar seorang yang tampan dan seorang yang cantik adalah vitamin untuk mata dan penyakit buat hati.
Pengambilan film kembali dimulai.
Pada saat ini, senja baru saja bergulir. Pencahayaannya cukup bagus. Tim pendukung telah menyiapkan set dengan benar, dan semua aktor sudah ada di tempat.
Figuran mulai berjalan hilir mudik di kedua sisi jalan. Petugas keamanan komplek memberi hormat pada penghuni yang baru masuk dengan mengendarai mobil mewah.