LVY part 11 revisi

1565 Kata
"Ada berita yang beredar nih, denger-denger, Janu keluarin uang banyak untuk peran di film itu, buat pedekate sama kamu. Itu bener nggak sih? Cerita dong, pemirsa, terutama shipper kalian banyak yang kepo nih."   Ada jeda panjang...   Pertanyaan-pertanyaan itu pasti selalu muncul setiap kali Arintha datang untuk  menjadi bintang tamu atau pengisi acara talk show di televisi.   Dalam dunia hiburan di Indonesia, kehidupan pribadi artis memang jauh lebih menarik dari pada karya yang susah payah mereka hasilkan.   Itu adalah situasi yang selalu dan sering dihadapi oleh Arintha saat ini.   Untungnya, dia pandai menindaklanjuti. Dia selalu memainkan peran sebagai gadis muda yang baru mengenal cinta,  polos dan malu-malu, "Tentang itu...coba tanya kak Janu. Dia lebih tahu kayaknya."   Arintha memang selalu memberi jawaban yang  ambigu. Membuat semua penggemarnya menjadi semakin gemas penasaran. Mereka semua menebak-nebak dan berspekulasi, akibatnya dia menjadi artis baru yang selalu menjadi buah bibir. yang selalu menjadi buah bibir. Popularitas Arintha memang semakin meroket setelah film pertamanya rilis. Meskipun film itu hanya dua minggu bertahan di tangga box office Indonesia, tetapi menjadi satu dari sepuluh film Indonesia yang paling banyak dibicarakan di media sosial. Meskipun itu sudah beberapa waktu berlalu, tapi sampai hari ini, dia berhasil mempertahankan popularitasnya sebagai pasangan yang paling banyak diharapkan benar-benar jadian oleh netizen.   Berbagai orang telah menggali berita dari berbagai platform berita online, dan menemukan bahwa kedua orang itu sudah sering kepergok jalan berdua atau mendatangi suatu acara bersama keluarga masing-masing. Hal ini membuat kehaluan netizen semakin menjadi liar dan tidak terkendali. Apalagi, setelah selesai syuting dan film tayang adaptasi itu tayang. Janu berhenti dari dunia hiburan, dia menolak semua tawaran film ataupun sinetron yang datang padanya.   Itu menjadi bukti nyata yang tidak terucap, kalau Janu memang sengaja membuat film itu untuk Arintha.   "Hari ini, kami juga bintang tamu spesial. Siapa dia? Bisa tebak nggak? Hayo, siapa, siapa?" Kak Rose, pembawa acara kulik selebritis, bertanya kepada penonton di studio. Senyuman wanita itu tersirat banyak makna. Ketika penonton mulai tidak sabar, dia segera berseru, "Mari kita sambut, Janu Reivansyah Massry!"   Suara musik dari band tumpang tindih dengan suara tepuk tangan meriah dari penonton dalam studio. Mereka sudah lama menunggu saat-saat seperti ini. Janu masuk sambil melambaikan tangan kepada penonton. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Arintha.   Melihat itu, Kak Rose tertawa bersama penonton dan menggoda mereka dengan hangat, "Kalian ini, emang nggak bisa jauh-jauh ya. Maunya nempeeeeel terus." Katanya centil.   Karena host yang nampak santai menegurnya, Janu jadi merasa nyaman, dan dia bersikap seolah-olah mereka adalah teman.   "Lho...memang ada larangan duduk dekat pacar sendiri?"  Tanyanya diikuti dengan tawa renyah. Arintha yang duduk di sebelahnya, menutup mulutnya terkejut, lalu pura-pura marah, "Kak Janu, ih! Kenapa bilang, kita kan udah sepakat ini rahasia!"   Janu menggeser tubuhnya, dia dengan serius berkata, "Itu karena kamu terlalu cantik. Aku jadi khawatir kamu diambil orang. Di tambah lagi, aku mesti bersaing sama penggemarmu yang banyak itu."   Penonton mulai meledak dan memggila, penggemarnya senang, Jadi benar, mereka memang pasangan! Sementara itu, haters mencibir tidak percaya. Acara talkshow itu langsung jadi trending. Biasanya acara-acara begini selalu ada gimmick supaya acaranya tetap ramai. Haters sudah bilang ini settingan, tetapi para penggemar yakin, yang pasangan ini tampilkan benar.  itu murni perasaan mereka yang tulus. Janu tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Fakta bahwa dia mengaku dan mengatakan perasaannya dalam siaran langsung. Membuat siapapun, terutama gadis-gadis menjadi ikut meleleh.   Ketika potongan adegan dalam video itu diunggah pertama kali, di channel youtube milik Arintha, jumlah penontonnya mencapai 2 juta dalam satu minggu.   Dua tahun berlalu. Video itu sudah dilihat oleh 30 juta penonton, dan disukai oleh 10 juta orang.   Dan sekarang, yang ditanyakan oleh penggemar kepada pasangan itu adalah. Kapan menikah?   *** Hotel Hyatt semakin ramai di malam hari.   Para pengamat mode, artis, sosialita dan wanita pecinta mode berkumpul menjadi satu dalam pekan mode Jakarta.  Acara setahun sekali yang sudah lama ditunggu. Bukan hanya model dan perancang yang sibuk. Chendana juga sibuk. Dia mondar-mandir mengurus semua keperluan Arintha. Termasuk karangan-karangan bunga yang datang.   Sementara, Arintha sudah menghilang ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.   Pintu ruangan mengayun terbuka. Di pikirnya itu Chendana, ketika Arintha melihat bayangan tubuhnya di cermin. Pada saat itu, tatapan matanya terkunci pada sepasang bola mata yang ia kenal.   Wajah lembutnya bersinar dengan suka cita saat dia terburu-buru menyerahkan diri ke dalam pelukannya, "Apa yang kamu lakukan di sini?"   "Merindukanmu. Apa lagi?"   "Tapi ini berbahaya." Dia bergegas mengunci pintu, "Bagaimana kalau ada yang melihat?"   "Semua sudah tahu, ada hubungan apa diantara kita. Apa yang kamu takutkan?" Sahutnya seraya meraih pinggang tipisnya. "Lihat, betapa menggairahkan tubuhmu, aku sudah nggak bisa lagi menahannya."   Kita melakukannya di sini?" Arintha menatap pria di depannya dengan mata yang tergila-gila padanya.   "Kamu nggak suka?"  Tanyanya penuh godaan. "Ini ruang ganti..."   Jemari pria itu menyusuri kelembutan lengan Arintha, naik turun, dari siku ke lekuk bahunya.   "Bukannya ini mengasyikkan?" Katanya, dengan seringai nakal di wajahnya.   Arintha merapatkan tubuh mereka, mengulurkan kedua tangan melingkari leher prianya, dan ketika sudah melakukannya, tangan pria itu mulai menyelinap nakal.   Arintha tidak menggunakan apa-apa di balik gaun biru safir yang ia kenakan. Dadanya yang bulat memenuhi tangan pria itu, ibu jarinya mengusap kedua ujung p******a yang menegang.   Tubuh Arintha bergetar dan napasnya tersengal dalam ciuman penuh gairah.   Setelah beberapa saat, suara terengah-engah mulai terdengar samar dari ruang ganti.   "Ng...Ahh!"   "Kamu suka?" Dia berhenti memainkan kedua ujung p******a Arintha dengan lidahnya.   "Jangan tanya lagi, lakukan saja!"   Arintha menarik kembali wajah tampan itu kembali ke dadanya. Dia kembali mengerang ketika lidahnya yang basah mengisap payudaranya penuh napsu dan memberi serangan berupa gigitan gigitan kecil yang menggairahkan.  Dia tidak tahu berapa lama mereka di dalam sana menikmati cumbuan yang membuat kakinya lemas menjadi  seperti jelly.   Sementara itu, Chendana mondar-mandir mencarinya seperti anak ayam yang mencari induknya. Hari ini Chendana menemani Arintha yang menjadi bintang tamu Jakarta Fashion Week.   Dia akan memperagakan karya terbaru dari perancang gaun terkenal, Oscar.   20 menit menjelang penampilannya, artis itu belum juga muncul.  Chendana mulai cemas, dia berlari kalang kabut menuju ruang ganti pribadi.   "Arintha, cepetan, sebentar lagi giliran kamu tampil!"   Suara ketukan pada pintu ruang ganti yang mendahului suara Chendana, seperti air dingin yang mengganggu kesadaran keduanya.   Pria itu mengigit bibirnya yang lembut sebelum menariknya menjauh dengan enggan, "Pergilah."  Arintha enggan, tetapi suara ketukan itu terus terdengar, membuatnya sangat gusar. "Sebentar!" Serunya dengan suara parau.   Setelah merapikan rambut dan pakaiannya. Arintha mengambil napas dalam-dalam, kemudian melangkah keluar.   Pasangannya yang ia tinggalkan begitu saja, melipat kedua tangannya di d**a, sebelum punggung yang menawan itu menghilang di telan pintu, dia sempat mendengarnya mengarang sebuah alasan untuk asistennya yang canggung.   "Kamu nggak apa-apa? Nggak ada masalah kan?" "Perutku agak bermasalah. Salah makan kayaknya."   Senyuman sinis samar tercetak di bibir tegas milik pria itu. Huh! Perawan murni dan polos...   Penggemar harus benar-benar mendengar, bagaimana nakal dan liarnya perempuan itu.   Chendana harus menungu lama sampai akhirnya Arintha keluar. Seperti biasa, Arintha selalu berjalan dua langkah di depan, dan dia mengekorinya dengan patuh.   Ketika tanpa sengaja dia menoleh ke belakang, pintu ruang ganti terbuka. Seorang pria keluar dari sana.   Ketika mendapat kesempatan bicara, Chendana memperingatkan Arintha untuk tidak melakukan tindakan yang akan membuatnya menyesal.   "Kami cuma ngobrol, nggak lebih." Arintha nampak kesal dengan peringatan dari Chendana.   Dia merasa sudah dewasa tak ada salahnya sedikit bermain-main, selama dirinya masih tahu batas mana yang boleh dan mana yang tidak.   Selama acara, tidak sedikitpun matanya lepas dari Arintha. Dia juga melihat pria tadi duduk dikursi VIP, melihat Arintha seolah hendak menelannya.   Chendana hanya bisa membungkam, dan hanya berdiri tanpa daya.   Apapun yang dilakukan oleh Arintha, Janu pasti akan tetap memaafkannya dan menerimanya kembali.   Sampai saat ini, acara berjalan dengan baik.   Lenggak lenggok Arintha diatas catwalk mendapat sambutan meriah. Hari ini dia memakai dua rancangan haute couture. n Gaun biru safir yang ia kenakan menarik napas semua orang. Desainnya yang berpinggang tinggi membuatnya nampak lebih ramping dan tinggi.   Setelah putarannya yang kedua selesai, Arintha kembali ke catwalk bersama dengan desainer dan model yang lain. Penampilannya berubah menjadi peri dengan gaun pengantin berwarna tulang.   Arintha mengangkat gaunnya dan berjalan dengan anggun dan lembut ke tengah panggung.   Dia tidak menyadari, Janu muncul dari sisi panggung sambil membawa buket mawar merah.   Dia berjalan dengan penuh percaya diri ke atas panggung, sementara Arintha mengawasi dengan mata membelalak, bibirnya sudah berseru senang.  "Aku kira kakak nggak datang. Bukannya semalem bilang nggak dapat tiket?"   Janu menghampiri dan mencium pipinya, "Mana mungkin aku melewatkan penampilanmu yang luar biasa."   Di sudut yang gelap dekat panggung, Chendana dibutakan oleh kemesraan mereka.   Chendana memperhatikan ketika Janu tersenyum cerah dan bertindak layaknya seorang pria idaman. Dia bahkan mau berlutut untuk membetulkan letak gaun Arintha.   Ternyata itu pura-pura.   Ketika dia mengeluarkan cincin dari saku celananya, semua orang bertepuk tangan dengan gemuruh.   Blitz menyala tanpa henti.   Setelah acara tersebut, Arintha dan Janu meladeni pertanyaan wartawan dengan sukacita tanpa akhir.   Namun, Chendana tertegun dan tetap tidak bergerak. Tanpa ia sadari, matanya terus mengikuti kemanapun Janu bergerak.   Dalam setiap pandangan, Chendana menyadari bahwa perasaannya kepada Janu mulai berkecambah, dan terus tumbuh setiap hari. Dia tidak bisa berhenti berpikir tentang dirinya.   "Kamu menyukaiku?" Suara dingin melayang dari belakang kepalanya.   Janu mendekatinya dengan langkah layaknya seekor pemangsa. Wajahnya yang angkuh dipenuhi dengan kemarahan yang ditekan.   Punggung Chendana bertabrakan dengan dinding, sosok di di depannya, mencengkeram dagunya kasar, "Aku peringatkan. Simpan semua perasaan menjijikkan ini untuk dirimu sendiri! Dan, menjauhlah dari penglihatanku sejauh mungkin!"   Dia mengatakan maksudnya dengan cara yang kasar dan kejam. Menyisakan hati yang perlahan-lahan hancur.  Darahnya yang menyelamatkan hidupnya.  Tetapi, pada akhirnya, pria itu hanya menganggapnya seperti kuman.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN