Julia membuka matanya dengan malas. Badannya sangat lelah karena Axel tidak membiarkannya beristirahat dengan benar semalam. Tangan yang masih memeluk pinggang telan-jangnya dengan erat itu, disisihkan Julia karena dia ingin menuntaskan panggilan alamnya saat ini. Setelah mengganti aroma percin-taan itu dengan aroma sabun, Julia pun segera membangunkan Axel yang masih terlelap, menyentuh punggung telan-jang Axel dengan kulit tangannya yang sedikit dingin, dan mengguncangnya, “Axel ...” panggilnya pelan. Axel hanya menaikkan pundak kanannya tanpa berniat untuk membuka mata karena masih sangat malas. “Bangun, Axel. Aku mau turun.” Julia mau menghabiskan waktunya dengan Kayla karena sekarang adalah hari minggu, dan berdiam diri di kamar akan sangat disayangkan nanti. “Mama, papa mana?” ta

