5e. a
Seorang pria tinggi berbedan kekar terlihat sedang menata guci-guci buatannya, diantara guci-guci keramik cantik itu terlihat beberapa toples berisi organ dalam manusia yang diawetkan. Sang pria membuka kemeja hitamnya lalu menyampirkannya pada gantungan kayu yang terdapat diruangan minim cahaya tersebut. Ia memasuki satu ruangan dengan cahaya remang-remang. Mendudukkan dirinya di sebuah meja lalu mengaduk cairan kental yang sudah dicampur dengan tanah liat, ia mengaduknya menggunakan tangan kekarnya. Dari atas mangkuk tempat ia mengaduk tanah liat tersebut, menetes darah yang tidak lagi banyak. Terlihat mayat yang tergantung terbalik dengan leher yang sudah tersayat, lengan yang memutih dengan sayatan yang tidak terlalu dalam tapi diyakini sudah merusak urat nadi yang ada di lengat tersebut.
Pria tadi memandang ke atas dengan senyuman lebarnya. “Aku ingin membunuh perempuan itu, tapi sangat sulit untuk membunuhnya. Bahkan aku sudah dikalahkannya berkali-kali,” monolognya seakan bercerita pada mayat yang menggantung tersebut.
“Syukur kau datang, jadi aku bisa membuat guci baru dengan darahmu,” ujarnya sambil mengaduk tanah yang sekali-sekali ia tambah dengan tanah yang lebih keras ke dalam adonannya. Mayat wanita itu tidak lagi memiliki potongan rambut yang pendek, sangat pendek dengan potongan berantakan. Diduga pria itu sudah memotong rambut wanita yang ia bunuh sebelum menggantungnya terbalik di tenang ruangan itu.
Pria itu membawa mangkuk adonannaya dan memasukkan adoanannya ke dalam mesin pengaduk, tujuan ia menggunakan mesin pengaduk agar tingkat homogenitas tanah dan darah baik dan tidak menyisakan tanah dan darah yang masih belum homogen. Setelah dirasa pengadukan berhasil, tanah liat sudah homogen, pria tadi mengambilnya dan meletakkannya di meja putar, lalu membentuknya menjadi sebuah keramik.
Seseorang mengetuk pintu dan masuk ke ruangan utama sang pria. Seseorang berjas hitam berdiri dibalik pintu geser ala pintu-pintu yang ada di rumah-rumah khas Negara Jepang. Sang pria tidak menghentikan aktifitasnya melainkan tetap fokus pada gerabahnya.
Orang yang berdiri diluar itu bersuara. “Tuan mereka aka nada transaksi kembali, beberapa data berhasil kita retas,” ujar seseorang itu yang diyakini dia adalah seorang informan pria yang dipanggil tuan tersebut.
Pria itu menghentikan aktifitasnya, dan menatap kearah pintu geser yang tertutup dimana masih berdirinya informan tadi. “Kalau begitu kita akan berburu,” katanya singkat, lalu ia tersenyum dengan mata yang tajam.
Pria itu lalu berdiri, mencuci tangannya di wastafel yang ada di ruangan tersebut, lalu ia berjalan menyapih sebuah kain untuk mengengelap keringat yang ada dileher, wajah dan tubuhnya. Ia pergi dari ruangan itu dengan menyisakan mayat yang menggantung indah di tengah-tengah ruangan tersebut, darah sudah tak lagi menetes sesering pria tadi masuk ke ruangan itu.
Di tempat lain, Allata berdiri sambil menatap kedua gadis yang Allata ketahui mereka adalah anak dari Han. Allata hendak berbalik pergi, belum ia sempurna membalikkan badannya. Allata sudah dihentikan oleh gadis yang lebih kecil.
“Kakak? Boleh aku mengenal namamu?” tanya si kecil Dean.
“Iya, boleh kami mengenal namamu?” setuju yang lebih besar bernama Bianca.
Allata kembali menatap keduanya. “Baiklah, namaku Allata. Aku pemilik sekaligus pengantar bunga,” kata Allata lalu ia tersenyum, senyum yang sangat cantik karena saat Allata tersenyum bukan hanya bibirnya yang tersenyum melainkan matanya pun tersenyum menawan.
Bianca dan Dean terpana melihat Allata yang menurut mereka tidak seperti pengantar bunga pada umumnya. Mereka pernah melihat pengantar bunga saat pengantar bunga mengantarkan buket ke rumah mereka dulu, tapi tidak seperti Allata. Style yang dikenakan Allata malah terlihat seperti seorang pekerja kantor tapi dengan rambut yang diikat sembarang, ditambah Allata mengendarai mobil mewah, mobil yang sama seperti papi mereka miliki dulu. Mereka ingat betul dengan mobil yang sering mereka naiki saat papi mereka masih hidup.
Allata memperhatikan gadis wajah Bianca dan Deani, Allata merasa aneh karena keduanya tidak memiliki kemiripan atau garis wajah yang mirip dengan Han. “Tidak mungkinkan nama itu ada dua?” pikir Allata. ia ingin mencari tahu sebab ketidak yakinannya, tetapi dengan itu maka akan membawanya pada orang-orang masa lalunya.
Allata yang tidak ingin menambah beban pikirannya, mencoba untuk tidak memikirkan lagi.
“Jadi apa ada yang dibutuhkan lagi?” tanya Allata kemudian pada Bianca dan Deani yang masih memanjang kagum dirinya.
“Boleh kita bertemu lagi?” tanya Bianca berkata ragu-ragu pada Allata.
“Iya, apa boleh kita bertemu lagi? Aku ingin sekali menjadi fansmu…” jelas Deani, bocah itu sudah terlalu pintar untuk umur 4 tahun lebih.
“Tentu saja, jika kalian ingin bertemu bisa mengunjungi toko bunga kami, aku janji kita akan bertemu lagi di sana,” tutur Allata dengan tersenyum ia memandang Bianca dan Deani.
“Yes!” seru Dean gembira, ia memang suka sekali melihat model-model bahkan berharap ia dapat bertemu dengan model-model yang ada di layar televisi yang menayangkan acara miss universe ataupun fashion week atau fashion show. Dean berpikir mereka seperti Barbie dengan gaun-gaun yang indah dan anggun, tidak lupa dengan wajah mereka yang cantik. Persis dengan Allata bedanya Allata tidak sedang menggunakan gaun yang indah itu. Dean tersenyum dengan pikirannya, “jika Allata memakai gaun yang indah itu pasti sangat cantik sekali.”
“Baiklah, aku pergi dulu. Bye…” pamit Allata lalu berbalik meninggalkan Bianca dan Dean yang masih memandangi perginya Allata dari pekarangan rumah menggunakan mobilnya.
Dean terus melompat-lompat di hadapan kakaknya saking bahagianya bertemu dengan Allata yang cantik. “Kakak tau, dia sangat cantik mirip sekali dengan Barbie. Besok kita harus pergi ke toko bunganya kak, ya ya ya…” pinta Dean pada Bianca yang tersenyum dengan tingkah adiknya yang kegirangan habis bertemu dengan Allata, padahal mereka tidak tahu betul bagaimana Allata. Tapi mereka berpikir jika pengantar bunga bukanlah orang jahat yang harus dijauhi. Termasuklah seorang Allata yang baru mereka kenal.
“Baiklah, nanti kita beri tahu Grandma untuk menemani, ok?” ujar Bianca yang dijawab anggukan oleh Dean. Mereka kembali ke dalam rumah setelah menutup pintu kembali.
“Ayo kita lihat bunga yang tadi dia antar,” ajak Bianca.
“Ayo… ah iya apa baunya sama dengan Kakak tadi ya?” seru Dean lalu tanpa berpikir panjang ia berlari duluan memasuki rumah untuk mencium baru buket yang diantar Allata. “Kakak! Cepat…!” teriak Dean.
Bianca tersenyum dan terkikik karena adiknya sangat excited pada bunga itu. Bunga yang mereka beli itu adalah untuk Vera sebagai kejutan karena Vera sangat menyukai bunga matahari. Dan mereka memberikan buket tersebut pada Vera dari hasil meminta pada Han lalu memesan bunga tersebut atas nama papa angkat mereka.
“Bagaimana? Ada baunya yang tertinggal?” tanya Bianca setelah mendapati adiknya di kamar yang sedang memperhatikan buket yang bibi pelayan letakkan di atas kasur.
“Bunga matahari ternyata cantik juga,” kata Dean yang memperhatikan buket bunga matahari yang ada di atas kasurnya.
“Iya,” setuju Bianca pada adiknya. Lalu Bianca mendekati buket tersebut dan mencium bagian yang dipeluk Allata saat membawa buket tersebut. Bianca mengendusnya lalu tersenyum memandang adiknya. “Baunya lengket, sangat lembut,” seru Bianca.