Ben memasuki sebuah ruangan di mansion yang belakangan jarang ia datangi karena kesibukannya belakangan ini. Ia harus bolak balik New York - Los Angeles untuk mengurus bisnisnya. Merasa butuh istirahat, Ben meminta sekretarisnya untuk mengosongkan semua jadwalnya hari ini. Ben ingin berdiam di rumah saja sembari melakukan hobi lamanya.
Ben mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ruangan yang tidak banyak memiliki furniture itu hanya dipenuhi oleh lukisan. Ya, ruangan ini memang khusus dijadikan Ben untuk meletakkan lukisannya yang ia buat sejak kecil. Ben baru menyadari bahwa ternyata ia sudah banyak menghasilkan lukisan hingga ruangan ini terlihat begitu penuh. Seingat Ben bahkan ada beberapa yang ia letakkan di ruangan lain. Di ruangan ini hanya yang benar-benar ia sukai dengan hasil yang memuaskan. Ben menyadari bahwa dirinya lebih banyak menghasilkan karya saat ia masih kecil. Ketika beranjak dewasa, ia lebih disibukkan dengan tugas-tugas kemudian pekerjaannya.
Pandangan Ben tiba-tiba terhenti pada sebuah lukisan yang ia pajang di samping jendela. Ben melangkah mendekat pada lukisan itu agar bisa lebih memperhatikannya dengan seksama. Seulas senyuman tercetak dari bibir tipis merah muda milik Ben melihat lukisan kuda yang ditunggangi seorang anak laki-laki itu. Melihat lukisan itu membuat Ben teringat dengan seseorang. Lebih tepatnya seseorang yang memberikan lukisan hasil karyanya itu pada Ben, Alicia.
Alicia Stewart adalah teman masa kecil Ben saat mereka duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu Alicia adalah siswi pindahan dari Inggris. Ia dan Ben bisa menjadi dekat sebab memiliki hobi yang sama yaitu melukis. Tidak jarang dulu mereka saling memamerkan hasil karya satu sama lain. Banyak kenangan masa kecil dengan Alicia yang masih terekam jelas dalam ingatan Ben meskipun itu sudah berlalu cukup lama. Sayangnya sejak mereka lulus sekolah dasar, Ben tidak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Tampaknya ia memang tidak bisa menetap di satu kota. Ia pernah bercerita bahwa ia dan keluarganya memang sering pindah karena pekerjaan ayahnya.
Puas memandangi lukisan itu membuat Ben langsung bergegas menyiapkan perlengkapan melukisnya. Ia ingin mencoba melukis lagi hari ini. Sudah terbesit sedikit ide dalam benaknya akan seperti apa lukisan yang ia buat nanti.
Ben terlihat begitu serius saat sedang melukis. Ia seolah larut dalam imajinasinya dan langsung menuangkan imajinasinya itu pada kanvas. Ia tidak pernah terlihat ragu saat melukis. Apa yang sudah ia lukiskan di kanvas, seolah mengalir begitu saja. Ben pikir tadinya akan sulit karena sudah lama tidak melakukannya, ternyata tidak juga. Tampaknya ia memerlukan lebih banyak hari-hari seperti ini. Ia merasa lebih baik saat sedang melukis.
"Kakak sedang melukis apa?" Terlalu konsentrasi dengan lukisannya membuat Ben sama sekali tidak sadar bahwa Naomi memasuki ruangan itu. Gadis cantik itu kini sedang berdiri di belakang Ben, memeluk leher Ben dari belakang dengan dagu yang ia topang di pucuk kepala Ben melihat lukisan kakaknya yang belum bisa ia simpulkan berbentu apa itu.
"Tidak tahu, hanya mencampurkan warna-warna saja," balas Ben sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Naomi.
"Kakak mengambil libur hanya untuk melakukan ini? Harusnya Kakak pergi berjalan-jalan," celoteh Naomi.
"Liburan seperti ini yang kakak suka," balas Ben. Naomi mencibir, kakaknya selalu saja seperti itu. Mereka benar-benar memiliki kepribadian yang berbeda. Naomi cenderung tidak suka suasana yang sepi seperti ini. Jika ada waktu luang ia lebih suka pergi berjalan-jalan, berbelanja, atau hanya sekedar berkumpul dengan teman-temannya.
"Aku dan kak Nessie akan pergi menonton. Bagaimana jika kakak ikut? Ada film bagus." Ben berhenti sejenak dari aktivitasnya kemudian berbalik agar bisa melihat adiknya itu.
"Apa kau benar-benar serius ingin menjodohkanku dengan temanmu?" Naomi langsung mengangguk cepat dengan mata berbinar.
"Jika begitu urungkan niatmu, aku tidak ingin kau menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna."
"Tapi apa yang salah dengan kak Nessie? Dia memiliki semua yang pria inginkan."
"Semua yang pria inginkan tapi prianya bukan aku," balas Ben cepat membuat Naomi mendengus kesal.
"Sayang, dengarkan kakak." Ben menggapai kedua tangan Naomi untuk ia genggam. Ia harus menjelaskan dengan hati-hati pada adiknya itu agar ia segera mengerti.
"Kau tidak perlu khawatir, jika sudah waktunya aku pasti akan memperkenalkanmu dengan wanita yang aku pilih. Aku tidak ingin salah pilih, Naomi. Oleh karena itu aku butuh waktu," jelas Ben lembut. Naomi terdiam sejenak seolah mencerna ucapan kakaknya dan berusaha untuk mengerti.
"Baiklah, tapi aku tetap tidak akan menyerah untuk mendekatkan kakak dengan kak Nessie. Jika Kakak punya pilihan, aku juga punya pilihan. Kita lihat pilihan siapa yang terbaik." Setelah mengucapkan rentetan kalimat itu, Naomi langsung melenggang pergi. Ben hanya bisa menggeleng sembari tersenyum melihat adiknya yang keras kepala. Biarlah ia melakukan apapun yang ia inginkan, Ben pun akan tetap melakukan apapun yang ia inginkan pula.
Ben kembali fokus melanjutkan lukisannya yang sempat terhenti karena kedatangan adiknya itu. Tidak heran jika Naomi kerap tiba-tiba mendatanginya. Terkadang ada saja yang ingin diucapkan ataupun diminta Naomi padanya.
***
"Sekretris saya akan menghubungi anda saat super car tiba. Ada sekitar 20an yang akan masuk dalam minggu ini termasuk milik anda untuk kebutuhan iklan."
"Baiklah tuan Ben, anda selalu bisa diandalkan. Saya menunggu kabar baiknya. Jika begitu, saya permisi." Ben mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya memberikan salam pada salah satu kliennya terbaiknya itu.
Ben tersenyum puas, salah satu proyek besarnya berjalan lancar. Ben senang karena masih bisa mempertahankan hubungan baik dengan klien-kliennya ayahnya dulu. Mereka masih mempercayakannya pada perusahaan meskipun kini sudah diambil alih oleh Ben.
Ben melirik jam mahal yang melingkar di tangannya. Ia masih mempunyai waktu satu jam sebelum harus rapat sebagai salah satu sponsor acara balap mobil. Lagi pula acara balap mobil itu diadakan oleh perusahaan dimana sahabatnya, Justin bekerja. Tentu saja Ben tidak bisa menolak saat Justin memintanya untuk turut serta. Lagi pula merek mobil yang mereka gunakan adalah dimana keluarga Davies meletakkan saham untuk pemasok suku cadang dengan angka yang lumayan besar, jadi semuanya cukup berkaitan.
Ben yang ingin kembali ke ruang kerjanya mengurungkan niatnya saat mendengar ponselnya berbunyi. Tertera bahwa ibunya yang menghubungi membuat Ben langsung cepat-cepat mengangkatnya.
"Hallo Ibu."
"Hallo Sayang, apakah ibu menggangu?"
"Tidak, Ben baru saja selesai rapat."
"Ah baguslah. Apakah Ben sudah makan?"
"Belum, Ben akan makan setelah ini. Ada apa Ibu?"
"Begini, bisakah Ben mengangar Naomi ke Paris untuk menyusul ibu dan ayah? Ia libur kuliah beberapa hari dan ingin menyusul katanya. Sayangnya private jet kita dalam perbaikan jadi ia harus menggunakan pesawat biasa. Tapi jika Ben tidak sibuk, jika sibuk tidak apa, Naomi bisa berangkat sendiri."
"Tentu saja Ben bisa Ibu. Ben akan mengantarkan Naomi. Lagi pula Ben rindu dengan ibu dan ayah."
"Terima kasih Sayang. Ibu juga sangat merindukan Ben. Datanglah bersama adik. Ibu dan ayah sangat menunggu."
"Baik Ibu. Jaga kesahatan disana ya."
"Ben juga ya."
Setelahnya sambungan telfon terputus. Tanpa sadar Ben tersenyum. Ia senang mendengar suara ibunya. Ia senang karena ibu dan ayahnya bisa menikmati waktu mereka untuk melakukan apapun yang mereka suka. Mereka bahkan pergi ke negara mana saja yang mereka inginkan untuk menghabiskan waktu bersama. Ben harap nanti ia juga melakukan hal yang sama dengan pasangannya seperti yang dilakukan ayah dan ibunya itu.
Sepertinya Ben harus meminta sekretarisnya mengosongkan jadwalnya besok agar ia bisa pergi ke Paris bersama Naomi. Adiknya itu memang sudah dewasa, namun mereka semua selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Lagi pula Naomi suka diperlakukan seperti itu. Ia merasa seperti seorang putri.
Niat Ben yang ingin kembali ke ruangannya lagi-lagi terhenti karena ponselnya kembali berdering, kali ini telfon dari Josh, salah satu sahabatnya.
"Hallo."
"Tebak aku baru saja bertemu dengan siapa?"
"Pacar baru mantanmu?"
"Aishh... sialann! Bukan."
"Lalu siapa?" Ben terdengar menjawab dengan malas.
"Alicia."
"Alicia?" Mendengar nama itu tiba-tiba ia menjadi bersemangat.
"Ya, aku bertemu dengannya di Los Angeles."
"Lalu?"
"Ah dia benar-benar cantik sekarang, aku bahkan hampir tidak mengenalinya."
"Dari mana kau tahu itu dia? Bisa saja Alicia yang lain."
"Aku mendengar nama lengkapnya saat dia sedang berbicara dengan seseorang. Apakah nama lengkap seperti itu juga banyak yang sama?"
"Lantas apa yang kau katakan padanya?"
"Tidak ada, aku tidak sempat berbicara dengannya karena tiba-tiba dia menghilang, sayang sekali."
"Sepertinya informasi darimu tidak begitu penting."
"Tentu saja penting. Itu artinya dia masih hidup."
"Apa aku pernah mengatakan bahwa aku berpikir bahwa dia sudah mati?"
"Tidak sih, tapi kau pasti selama ini selalu memikirkan tentang cinta monyetmu dimasa kecil itu."
"Aku sibuk, tidak ada waktu meladenimu." Ben menutup sambungan telfon. Ia terdiam sejenak, kenapa harus Josh yang malah bertemu dengan Alicia? Kenapa tidak dirinya saja?