Bagaimana Jika Bertemu?

1320 Kata
Di tengah kesibukan kerjanya, Ben menyempatkan diri untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, Josh dan Justin. Salah satu cabang club Ben yang berada di New York menjadi tempat yang paling sering mereka jadikan tempat berkumpul. Alasannya sangat sederhana bagi Josh dan Justin. Mereka bisa minum sepuasnya dengan anggur-anggur kualitas terbaik tanpa harus membayar. Ben tidak mempermasalahkan soal itu. Ia bahkan bisa memenuhi kebutuhan minum sahabat sejak kecilnya itu seumur hidup mereka. Padahal Josh baru saja pulang dari Los Angeles tapi sudah mengajaknya untuk bertemu. Ia bahkan tidak mengatakan di telfon tadi siang bahwa ia akan kembali ke New York hari ini juga. Kalau begitu mengapa ia malah bercerita di telfon? kenapa tidak langsung saja? aneh sekali. "Ah bukankah rasa anggur ini sangat menyengat? Tenggorokanku terasa seperti terbakar." "Benarkah? Kau bahkan sudah meneguk sepuluh kali. Kau tidak terlihat tersiksa sama sekali." Josh terkekeh menyadari ucapan Justin ada benarnya. Ia terus protes namun sebenarnya sangat menikmatinya. "Ngomong-ngomong, tadi siang kau pernah bercerita bahwa kau tidak sengaja bertemu dengan Alicia, benarkan?" "Iya, memang benar." "Bagaimana dia sekarang? Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya." "Dia sangat cantik. Sebenarnya aku dulu sudah menduga bahwa ia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik. Namun dia tidak terlihat sepemalu saat ia kecil." Ben hanya diam mendengar obrolan Josh dan Justin. Ternyata Josh juga menceritakan pertemuannya yang tidak sengaja di Los Angeles pada Justin. "Bukankah semua orang memang bisa berubah?" "Ya memang, tapi perubahannya terlalu jauh. Ah aku susah menjelaskannya, yang terpenting dia tampak berbeda," kata Josh. "Ben, bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau penasaran bagaimana keadaan Alicia sekarang?" Tanya Justin. Meskipun sudah agak lama, namun dia ingat bahwa dirinya dan Ben pernah membicarakan tentang gadis itu saat mereka tengah mengingat-ingat masa kecil mereka. "Tentu saja, oleh karena itu aku langsung mengabari Ben saat itu," potong Josh menjawab. "Kau sangat aneh Ben. Kau tampan, kaya, semua yang wanita inginkan ada pada dirimu. Namun tidak ada satupun yang menarik perhatianmu. Satu-satunya wanita yang pernah kau ceritakan ya hanya Alicia, itupun hanya sesekali. Kau tidak bisa mempergunakan ketampananmu dengan baik. Harusnya itu dianugerahi padaku saja," celoteh Justin kemudian menenggak segelas lagi red wine-nya. "Aku menceritakan tentang Alicia hanya karena dia dulu teman baikku. Banyak kenangan baik saat kecil yang masih bisa aku ingat bersamanya, itu saja," jawab Ben. "Apakah kenangan melukis bersama, saling merekomendasikan komik-komik yang menarik adalah kenangan baik yang sulit dilupakan?" Pertanyaan Josh terdengar mengejek. "Itu sama sekali tidak berkesan. Yang berkesan itu seperti pengalamanku yang pernah berciuman dengan Ester di halaman belakang sekolah," lanjut Josh lagi. Ben dan Justin kompak mendengus kesal. Mereka ingat kejadian saat itu. "Dasar m***m," ejek Justin yang hanya mendapat cibiran acuh dari Josh. "Jika kau bertemu lagi dengan Alicia apa yang akan kau lakukan?" Justin iseng-iseng bertanya. Sejujurnya ia sudah mulai mabuk hingga tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ben terdiam sejenak sebelum menjawab. Seolah berpikir apakah kemungkinan itu benar-benar bisa terjadi? "Tidak ada, mungkin mulai berteman lagi." "Ah kau memang payah. Setelah lama tidak bertemu dan dipertemukan kembali kau hanya ingin berteman? Buang-buang waktu saja." Ben hanya mengangkat bahunya mendengar respon Justin. Menangnya ia harus apa lagi? Memikirkannya saja seperti tidak mungkin. "Jika aku belum memiliki pacar dan aku bertemu Alicia lagi, mungkin aku akan mengajaknya berkencan. Dia luar biasa cantiknya," kata Josh dengan pikiran melayang. "Kau bahkan sudah menyelingkuhi pacarmu. Kenapa bicara seolah kau sangat setia." Justin menghadiahi Josh pukulan di lengannya membuat Ben terkekeh. Teman-temannya ini sangat unik. Ada saja pembicaraan mereka yang sebenarnya tidak begitu penting. Ben bukanlah orang yang mudah akrab jadi tidak heran sekalinya akrab ia akan memiliki pertemanan yang lama. Bukan berarti Ben tidak memiliki teman yang lain. Ia memiliki banyak teman sebab Ben sangat mudah bergaul, bahkan terkadang orang-orang yang merasa minder juga berteman dengan Ben mengingat siapa Ben dan latar belakang keluarganya. Hanya saja tidak semuanya menjadi teman akrab Ben, mereka biasanya hanya menjadi teman sekolah Ben seperti biasanya saja. "Aku sudah harus pulang, besok aku akan mengantarkan Naomi ke Paris." Ben bangkit dari duduknya dan berpamitan. "Cepat sekali," protes Justin. "Kalian jika masih ingin disini tidak apa, minumlah sepuasnya." "Nah kalimat itu yang kutunggu." Ben menggeleng kecil sembari tersenyum kemudian berlalu pergi. Ia tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang malam ini mengingat besok banyak pekerjaan yang menunggunya. *** "Bagaimana Ben?" Pertanyaan itu seketika memecahkan keheningan yang sedang terjadi. Sejujurnya Ben diam bukan karena sedang memikirkan jawabannya, ia hanya malas menjawab sebuah pertanyaan yang sudah pasti jawabannnya sementara orang di hadapannya ini selalu memberi Ben waktu untuk menjawab. "Jawabanku masih sama, aku tidak bisa menerimanya," jawab Ben terlihat begitu tenang. Pria di hadapan Ben tersenyum kecut mendapat jawaban yang sangat tidak sesuai dengan keinginannya. "Ayolah Ben, kau tidak usah terburu-buru menolaknya. Kau harus pikirkan dahulu keuntungan yang bisa kau dapatkan dari kerja sama ini." Antonius, lawan bicara Ben saat ini sangat tidak mudah menyerah untuk membujuk Ben. "Kau bisa melakukan bisnismu di tempat lain, yang pasti bukan di tempatku." Ucapan Ben seolah sudah mutlak. Ben meneguk campaignnya. "Kaukan tahu sendiri, club-club milikmu itu adalah yang paling bergensi di Amerika. Banyak target-target pasarku dari kalangan atas disana. Kita akan sama-sama diuntungkan. Kau hanya perlu membiarkan aku menjalankan bisnisku di tempatmu, itu saja." Ben menghela nafas jengah tidak tahu lagi harus menolak seperti apa. Harusnya ia menolak saja pertemuan ini tadi. Ia pikir pertemuan ini akan membahas sesuatu yang lebih penting. "Kau bisa sebutkan angka berapapun yang kau mau. Aku akan membayarnya." "Dengar tuan Antonius, ini untuk terakhir kalinya aku mengatakan padamu bahwa aku tidak berminat bekerja sama denganmu. Clubku bukan tempat perdagangan obat-obatan terlarang seperti bisnismu. Orang-orang boleh melakukan apapun di clubku tapi bukan untuk yang satu itu. Aku membayar sangat banyak untuk keamanan. Bisnisku ini untuk adalah bisnin yang aku harap akan terus ada. Aku tidak ingin kedepannya ada masalah. Jika kau benar-benar ingin menjalankan bisnismu, lakukanlah di tempat lain seperti biasanya." Ben berbicara panjang lebar untuk menjelaskan. "Bukankah club tanpa perdagangan seperti ini tidak bisa dikatakan sebagai club? Club adalah tempat yang bebas. Peraturanmu terlalu kekanak-kanakan," kata Antonius diiringi kekehannya. "Aku tidak melarang siapapun menggunakannya, itu hak mereka. Aku hanya tidak ingin tempat usahaku dijadikan tempat khusus untuk perdagangan itu. Aku ingin semuanya bersih." "Ah ternyata kau lebih sulit diajak kerja sama dari pada ayahmu." Ben hanya diam tidak menjawab. Ia benar-benar sudah sangat jengah dengan orang di hadapannya ini. "Baiklah, aku permisi. Tapi jika kau berubah pikiran, kau bisa menghubungiku. Tidak akan ada yang berubah dari penawaranku." Antonius bangkit dari duduknya kemudian berlalu pergi meninggalkan Ben di ruangan lounge pribadi itu. Tidak lama setelah Antonius pergi, Jackson yang sedari tadi menunggu di luar langsung menghampiri Ben. "Aku tidak ingin bertemu dengan orang-orang seperti dia lagi, Aku sapai harus menunda keberangkatanku ke Paris. Aku pikir ada hal yang penting yang bisa ia bicarakan di pertemuan ini, ternyata tidak ada," kata Ben. "Baik Ben." "Awasi dia, sepertinya dia masih akan terus mencoba atau akan melakukannya secara diam-diam." "Baik Ben, aku akan mengawasinya," balas Jackson patuh. Ben bangkit dari duduknya kemudian meregangkan otot-ototnya. Rasanya cukup lelah menghadipi orang keras kepala seperti Antonius, padahal ia hanya duduk saja sedari tadi. "Ah aku harus pakai baju apa ke acara pertunanganmu?" Kata Ben berlalu keluar ruangan diikuti Jackson. "Bukankah memakai apapun kau terlihat tampan?" "Benar juga." "Tapi tamu undanganku harus datang berpasangan, kami tidak menerima yang datang sendiri." Tiba-tiba langkah Ben terhenti. Ia berbalik untuk menatap Jackson sementara Jackson berusaha menahan tawanya. "Sepertinya tiba-tiba di hari pertunanganmu aku ada pekerjaan mendadak." "Aku hanya bercanda, kau tidak perlu pasangan untuk datang." Jackson menepuk pundak Ben sembari terkekeh membuat Ben ikut tertawa. Kedua kembali melanjutkan langkah mereka. "Tapi bukankah lebih baik memang membawa pasangan?" "Diamlah Jackson!" Jackson berusaha menahan tawanya. "Jadwal penerbanganku dan Naomi sudah diatur ulang menjadi sore inikan?" "Sudah, kau bisa pulang sekarang. Naomi sedari tadi menghubungiku bertanya kapan kau selesai. Sepertinya ia sudah tidak sabar ingin pergi." Ben terkekeh mendengarnya. Adiknya itu memang sangat tidak sabaran sekali. "Baiklah, atur penerbanganku kembali ke New York besok malam." "Baik Ben."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN