LVY part 13 revisi

1256 Kata
"Padahal dulu kamu ngintiliiiin terus kemana mamimu pergi. Sekarang sudah segede ini."  "Sekarang mana mau. Diajak maminya nemenin ke mall aja nolak mulu, mentang-mentang udah punya pacar." Mahya berkata dengan merajuk.  Meskipun begitu, tidak ada jejak kemarahan sebenarnya dalam wajahnya. Yang ada hanya kasih sayang.  "Ahahaha, harusnya kamu seneng mau punya menantu." Tante berkerudung itu melihat Arintha dan Janu, "Tapi Arin, kamu juga salah. Temenin dong maminya, jangan sama Janu terus, kasian mamimu kesepian."  "Iya, Tan. Nanti kalau aku libur syuting, ku temani mami kemana aja dia mau, seharian. Tapi, sementara ini sama papi dulu aja ya, Mi? Jangan marah, nanti waktu Arin buat mami semua deh." Arintha memeluk lengan Mahya, bertingkah manja.  "Lihat nih, masih suka lendotan gini sama maminya, kok ya ada yang berani melamar." Mahya mencubit pangkal hidung Arintha.  Chendana berpikir, dia sudah membuat hatinya sekuat baja. Dia tidak mengira, melihat pertunjukan kasih sayang semacam itu di sini, hatinya tetap merasa perih. Dadanya pengap, membuatnya nyaris tercekik.  Pria depan Chendana saat ini, masih mengoceh tentang pekerjaannya sebagai progammer acara di salah satu televisi swasta. Dia baru berhenti saat tanpa sengaja mendengar Chendana bergumam dengan pelan.  "Maaf, kamu bilang apa barusan?"  Chendana memaksakan senyum kaku di wajahnya. Dia mengambil alasan pergi kamar kecil untuk meninggalkan ruangan dan mendapatkan udara segar di samping jendela yang terbuka di koridor.  Pukul sepuluh pesta mulai ramai dengan anak muda. Para orangtua sudah menyingkir sejak satu jam yang lalu.  Semua anggur dan sampanye terbaik dari Prancis mulai dikeluarkan.  Chendana mencari-cari Arintha, dia mau pulang sekarang, kakinya yang disangga sepatu setinggi 7 cm sudah mulai terasa pegal.  Dia menjadi gugup ketika pria di dekatnya menahan pergelangan tangannya, dan mendesaknya supaya menemaninya minum segelas anggur bersamanya.  "Aku nggak suka minum minuman keras." Tolaknya.  "Bukan, ini bukan minuma keras,  ini minuman biasa." bujuk pria itu. Chendana menunduk, dia heran kenapa laki-laki itu berbohong. Dia tahu benar itu sampanye.  "Ayo, minumlah!" Kata laki-laki itu menyentuh lengannnya sedikit dengan tangannya yang kasar. Chendana bergeser tapi dihalangi oleh orang di belakangnya, dia jadi serba salah, dengan cemas memandangi orang yang lewat, berusaha menemukan Arinta, tetapi tatapannya yang tulus tidak menemukannya. Sebaliknya, dia menarik perhatian Janu.  Entah sajak kapan Janu melihatnya. Seperti biasa, pria itu selalu memberinya tatapan tajam yang membuanya bergidik. Ketika pertama kali melihat Chendana masuk ke aula, Janu sudah tidak bisa berkonsentrasi.  Tatapannya selalu tertarik ke Chendana, lebih tepatnya pada gaun hijau pastel milik Arintha yang membungkus erat tubuhnya. Janu hapal, gaun itu salah satu karya Oscar, desainer favorit Arintha. Untuk mendapatkan gaun yang hanya ada satu tersebut, dia harus merelakan dirinya pergi kencan makan malam dengan banci itu. Lalu, dengan seenaknya, si dekil itu meminta gaun itu dari Arintha. Apa yang ia rencanakan, dan siapa yang mau ia goda dengan berpakaian seperti itu?  Chendana mengenakan gaun panjang yang terbuka tepat di bawah bahunya, dan menggoda orang yang lewat untuk membayangkan bagian tubuhnya yang selama ini ia tutupi dengan pakaian longgar.  Sulit dibayangkan, dia adalah gadis canggung dan culun yang sering berkeliaran seperti pembantu disekitar Arintha.   Tatapan Janu berhenti di kulit putih mulus sejenak, sebelum dia disambut dengan punggung yang ramping. Pemandangan ini membuatnya kesal karena dia mulai membandingkan.  Arintha tidak pernah sebagus itu saat dia memakai gaun itu.  Kesuraman muncul di wajahnya ketika ia melihat Chendana menghabiskan anggur merah yang diberikan oleh laki-laki di depannya.  Dasar t***l!  Ketika cairan berwarna keemasan itu menyentuh indera perasanya, Chendana mengerutkan bibir, merasakan iritasi konstan yang dirasakan oleh mulutnya.  Setelah menghabiskan dua gelas anggur, akhirnya dia bisa pergi, agak menakutkan berada dekat dengan seorang pemabuk. Di dalam terlalu penuh dan sumpek, Chendana melangkah pelan-pelan pergi ke samping koridor hanya untuk mencari udara segar. Ketik menyadari ada bangku taman, dia menunduk untuk melihat kakinya yang menyedihkan. Apa yang dia inginkan benar-benar adalah, melepas sepatu dan mengistirahatkan kakinya.  Dia lama di bangku taman yang tenang, dan hampir tertidur, ketika didengarnya suara orang berdebat dekat dinding bunga.  "Aku nggak tahan liat kamu dikuasai bocah tengil itu! Atau kamu lebih suka aku yang bongkar semua?"  Arintha terdengar panik dengan ancamannya, saat ini dia adalah bintang muda yang tengah berada di puncak, yang semua gerakannya dipantau media, terlalu berbahaya kalau orang ini membuka mulutnya, dia berkata dengan lembut untuk membujuk pasangannya, "Aku nggak keberatan membiarkan semua orang tahu tentang hubungan kita, tapi jangan sekarang. Waktunya kurang tepat." Digosok-gosoknya matanya, "kayak suara Arintha," gumamnya mengerutkan dahi.  Dia menajamkan telinganya, tetapi tidak jelas. Sebab suara itu tertahan-tahan.  Chendana bangkit dan memanggil, "Arin?"  Suara langkah kakinya yang mendekat membuat kedua orang itu menoleh. Mereka segera pergi berpencar, sementara  Arintha bergegas keluar, dia khawatir Chendana menemukan sesuatu yang mencurigakan. Jadi, dia cepat-cepat mengisap bibirnya yang bengkak  akibat berciuman, "Nana, ngapain kamu di sini?" Pekiknya seraya menghampiri Chendana dengan rupa khawatir. Chendana tidak melihat keanehan dari sikap Arintha, dan hanya menjawab dengan lesu, "Aku ngantuk, pulang ya?"  Ekspresi Arintha berubah, dan dia menatap Chendana dengan muram, "Ya ampun, nih anak! Masa mau pulang, pestanya kan belum selesai. Crew film Dylan belum dateng, sebentar lagi deh!"  "Aku ngantuk," ulang Chendana, kehabisan tenaga.  "Ya udah kamu tidur di kamarku aja, mau kan? Ayo ku antar."  Dia dengan baik hati memberi saran. Namun, Chendana menggeleng dengan lemah, "Nggak usah aku bisa sendiri. Kamu temani tamu saja."  Lalu dia mengambil kartu dan sebotol air yang diberikan oleh Arintha.  Dia hanya menjawab iya, ketika Arintha menginstruksikan supaya Chendana memanggilnya kalau butuh sesuatu sebelum pergi.  Setelah masuk ke dalam kamar, dia membuka botol air mineral, diteguknya isi botol itu sampai habis, lalu merangkak ke atas tempat tidur.  Chendana tidak tahu jam berapa saat terbangun. Sekitarnya gelap gulita.  Meskipun pendingin udara membuat kulitnya menggigil, tapi badannya terasa panas dan tak nyaman. Mulutnya kering, dan jantungnya berdebar-debar.  Pada saat itu, seseorang bergerak di samping tempat tidur  Chendana kaku, apa ada orang lain dalam kamarnya? Dia menahan napas dengan jantung berdebar-debar.  Benar ada orang lain.  Chendana memang tidak melihat orang di depannya, tetapi bukan berarti tidak bisa merasakan, ada napas yang menderu-deru yang mendekati wajahnya.  Siapa...?  Seperti binatang buas sebelum makan. Satu persatu ciuman dingin menghujani dahinya, mata, hidung lalu bibir.  Kemudian pindah ke telinganya, meluncur leher, tulang selangka dan akhirnya pindah ke belahan dadanya.  Di bawah rangsangan seperti itu, tubuh Chendana dengan gila bereaksi, rasa panasnya semakin menjadi.  Chendana benar-benar merasa takut. Isi kepala dan reaksi tubuhnya saling berlawanan.  Saat bibir dan lidahnya melewati garis lehernya yang halus dan lembut, pria itu tidak bisa lagi menahan nafsu yang naik di dadanya.  Dia menggigitnya dengan keras.  "Ah...sakit."  Sakit...  Kepala pria itu terkubur di dadanya, rasa sakit pada ujung payudaranya membuatnya berteriak keras. Sebuah tangan yang besar, melayang turun dan menutup mulutnya.  "Diam, dan berkerjasama lah!"  Saat dia selesai bicara, dia menarik kembali wajahnya keatas dan menekan tubuhnya, sebelum kembali mencium bibirnya tanpa ragu-ragu.  "Urgh..." Chendana tanpa sadar mau berjuang bebas, tetapi tubuhnya terkunci dan kakinya ditekan oleh lutut pria itu. Semua cara yang ia lakukan, nampak percuma di bawah tubuh pria itu.  Tidak sampai Chendana kehabisan napas dan terengah-engah, bibirnya akhir terbebas. Pria itu pindah kembali ke dadanya, lidah panas yang terbakar bergerak maju mundur melewati ujung p******a, seolah menenangkannya.  Chendana sudah tidak bisa berjuang atau berteriak, dia hanya bisa menerima nasibnya dimakan oleh pria tak dikenal seperti w************n.  Sementara itu, rasa sakit yang merobek bagian bawah tubuhnya itu seperti lubang hitam tak berdasar yang menelan semua miliknya.  Air mata dan keringat muncul di tubuhnya, bercampur dengan darah merah dan cairan tubuh, menghancurkan usia muda yang seharusnya indah.  Meminjam sinar bulan yang muncul dari permukaan awan, pria itu meraih tubuh Chendana, memeluknya, dan menciumnya dengan penuh penyesalan.  "Maaf...maaf, aku pasti bertanggung jawab, Arin."  ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN