4c
May menghampiri Allata yang sedang berada di meja kasir setelah melayani sepasang pengunjung yang datang membeli bunga yang memang di sediakan diluar toko dan tidak berbentuk buket.
“Al, buketnya sudah selesai. Sekarang tinggal tugasmu untuk mengantarnya,” perintah May pada Allata.
Allata melihat ke arah May yang tidak membawa apa-apa lalu ia menatap bingung May. Buket mana yang akan kuantar?“ tanya Allata.
“Sudah kusiapkan di rumah kaca,” papar May, membuat Allata menatap curiga sahabatnya itu. “Sudah jangan menatapku begitu, hanya satu buket saja tidak akan memberatkanmu,” seru May dengan cengengesan diakhirnya.
“Baiklah.” Allata pun berlalu dari meja kasir digantikan oleh May. Tidak berapa lama suara Allata kembali terdengar dengan sosoknya yang tertutupi oleh buket bunga yang sangat besar dipelukannya.
“Kau ini May, aishh… memang satu, hanya saja ini sangat besar. Untuk apa orang ini memesan buket sebesar ini, huh!” kesal Allata pada May yang tertawa kecil melihat tubuh tinggi dan ramping Allata tertutup oleh buket yang dipeluknya.
“Jika kau ingin tau, sebaiknya kau antar secepatnya kealamat pemilik bunga itu lalu kau tanyakan untuk apa buket sebesar itu,” jelas May pada Allata.
Mau tak mau Allata membawa buket bunga matahari tersebut dipelukannya dan meletakkannya di kursi penumpang belakang BMWnya. Allata kemudian mengemudikan kendaraannya menuju alamat yang tertera di layar ponselnya. “Orang kaya, jika pemesannya seorang pria seharusnya ia mengambilnya sendiri, kenapa malah minta antar begini,” gerutu Allata, sesaat ia melihat kembali nama pemesan benar nama pemesan adalah laki-laki yang tidak asing bagi Allata nama tersebut. Allata mengingat jelas nama pemesan itu, Handra Zefano. Teman masa kecil Allata sekaligus cinta pertamanya. Allata sedikit gugup jika harus bertemu kembali dengan orang-orang yang berasal dari masa lalunya dulu. orang-orang yang ada dilingkungan tempat tinggalnya dulu, orang-orang yang mengenal bagaimana keluarganya dulu.
Sekitar 45 menit perjalanan, Allata akhirnya sampai di sebuah perumahan mewah. Rumah-rumah di kompleks perumahan tersebut tidaklah sama bentuknya seperti pada umumnya perumahan orang kaya. Rumah di kompleks tersebut memiliki jarak yang berjauhan dan bentuk rumah yang berbeda-beda. Ini bukan sebuah kompleks biasa melainkan kawasan perumahan elit yang harga rumah dan tanah ditempat itu tidaklah main-main. Jika papanya masih ada mungkin Allata dapat menjadi salah satu penghuni hunian di kawasan tersebut, tapi sekarang tidak, tidak ada gunanya jika pun ia dapat membeli atau menjadi salah satu penghuni hunian mewah di situ.
Allata menemukan rumah yang memiliki alamat yang sama dengan yang sudah diberi tahu May. Rumah besar dengan pilar yang tidak dapat dipeluk saking besarnya, rumah itu tinggi, memiliki halaman yang luas, dan gerbang masuk yang juga menjulang tinggi. Rumah itu berwarna putih gading, rumah yang cantik. Setelah Allata mendapat izin untuk memasuki gerbang, barulah Allata mengemudikan BMWnya memasuki kawasan rumah tersebut. “Melelahkan jika aku harus berjalan dari gerbang untuk mengantar buket sebesar ini,” gumam Allata. Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya. Allata turun dengan membawa buket bunga matahari pesanan pemilik rumah. Allata sedikit kesulitan karena pandangannya tertutup walau menurutnya buket yang ia bawa tidaklah terlalu berat tapi ia tidak dapat sembarangan membawanya atau nanti malah membuat buket tersebut berantakan dengan bunga yang rusak.
Allata memencet bel sekali, dan belum ada jawaban, lanjut kedua kalinya barulah seseorang membuka pintu rumah yang menjulang tinggi itu.
“Permisi saya mengantarkan buket bunga matahari atas nama Handra Zefano,” ujar Allata, saat melihat seseorang membuka pintu di hadapannya. Yang membukakan pintu adalah seorang gadis muda, mendongak melihat Allata yang menjulang tinggi.
“Adek? Hallo…” tegur Allata kembali saat melihat gadis itu tidak meresponnya dan malah terbengong melihat ke arah Allata.
Terkejut karena Allata memanggilnya lagi, barulah gadis itu mengerjapkan matanya. “Ah, iya kami memesannya atas nama Papa kami,” jelas gadis tadi sambil tersenyum melihat Allata.
“Ah, baiklah ini,” kata Allata akan menyerahkan buket tersebut, tapi ia berpikir kembali untuk memberikannnya karena ia tahu gadis di depannya itu tidak akan mampu membawanya. “Boleh kau panggilkan orang dewasa atau pelayan untuk menerima buket ini, kurasa kau tidak akan dapat membawanya masuk,” ujar Allata.
Gadis itu mengerti dan tertawa kecil. “Aku Bianca, baiklah aku akan memanggil bibi pelayan dulu, tinggu sebentar ya kakak,” kata May dan meminta Allata untuk menunggu.
Gadis bernama Bianca tadi kembali masuk ke rumah dengan berlari.
“Jadi ia anak Han,” gumam Allata dan wajahnya datar seperti biasa.
Tiba-tiba ada suara anak kecil dari bawah. “Kakak pengantar bunga?” gadis itu mendongak untuk melihat Allata yang berdiri di depannya. Butuh diketahui bahwa Allata itu memiliki tinggi badan yang semampai, ditambah ia menggunakan heels.
Allata yang kaget refleks melihat ke bawah dan melihat seorang anak yang lebih kecil lagi. “Ya?” jawab Allata dengan raut tanya tergambar jelas di wajah Allata.
“Ah… Kakak pengantar bunga cantik, aku Deani Kakak bisa memanggilku Dean atau Di,” jelas anak bernama Deani tersebut memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tanganya pada Allata dan tidak lupa wajah dengan senyuman masih anak bernama Deani itu.
Allata gemas dengan anak itu yang sungguh berani meminta perkenalan terlebih dulu dengan orang asing yang baru pertama kali ia temui. Kalau kata Allata, “itukan bahaya,” Allata pun menyambut uluran tangan itu dengan sedikit kesusahan, ingat Allata masih memeluk buket bunga yang cukup untuk menutupi dirinya tadi. Setelah tangannya bersalih menyambut uluran tangan Deani, Allata pun tersenyum pada anak itu, sebuah senyuman masih tidak masalahlah bagi Allata.
Tidak lama barulah seorang pelayan datang bersama Bianca, lalu pelayan itu mengambil alih buket tersebut dari pelukan Allata. Allata merasa lega karena beban yang dari tadi ia bawa sudah berpindah tangan.
Kembali pada pandangan dua gadis di depan Allata, setelah buket berpindah barulah terlihat sosok Allata seutuhnya. Baiklah melihat Allata dengan penampilannya, anak bernama Deani itu kini terperangah dengan mata berbinar. Allata bingung kenapa anak itu terbengong melihatnya. Padahal Allata hanya memakai blazer hitam senada dengan dalaman berwarna hitam dengan celana kulot menggantung indah di kaki jenjang Allata, juga heels hitam yang menambah cantik perawakan Allata.
“Kakak artis ya?” tanya Deani tiba-tiba, pertanyaan itu sungguh polos ditambah tatapan yang lucu itu, jelas sekali tatapan itu tatapan mengagumi Allata.
Allata terkekeh melihat kelucuan dan keluguan Deani hingga ia mengira Allata adalah seorang artis. Hallo~ bagiamana dari diri Allata yang menggambarkan jika diri Allata adalah artis atau yang mendekati dengan artis.
“Kenapa?” tanya Allata pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Deani tadi. Raut wajah Allata menunjukkan ia bingung dengan ucapan Deani.
“Iya… Kakak artis ya? Yang seperti di TV itu artis yang tiba-tiba datang ke rumah fansnya dengan membawa bingkisan. Tapi…” jelas Deani tapi ia menggantungkan kalimatnya. Membuat Allata semakin gemas dengan anak itu.
“Tapi…?” tanya Allata dengan wajah menahan senyum.
“Tapi aku tidak kenal Kakak, dan aku tidak pernah melihat Kakak di TV, aku juga tdiak mengetahui nama Kakak,” tambah Deani. Sungguh jika Allata benar-benar artis maka itu akan sangat memalukan sekali, tapi syukurlah Allata bukanlah seorang artis, ya setidaknya ia tidak terkenal di kehidupan masyarakatnya tetapi orang-orang black market mengenal Allata.
“Atau Kakak artis tidak laku ya…? Artis yang tidak terkenal?” tanya Deani, sungguh jika Allata benar-benar artis maka Allata meminta dibunuh saja. Itu sungguh memalukan sekali.
`c`