LVY part 10 revisi

1112 Kata
Nataniel baru saja keluar dari rumah Salwa dengan marah. Dia mengira pacarnya mendua.  Kamera mengikuti Arintha yang mengejar motor Janu. Gambar close-up menangkap wajahnya yang bersih dibasahi airmata.  Sutradara melihat penampilan Arintha dengan penuh perhatian. Raut kesal muncul di wajahnya.  "Nat, dengerin aku dulu." Lalu, dia memandangi jalan dengan tatapan nanar.  "Cut!" Sutradara berteriak, "Ekspresinya... ekspresimu kurang dapat."  Arintha mencoba lagi. Selagi dia tidak mendengar aba-aba, Arintha terus berlari ke jalan raya.  Sampai terdengar teriakan cut! Baru dia berhenti.  "Oke, bagus!" Dia menepuk bahu Arintha, "Siap-siap untuk adegan berikutnya."  Dalam adegan berikutnya motor yang dikendarai oleh Janu menabrak trotoar dan dia terluka parah.  Meskipun itu trotoar buatan dari busa dan styrofoam. Saat berada di atas motor, Janu sebenarnya sudah merasa gugup, sesuatu yang tidak biasa baginya.  Sebenarnya, meski kelihatan tenang di permukaan, dia agak trauma sejak kecelakaan sebelumnya. Tetapi, adegan ini begitu penting buatnya.  Dia mau mendengar lagi suara lembut Arintha yang berkata, "Tahan sebentar...aku akan menolongmu."  Pada saat ini sutradara berjalan mendekat, "Kita hanya perlu mengambil beberapa sudut yang bagus. Jadi, santai saja bawanya, nggak usah terlalu ngebut."  Janu memasang helm dan sarung tangannya, "Berapa kira-kira yang pas?"  "40-50."  Setelah Janu mengatakan oke, sutradara berjalan kembali ke kursinya, "Kita mulai sekarang!"  Pemandangan berikutnya diikuti setelah kejadian sebelumnya, itu adalah jalan raya.  "Semua sudah berakhir." Janu menutup matanya dan bergumam dengan sedih dan menyesal.  Ketika mendengar suara rem berdecit diikuti bunyi 'brak!' yang keras. Wajah Chendana pias.  Kejadian ini seperti dejavu baginya. Pengendara motor terkapar tak berdaya, dan tidak ada yang menolong.  Sama seperti dulu.  Dia berlari sekuat dengan sekuat tenaga, berlari dan berlari untuk menolong orang yang hampir mati itu.  "Kenapa kalian diam saja! Cepat tolong dulu!"  Sutradara tertegun. Sebuah jejak emosi terlihat di wajahnya.  "b******k!" Teriak Janu. Dia memaki lebih dulu dari pada sutradara. Wajah tampannya memerah ungu gelap saat ini. Kalau saja tatapan sengit bisa membunuh, Chendana sudah mati saat ini, "Siapa yang mengijinkan orang dungu ini ke lokasi syuting?"  Itu seharusnya menjadi adegan yang bagus. Feel dan suasananya sudah tepat. Itu sebelum dikacaukan oleh perempuan jelek ini.  "Apa yang terjadi?" Sutradara bergegas mengatasi amarah yang tertulis di wajahnya. "Kenapa kamu tiba-tiba masuk?"  "Aku...aku takut terjadi apa-apa."  "Apa posisimu sampai merasa berhak mengkhawatirkanku!" Janu masih emosi. "Apa otakmu tidak berpikir ini sedang syuting?!"  "Maaf," Suara itu tidak lagi ada energi. Seperti balon yang telah hancur, dan permukannya berkerut.  Janu mengkritik, "Kemarin minta maaf! Hari ini minta maaf! Kalau semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan maaf, hakim nganggur. Pengadilan sepi! Bodoh!"  Sebenarnya tadi hanya perlu sekali pengambilan. Karena adegan ini sudah hancur, mereka harus mengambil adegan satu kali lagi.  Kru yang terlibat dalam adegan ini mulai mengeluh karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Semua menyalahkan Chendana.  Arintha tidak menduga sesuatu yang buruk akan muncul. Seketika, dia memarahi Chendana ratusan kali dalam hatinya, tapi dia masih membela gadis itu dengan penuh perhatian.  Arintha menarik tangan Chendana supaya berdiri di belakangnya, "Nana punya trauma, dulu ayahnya meninggal kecelakaan. Jadi, semuanya, atas nama Nana, aku minta maaf. Jangan marahi dia lagi."  Janu berbalik dan melihat kesuraman di wajah Arintha yang lembut. Emosinya hilang seketika.  Sekarang, sangat jelas, Arintha ini semakin menarik bagi Janu. Di usianya yang sangat muda, kebanyakan gadis hanya berpenampilan menarik, tapi sangat jarang yang memiliki karakter baik.  Dalam hatinya, dia agak menyesal. Kenapa tidak melihat gadis ini sejak dulu.  Reaksi terpesona Janu juga dilihat oleh sutradara. Dia tersenyum ketika berpikir, film ini akan mendapat promosi gratis kalau mereka menjalin hubungan.  "Sudah-sudah!" Sutradara menghalau semuanya pergi. "Masih ada waktu, kita ambil adegan ulang."  Semua bergumam beberapa kata sebelum memelototi Chendana dan beranjak pergi.  Begitu mereka tinggal berdua, Arintha langsung memuntahkan omelan. "Nana, apaan sih kamu ini? Bikin malu aja!"   "Arin," dia mendekati telinga Arintha, berbisik.  "Bagaimana mungkin bisa?" Arintha benar-benar tidak mempercayai ucapan Chendana, berpikir itu hanya trik murahan belaka. Namun, dia tetap membesarkan hatinya dan meyakinkan, "Tapi, nanti aku tanyain oke! Sementara kamu diam aja dulu."  Kru bagian properti bekerja dengan cepat. Tidak sampai satu jam, set sudah kembali rapi.  Sutradara telah bergulat kembali dengan tenang. Entah bagaimana dia terlihat lebih senang kali ini, "Kalau begitu, mari kita mulai!"  Pada saat ini, motor yang dikendarai Janu langsung berbelok dan terjatuh. Pria itu tidak bergerak.  Arintha datang dari sisi lain dan mulai histeris memanggil nama Natanael.  Dengan akting pemeran utama yang mentah, semua berpikir adegan ini akan diambil minimal tiga kali tembakan.  Tetapi yang mengejutkan semua orang, tindakan dan emosi Arintha menyatu dengan perannya.  Di akhir tembakan, sutradara mengambil gambar tambahan.  "Cut!" Sutradara berkata sambil tersenyum, "Ini benar-benar bagus. Kita lanjutkan besok lagi."  *** Syuting memang belum 100 persen selesai. Tetapi bagian pemasaran sudah menyebar highlight berupa potongan adegan yang bikin penonton, terutama remaja putri baper.  Salah satu klip yang ditampilkan ketika adalah ketika Arintha menangis saat Janu kecelakaan.   "Janu, Janu. Adegan ciuman hujan-hujan kayak di novelnya ada nggak?"  Janu mengangkat alis, "Maunya ada, tapi kayaknya dipotong."  "Ahhhhh!!!!" Gelombang protes langsung diserukan penonton. Arintha memutar matanya, "Hei, masih kecil nih, enak aja minta adegan cium!"  Celetukannya membuat penggemar yang berkumpul ketawa.  Di depan orang dan kamera, Arintha memang selalu ramah.  Tak butuh waktu lama, sambil menunggu film rilis, para penggemar mulai menjodohkan kedua pemeran utama.  Foto, video, dan snap hasil editan penggemar banyak beredar, menandakan kapal pasangan sudah berlayar.  Ketika melihat infotaintment dan berita gosip online, hati Mahya hampir meledak saking gembira.   Bagaimana tidak, semuanya memberitakan hubungan Janu dan Arintha dengan narasi berlebihan dan potongan-potongan adegan yang sengaja disebarkan oleh produser sebagai pemanis.  Memang itu hanya bagian dari promosi. Tetapi, tatapan mata dan gesture tubuh mereka tidak bisa bohong. Kedua anak muda itu, memang saling suka.  Waktu berjalan terus. Syuting juga berlangsung mulus tanpa hambatan.  Arintha pergi syuting setiap hari tanpa ditemani oleh Chendana.  Chendana berhasil meyakinkan Mahya bahwa dia harus diam di rumah, belajar, belajar, belajar. Kalau tidak mau membuatnya malu.  Dengan Arintha yang ikut turun tangan, akhirnya ijin itu turun dengan mudah.  Arintha selalu pulang dengan mood yang bagus. Aktingnya terus dipuji oleh pak Sutradara yang yakin filmnya akan mendapat box office.  Juru kameranya kedengaran puas dengan bintang utama. Juga, pemeran utama pria nya yang semakin lengket seperti kena pelet.  Kenapa nggak kamu undang Janu ke sini," tanya Fiko sambil melirik anaknya.  "Papi, ih!" Arintha malu-malu depan papinya, "Orang cuma temen kok."  "Temen merangkap sopir ya? Kemana-mana diantar jemput." Mahya ikut meledek dengan mata berbinar, tersenyum menggoda.  Arintha merasa panas pipinya. Memang susah membohongi mami.  Begitulah Chendana, kalau siang dia disuguhi kemesraan Arintha dan Janu. Malamnya, melihat pertunjukan kasih sayang orang tua dan anak.  Untungnya Chendana sedang kerasukan setan belajar, sehingga matanya saja yang melihat, pikirannya sibuk ditempat lain.  Jadi, hatinya tidak begitu menderita. Termasuk saat dia menemukan tatapan jijik dan sinis dari Janu entah apa penyebabnya.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN