"Pacaran lama, udah dilamar, tinggal menunggu sah. Artis inisial AR mergokin pacarnya tidur dengan asistennya!!!"
Berawal dari cuitan yang dibuat oleh dari akun anonim. Berita yang tadinya hanya dianggap angin lalu, mulai memicu gelombang ombak setelah dibagikan lebih dari 1000 orang.
Pada sore hari, akun yang lain telah mengekspos potongan video untuk vlog, saat itu Arintha membuka pintu kamar yang ditempati oleh Janu.
Dia jalan berjingkat-jingkat, lalu berteriak.
"Matikan! Matikan, jangan rekam! Aku bilang jangan rekam! Jangan rekam!!!"
Rekaman video itu goyang dan tidak nyaman untuk mata, sebelum muncul layar gelap, kelihatan tempat tidur yang berantakan dan dua orang tanpa busana tidur saling mendekap.
Namun, unggahan ini langsung dihapus dan menghilang dari dunia maya sebelum berubah menjadi tsunami yang menghancurkan. Semua berkat andil dan kerja keras bagian Humas bekerjasama dengan divisi IT dari perusahaan Massry.
Tetapi, apakah mereka lupa dengan kekuatan besar yang disebut sebagai netizen?
Apapun yang sudah diunggah di media sosial--meskipun sudah dihapus, selama itu sudah ada yang mengambil tangkapan layar, atau mengunduh videonya. Aib itu akan selalu muncul dan muncul.
Sama seperti video Janu dan Chendana. Video mereka diunggah lagi oleh orang lain, dan hanya beberapa jam langsung menjadi trending di Indonesia.
Karena laki-lakinya adalah anak pengusaha terkenal yang juga kekasih dari artis kesayangan mereka saat ini, secara alami semua orang menaruh perhatian yang berlebihan. Dan itu membuat semuanya dalam masalah.
Terutama untuk reputasi dua keluarga mereka.
“Kamu… kenapa kamu melakukan ini? apa tidak cukup Arintha untukmu?" Fiko memandangi pemuda didepannya dan meraung, matanya menjadi amarah yang tak terkendali.
Ada dilema dalam hatinya. Antara membiarkan Anaknya tetap bersama pemuda kurang ajar ini, atau menyuruhnya putus, tapi kehilangan kerjasama yang menguntungkan.
Janu meremas rambut dengan kedua tangannya. Dia sangat marah, terutama dengan dirinya sendiri, "Berapa kali harus ku bilang? Aku benar-benar nggak tau itu Chendana!"
"Apa bedanya Chendana atau bukan? Itu sama-sama menyakiti hati Arintha!" Katanya lagi dengan marah.
Otot-otot di wajah Janu bergerak-gerak, melihat Arintha yang pucat seperti mayat hidup, dia berjalan perlahan ke arah Arintha yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan berlutut: "Arin...maafkan aku...malam itu aku tidak..."
"Pergi jangan minta maaf kepadaku, minta maaf lah Ke Nana. Bertanggung jawablah sama dia." Ketika bicara seperti itu, Arintha tidak mau melihat Janu. Wajahnya pucat dan lemah membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
Tindakan Arintha ini mengejutkan semua orang, dan mereka semua memandangnya luar biasa! Mahya bahkan tidak percaya dan berjalan ke arah putriya: "Arin, apa yang kamu bicarakan? Kalian akan bertunangan. Kalau kamu membiarkan mereka menikah, itu akan lebih menyakitimu."
Arintha mengatupkan bibir bawahnya dengan lembut, menyedot hidungnya dan tersenyum, memandang ke langit yang jauh dan berkata dengan lemah: "Lebih baik satu orang disakiti ... daripada masalah ini berimbas ke yang lain, terutama perusahanaan ... kalian tahu kan, bagaimana orang-orang sekarang?"
Semua memahami alasan Arintha, dan mereka, tidak tahu harus berkata apa ...
Tetapi ada alasan tersendiri bagi Arintha melakukan hal itu, tentu saja dia harus menjaga citranya sebagai korban yang paling menderita.
Ketika pada akhirnya kamar tempat ia dirawat kosong. Arintha menyingkirkan infus yang dipasang di pergelangan tangannya.
Dia menelepon sambil melihat hutan beton dari lantai lima, "Terus pantau dan naikkan beritanya, jangan sampai tenggelam."
"Sampai kapan!" Tanya suara di ujung lain.
Arintha melingkarkan telunjuknya pada ujung rambutnya yang indah, "Tentu saja sampai Janu mau menikahi perempuan bodoh itu. Setelah itu, barulah kita bisa bebas bersenang-senang."
***
Fiko Risjad memanggilnya, dan memberitahu pernikahan akan diadakan hari Sabtu minggu depan.
Setiap kata diucapkan dengan dingin. Tanpa senyum apalagi ucapan selamat.
Ketika tanpa sengaja pandangannya beradu dengan pandangan Jerome. Hati Chendana tidak bisa menahan rasa sakit.
Satu-satunya orang dalam keluarga itu yang tulus dan perhatian padanya, melihatnya dengan tatapan kecewa.
Chendana kembali ke kamarnya yang belum lama ia tempati dan dengan tenang menundukkan kepala untuk mengepak barang bawaannya.
Barang-barangnya selama tinggal di sini tidak terlalu banyak. Paling tidak lebih dari dua koper.
Meskipun masih ada waktu satu minggu, lebih baik dirapikan dari sekarang bukan? Terlebih lagi, keluarga ini sepertinya sudah tidak menginginkan kehadirannya lagi.
Pada saat mengumpulkan barangnya, Chendana melihat kamar ini dengan miris. Kamar ini dulunya milik Arintha, sebelum dia pindah ke lantai dua.
Alasan dia pindah ke sini adalah karena dia jadi juara lomba sketsa tingkat nasional dan pernah diliput oleh beberapa stasiun televisi.
Sebelum itu, tatapan Fiko sudah mulai memperhatikannya. Dia terkejut anak perempuan dari desa tertinggal, juga bisa membawa kehormatan untuk keluarga Risjad, dengan menjadi siswi yang nilai UN SMA-nya menjadi yang tertinggi se-Indonesia.
Selain itu, Arintha juga sering mengundang wartawan infotaintment. Akan jadi memalukan kalau membiarkan anak angkat mereka tinggal di kamar pembantu.
Sekitar setengah jam, Chendana tiba-tiba menutup wajahnya, tidak mampu mengendalikan airmata.
Di tengah-tengah kesibukannya. Pintu kamarnya terbuka, Chendana langsung mengusap matanya.
Mahya melangkah masuk, ada suasana canggung dengan kedatangannya. Dia menatap Chendana, sudut bibirnya melengkung, membentuk senyum dingin.
"Bu..." suara itu lirih.
Hati Mahya sedikit goyah, dia tertegun setengah detik saat melihat tampilan Chendana yang berwajah sembab, anaknya itu menggigit bibir dan memberinya tatapan mengiba.
Timbul rasa mau memeluk dan menghibur anak kandungnya yang menyedihkan. Tetapi, ketika bayangan Arintha yang ia temukan terkapar dengan busa di mulutnya melintas, dibuangnya perasaan itu jauh-jauh.
"Aku--"
"Jangan memanggilku ibu," Mahya bahkan tidak memberi Chendana kesempatan menyelesaikan ucapannya. "Aku tidak pernah melahirkan anak yang kejam dan tidak tahu diri sepertimu!" Ucapannya menusuk, tatapan matanya hanya dipenuhi kebencian seolah-olah Chendana hanyalah seonggok sampah yang bau.
Bagaimana dia punya keberanian untuk memanggilnya ibu setelah perbuatan memalukannya itu, membuat keluarga yang ia bangun dengan susah payah selama puluhan tahun, nyaris hancur dalam semalam?
Demi apapun, Mahya menyesal membawa Chendana bersamanya. Kalau tahu anak ini akan menjadi sangat kejam, lebih baik dia tinggalkan saja sampai mati di kampung.
Chendana mau menjelaskan. Namun, tidak peduli apapun cara yang ia lakukan, tidak ada satupun yang percaya kepadanya.
Pada akhirnya dia lelah untuk membela diri, lelah untuk menunjukkan kebenaran. Dia tidak lagi peduli dengan apa kata orang. Tidak peduli mereka percaya atau tidak.
Asalkan ibunya peduli dan percaya padanya, itu sudah cukup. Karena itulah Chendana tetap memohon, "Bu, ini bukan seperti yang ibu kira. Aku nggak pernah merayu Janu, sekalipun nggak pernah. Aku berani sumpah untuk itu."
Mahya memandangi putrinya, dan merasa bahwa kata-kata Chendana tidak masuk akal, "Jelaskan, bagaimana kamu bisa sampai di kamar Janu?"
Chendana menggigit bibirnya dan mengeluarkan suara lirih, "Arin...Arintha, dia yang memberikan---"
Sebelum dia melanjutkan apa-apa, Mahya dengan cepat mangangkat tangannya untuk menampar pipi Chendana dengan keras.
"Chendana! Kenapa kamu sangat tidak tahu malu? Apa keadaan Arin bisa seperti itu kalau dia memang berniat untuk menjebakmu? Kamu nggak ingat betapa pedulinya anak itu sama kamu selama ini!"
Suara Mahya jelas dipenuhi kemarahan tak terkendali ketika dia memikirkan keadaan anak tirinya yang seperti mayat berjalan.
Chendana mengulurkan tangan untuk menutupi wajahnya yang telah ditampar. Rasanya sakit, tapi tidak melebihi sakit dalam hatinya. Mahya memang nyaris tidak peduli kepadanya selama ini, tetapi dia tidak pernah memukulnya sebelumnya.
Ini adalah pertama kalinya dia dipukul oleh ibu kandungnya sendiri.
Mengangkat kepalanya, Chendana memeluk pipinya yang merah dan bengkak dalam satu tangan, suaranya bergetar saat dia berkata dengan lirih, "Apa yang harus aku lakukan supaya ibu percaya?"
"Tinggalkan Janu, jangan menikah dengannya!"
Chendana meremas tangannya, dan menunduk dengan pelupuk matanya yang sudah mulai berembun.
Sebagai seorang gadis, dia sudah tidak harganya. Dengan berita kejam di luar tentang dirinya. Bagaimana dia akan menjalani masa depannya kelak?
Dia hanya mau melindungi dirinya sendiri. Apakah itu salah?
"Egois!" Semprot Mahya.