Mahya mengadakan pesta koktail untuk merayakan ulang tahun ke dua puluh Arintha. Sekaligus menandai kemunculan perdana Janu dan Arintha di depan publik, setelah lamaran yang menghebohkan dunia hiburan malam itu.
Ini akan menjadi pesta paling menarik yang pernah diatur oleh Mahya selama ini.
Sejak kemarin, Chendana ragu-ragu untuk ikut datang ke pesta itu, ada perasaan tidak enak menghantuinya. . Jam tiga sore, dia sengaja tidur, supaya pada saat Arintha menelepon dan menyuruhnya datang nanti, dia bisa bilang belum siap, dengan harapan Arintha kehilangan kesabarannya, dan meninggalkannya di rumah berdua saja dengan bik Roh.
Akan tetapi, dia tidak bisa tidur. Chendana teringat dengan kakek dan neneknya di kampung. Bagaimana kabar mereka berdua sekarang?
Selama ini, dia berpikir, dirinya bisa langsung pergi dari rumah ini setelah satu tahun. Tepatnya, setelah lulus SMA.
Tetapi, Mahya selalu bisa mengendalikan segala sesuatu tentang dirinya, termasuk sekolah dan cita-citanya. Ketika dia mulai menyadari, dua tahun sudah, dan dia sudah terikat erat dengan Arintha.
Chendana menghela napas dalam-dalam.
Setidaknya, uang yang diberikan oleh Arintha selama ini, cukup untuk biaya kuliah nanti. Chendana menghibur dirinya sendiri, karena itulah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang.
Rasanya, dia baru saja terlelap dalam mimpi, ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan keras seperti didobrak oleh perampok. Arintha masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
Dia berkacak pinggang, mengangkat matanya dan melihat Chendana dengan sengit. Dia sudah bergegas ke sini untuk menjemputnya, yang dijemput malah enak-enakan tidur.
Ditariknya guling dan pelukan Chendana dengan semena-mena. "Nana! Bangun! Bangun!"
Chendana meliriknya malas-malasan dari balik bantal. Arintha mengenakan hotpants Zarra dan kaos kebesaran, tanpa riasan mencolok pada wajahnya.
Chendana meregangkan badan sebelum bangkit, bertanya tentang satu hal yang tidak mungkin, "Pestanya nggak jadi?"
"Jadi! Cepetan mandi, kita berangkat bareng! Sebentar lagi Janu jemput."
Ketidakberdayaan membuat Chendana terdiam, dia tidak berharap untuk bertemu lagi dengan Janu setelah malam itu.
Pria itu benci melihatnya berkeliaraan diantara dia dan Arintha, "Aku males pergi ah, Rin."
"Heh! Nggak bisa! Kalau cuma pesta perayaan biasa, penghargaan atau pesta yang lain, boleh kamu nggak dateng! Tapi ini ulang tahunku, tega banget kamu kalau kamu nggak dateng!"
Justru karena inilah, penyebab dia enggan untuk datang, "Ibumu nggak akan suka kalau aku muncul di sana."
Arintha langsung membantah, "Ini pestaku. Apa urusannya dengan mami? Pokoknya kamu harus datang!"
"Pesta ini sampai malem kan?"
Arintha mengiyakan, Chendana langsung menyambar, "Aku nggak kuat begadang. Apalagi besok mesti nemenin kamu syuting."
"Alah!" Dia mengibaskan tangannya, "Orang cuma syuting buat infotaintment aja kok. Lagian kamu datang aja sebentar, terus pulang, tidur. Beres kan?"
Chendana masih menolak dengan keras kepala dengan berbagai alasan yang dia buat-buat. Arintha jadi dongkol, "Nggak mau tau. Pokoknya kamu harus datang."
Ini cukup membuat Chendana keheranan. Biasanya, kalau Risjad mengadakan pesta, dia bablas saja pergi. Tidak peduli Chendana datang atau tidak. Malah, kadang-kadang lupa untuk mengajaknya. Kenapa kali ini lain?
Semakin dipikir, semakin bingung dia.
"Kamu nggak mau ketemu pemuda keren di sana? Nanti aku kenalin sama teman-teman bang Jerome. Teman Janu juga, kasian juga lihat kamu jomblo." Akhirnya Arintha memberitahu tujuannya.
Jadi itu maksudnya?
"Lagian, kita sekalian ambil video buat vlog. Aneh dong, di hari biasa kamu ada, pas ulang tahun nggak ada. Ntar dibilang kami, keluarga Risjad memperlakukan anak tirinya dengan buruk.
Meskipun Arintha sudah memberitahu maksudnya. Perasaan Chendana masih tidak nyaman.
"Tapi bajuku lusuh, aku nggak punya pakaian yang pantas untuk pergi ke sana." Senjata terakhirpun akhirnya keluar dari mulutnya yang mungil.
"Sudah, sudah! Kamu pake baju aku, no debat!"
Chendana menatapnya tanpa suara. Dan dia hanya bisa pasrah ketika Arintha membawanya ke kamar di lantai dua.
Kamar tidur Arintha berukuran luas, dengan pintu di dalam mengarah ke ruang ganti.
Ketika Arintha membuka semua pintu lemari, semua yang menjadi impian para gadis terlihat sangat jelas.
Lemari dipasang di dinding di keempat sisinya, dengan meja dan meja perhiasan di tengah, lampu sorot menyala, dan lemari kaca penuh pancaran.
Dindingnya kombinasi pink permen karet dan putih, dengan empat kaca besar seukuran tinggi orang dewasa. Dalam lemari yang berbentuk lorong, tersusun rapi sepatu dan tas yang dikelompokkan dalam satu warna dan merek.
"Kamu boleh pilih dan pakai apapun yang kamu suka. Lalu cepetan mandi." Perintah Arintha, dia menyambar sehelai handuk lalu menuju kamar mandi.
Chendana hanya berdiri, mengembungkan kedua pipinya. Dipegang-pegangnya beberapa pakaian yang berjejer rapi di gantungan dalam kabinet. Dia tahu, Arintha paling anti pakai baju yang sama lebih dari dua kali. Tidak heran semua pakaian itu kelihatan masih baru.
Meskipun itu semua barang-barang bermerk, dia sama sekali tidak tertarik. Karena memang pada dasarnya, dia tidak punya selera untuk pergi ke pesta.
Dari kamar mandi terdengar suara air dari shower. Sampai dia selesai mandi, Chendana masih belum mendapatkan pakaian yang cocok dengannya. Hal itu membuat tuan putri kesal.
"Yang ini?" Arintha akhirnya turun tangan.
Dia melempar gaun merah anggur. Dan Chendana bilang, warna ini terlalu mencolok.
Diberi gaun beludru hitam, katanya terlalu seksi.
Terus begitu, dari banyaknya pakaian yang ia pilih, tidak ada yang sesuai dengan selera Chendana.
"Jadi, maksudmu. Semua bajuku jelek, begitu?" Emosinya sudah mulai naik.
Hari sudah semakin sore, tapi mengurusi orang satu ini belum juga selesai. Memangnya, dia ini ratu apa?
Kalau tidak ada perlu dengannya, sudah dia tinggal perempuan ini dari tadi.
"Siapa bilang bajumu jelek? Aku bilang bukan seleraku."
Chendana tahu, biasanya Arintha akan marah kalau dia bilang begitu. Siapa yang tahu, dia malah berjalan ke lemari khusus dan mengambil sebuah gaun dari sana.
"Ya udah, yang ini aja deh. Awas kalau nolak lagi!"
Chendana menerina gaun itu sambil menelan napas. Orang ini kalau sudah punya kemauan, selalu pantang menyerah.
"Tapi ini baju yang dipilih sama Janu. Nggak mungkin aku pake ini."
Arintha mengetuk-ngetuk dagunya, "Kapan sih? Kok aku nggak ingat?"
"Tiga bulan yang lalu, pas kamu selesai taping sama Band Noah di Kokas. Ingat?"
Arintha tidak peduli, "Alah! Udah lama, aku aja nggak ingat. Apalagi Janu. Udah sana mandi terus ganti."
Ketika melihat Chendana memakai gaun itu hati Arintha terbakar dengan kegembiraan tetapi tidak menunjukkan apa pun di wajahnya.
Peninsula Hotel adalah salah satu hotel terbaik di ibukota. Mirip dengan ballroom Mulia yang banyak dipakai untuk pesta pernikahan mewah dengan ribuan tamu undangan.
Peninsula lebih cocok untuk pesta ulang tahun serta pesta sosial yang mewah yang sifatnya lebih pribadi. Meakipun begitu, penyewa harus membayar paling sedikit 7 digit angka 0 kalau mau memakai ruangan itu selama satu jam.
Fiko Risjad dengan murah hati memesan seluruh aula dan satu tingkat lantai telah di pesan untuk teman-teman Arintha beristirahat.
Ballroom yang megah itu sudah penuh dengan tamu yang saling sapa memamerkan kemewahan.
Ini adalah pertama kalinya Chendana datang ke acara seperti ini. Dia merasa tidak nyaman dan terus menempel pada Arintha kemanapun dia pergi.
Sayangnya, Arintha adalah karakter utama malam ini, mau tidak mau dia harus berkeliling menemui para tamu didampingi oleh Mahya dan Fiko, dan tentu saja Janu.