Axel sedang duduk di kursi kebesarannya menatap laptop yang ada di depannya sangat fokus. Saat Ari masuk ke dalam ruangannya dan membawa beberapa dokumen yang harus ditanda tanganinya. “Ari, sepertinya kerja sama kita dengan Mahesruni berlangsung cukup lama.” kata Axel sambil membubuhkan tinta hitam ke atas kertas berisi kontrak kerja di depannya.
“Sudah, Pak. Sejak mendiang suaminya masih hidup dulu, hotel di sana sangat nyaman dan klien kita selalu puas dengan pelayanan di sana.” jawab Ari mantap.
“Apa romo tau tentang itu?” selidik Axel.
“Tentu saja Pak, tuan Slamet lebih dulu menikmati fasilitas yang ada di sana saat perjalanan bisnisnya. Itu dari catatan yang saya tau.” jawab Ari mantap.
Setelah dokumen selesai ditanda tangani, Ari segera keluar dari ruangan Axel.
Axel cukup merasa lega, setidaknya romonya mengenal Mahesruni cukup baik dan memiliki bisnis yang terbilang sukses.
~
Julia cukup lengang sekarang, dia memutuskan untuk menjemput Kayla lebih awal. Saat tiba di sekolah Kayla, Julia memilih untuk menemui Bianca lebih dulu.
“Halo, Kak.” sapa Bianca saat melihat Julia masuk ke ruangannya.
“Aku ingin berbagi sesuatu denganmu.” kata Julia yang sudah biasa membagi ceritanya dengan Bianca. “Axel mengajakku untuk menemui pak Slamet, romomu.” imbuh Julia.
Bianca yang merasa senang segara mendekati Julia dan memeluknya. “Aku mendukungmu, Kak.” katanya.
“Aku belum siap, Bi. Mereka pasti kecewa denganku.”
“Cobalah dulu, Kak. Aku orang pertama yang mendukungmu.”
“Bunda?”
“Kakakku pasti bisa mengatasinya. Percayalah, Kak.”
Meski keraguan masih mengganjal hatinya, Julia akan mencobanya. Bukankah ini yang diinginkannya dari dulu.
Julia berada di dalam mobil bersama dengan Kayla, sopir yang mengantarnya membuat Julia bisa bermain dengan Kayla sekarang. Dengan bola lembut sebesar dua kepalan orang dewasa itu, menjadi sasaran saling lempar mereka.
“Yah, bolanya ke belakang, Ma.” kata Kayla saat melempar bola itu terlalu kencang.
Julia tersenyum dan mengusap kepala Kayla, “Aku ambilkan, Sayang.”
Saat merunduk untuk menjangkau bola, bersamaan dengan sopir membelokkan kemudi menuju ke rumahnya. Tetap saat mobil hampir masuk gerbang Julia telah mendapatkan bola Kayla dan melemparnya kembali.
Julia akan duduk kembali karena mobil belum terparkir, namun tak sengaja dia melihat mobil yang sama dengan mobil yang terparkir tak jauh saat dia keluar dari hotel dan tempat parkir sekolah Kayla tadi. Mobil berkaca gelap itu menepi tak jauh dari rumahnya.
Julia yang merasa takut memilih untuk segera menemui Axel di kantornya sekarang.
~
“Bisakah kamu keluar sekarang?” tanya Axel ke perempuan yang duduk di kursi di depan meja kerjanya sekarang.
“Kamu kenapa sih? Aku cuma mau nemenin aja kok. Lagian kita itu udah lama gak ketemu. Aku kangen tau gak.” kata Diana cuek. Dia pun berdiri dan lebih mendekati Axel. Menyentuh kedua pundak Axel dengan tangannya dan sedikit meraba d**a bagian atas Axel dengan sangat sensual.
“Jauhkan tanganmu.” kata Axel biasa namun ada penekanan di tiap katanya.
“Kita bisa bersenang-senang kalo kamu mau.” Diana memang cukup agresif dari dulu dan itu membuat Axel tidak terlalu menyukainya meski pun wajahnya termasuk sempurna untuk wanita muda yang memiliki ambisi berlebih terhadap suatu hal. “Aku bisa memanjakanmu.” bisik Diana tepat di telinga kanan Axel.
Axel yang terganggu melirik Diana, bukan karena tertarik tapi karena dia sangat risi dengan Diana yang terus memancing emosinya. “Bisa keluar sekarang?” geram Axel.
“Setelah kau menciumku Beb.” kata Diana sambil membuka dua kancing bajunya bagian atas dan menampakkan belahan itu lebih nyata. Tidak ada yang tahu tentang sifat Diana ini karena dia akan sangat manis di depan keluarganya mau pun keluarga Axel.
“Aku masih menghormatimu karena orang tuamu adalah rekan kerja romoku. Tapi jangan membuatku marah.” kata Axel memperingatkan Diana.
Diana menyeringai dan terus melepas kancing bajunya, meloloskannya dari pundaknya dan memperlihatkan gunung kembarnya yang siap menantang siapa saja.
Axel yang geram memutar kursinya menghadap Diana, “Apa kamu tidak malu?” tanya Axel sambil tersenyum mengejek kepada Diana.
Diana yang sedang mengenakan baju berkancing dan rok mengambang selutut, dengan gaya memasukkan bajunya ke dalam roknya itu, melepas baju yang dikenakannya dan dibiarkan menggantung ke sisi pinggang rampingnya yang berbentuk seperti jam pasir itu. “Tidak. Ini akan sangat menyenangkanmu, aku tidak sabar mengulum sesuatu yang mengeras di balik celana itu sekarang.” kata Diana sangat percaya diri.
“Gayamu tidak cukup membuatku terangsang, Diana. Pulanglah.” kata Axel sambil menunjuk pintu keluar.
Diana yang keras kepala malah semakin berani melepas pengait branya dan membuang barang yang mengganggu benda kenyal itu ke atas meja kerja Axel.
Axel segera berdiri dari duduknya dan berniat membenarkan kembali pakaian Diana untuk menutupi sesuatu yang sangat terlihat tidak pantas itu.
Saat Axel mulai menyentuh pundak Diada, Diana malah memegang pinggangnya dan mengelus benda berharganya yang berada di antara ke dua pahanya itu. Axel yang tidak siap memundurkan langkahnya, tapi malah membuatnya terduduk kembali di kursinya tadi.
Keadaan itu dimanfaatkan Diana dengan baik. Dia segera naik ke pangkuan Axel sambil menyeringai, merasa menang.
Bohong jika Axel tidak terangsang melihat sesuatu yang sangat indah ini. Tapi otaknya cukup waras karena Diana bukanlah orang yang lalai, dia pasti akan memanfaatkan keadaan sebaik mungkin.
“Kau sangat keras Sayang. Ayolah, aku sangat yakin ini bukan yang pertama bagimu, aku tau itu.” goda Diana sambil menggoyangkan dua puncak kembarnya.
“Tapi ini yang pertama bagimu.” jawab Axel sambil menggertakkan giginya menahan hasratnya sendiri.
“Aku tidak masalah Beb. Aku rela memberimu apa pun.” jawab Diana mantap dan semakin mendekatkan puncak kembarnya ke bibir Axel. Dia menggapai tangan Axel yang mengepal sempurna di sisi tubuhnya dan menuntunnya agar mau menyentuh benda kenyal menggoda ini.
“Turun dan pulang lah ke rumahmu.” kata Axel dengan nafasnya yang naik turun.
“Beri aku ciuman, dan aku akan pulang setelahnya.” Diana memajukan bibirnya dan hampir menyentuh bibir Axel.
Axel memalingkan wajahnya ke kanan. Meski pun dia sangat tergoda sekarang, tapi melihat ke luar jendela lebih baik untuknya dari lada harus terus melihat Diana yang berada di pangkuannya sekarang.
“Satu ciuman saja, dan aku akan pulang.” rayu Diana sambil mengelus rahang tegas itu dan membuat Axel kembali melihatnya.
“Turun atau---“
“Axel?”