Belum terlalu malam saat Axel tiba di rumahnya. Saat dia memarkirkan mobilnya, dilihatnya mobil seseorang yang dia kenal terparkir dengan rapi di sebelah mobil yang biasa dipakai Slamet bepergian.
Axel masuk rumah dengan pikiran berkecamuk, firasatnya buruk saat melihat mobil tadi.
"Kak Axel." panggilan seseorang yang bisa menghentikan langkah Axel.
"Baru pulang, Sayang?" tanya Kartini.
"Iya Bund." jawab Axel sambil mendekat dan mencium pipi kanan dan kiri bundanya.
"Ari bilang semalam harusnya kamu sudah ada di rumah?" tanya Kartini lagi.
Axel hanya bergumam dan melihat gadis yang berjalan mendekatinya, "Aku ke kamar sebentar Bund." ucap Axel saat gadis itu hampir sampai dan berlalu menuju kamarnya.
"Tante, kenapa kak Axel selalu begitu?" tanya Diana, gadis periang yang menyukai Axel dari dulu. Kerja sama antara ayahnya dan romo Axel lah yang membuatnya memiliki peluang besar untuk mendapatkan cinta Axel.
"Maaf Sayang, tante tidak mau ikut campur kalau masalah hati. Tapi tante yakin Axel tidak akan menyia-nyiakan gadis cantik sepertimu." jawab Kartini sambil mengelus lengan Diana.
Axel merasa sedikit kesal karena ternyata dia telah dibohongi oleh Ari. Saat dia bilang kalau ada klien besar yang sedang menunggunya di rumah karena ada hal penting yang ingin dipertanyakan, ternyata malah menemukan Diana di rumahnya. Memang bukan hal yang sulit untuk seorang Diana melakukan hal tersebut.
~
Axel berjalan ke meja makan dengan malas, dilihatnya di sana bunda, romo dan Bianca bercengkerama dengan Diana. Dia melewatkan kebersamaan dengan wanitanya hanya untuk hal yang konyol seperti ini, sangat merugikan menurutnya.
Setelah jamuan makan malam selesai, Axel memilih masuk ke ruang kerjanya agar tidak ada yang bisa mengganggunya. Menyibukkan diri dengan pekerjaan lebih baik dibandingkan harus menghadapi Diana.
TOK..TOK..TOK..
Axel mempersilahkan masuk seseorang yang mengganggu waktunya saat ini.
"Masih lama Sayang?" tanya Kartini saat melihat anak lelakinya masih berkutat dengan laptop di hadapannya.
"Ada apa Bunda? Bukankah tadi Ari bilang akan ada klien yang datang? Aku harus mempersiapkannya." jawab Axel tanpa melihat ke bundanya, karena sepertinya semua berjalan atas dukungan bundanya itu.
"Temani Diana sebentar, dia baru pulang dari Sydney, langsung kemari hanya karena ingin bertemu denganmu." bujuk Kartini.
"Aku sedang sibuk Bund, suruh saja dia pulang dan beristirahat di rumahnya." jawab Axel yang semakin fokus dengan laptop di hadapannya.
"Apa sudah ada seseorang?" tanya Kartini lagi.
Axel menghentikan kegiatannya dan menatap bundanya yang mencetak senyum merekah di wajah ayunya. "Bawa dia kemari, bila memang pantas untukmu. Bunda akan selalu mendukung apa pun keputusanmu." setelah mengatakan itu Kartini keluar dari ruang kerja itu meninggalkan Axel dalam keheningan.
Axel belum cukup berani membawa Julia ke rumahnya, sungguh bukan karena statusnya, dia hanya tidak mau menyakiti hari seseorang. Entah itu Julia atau bundanya. Mereka sama berartinya bagi Axel.
***
Axel dan Ari saling berhadapan, Ari menyadari kesalahannya dan tidak berani menatap Axel yang sedang melihatnya seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Apa gajimu kurang?" tanya Axel, dia sangat muak bila ada orang yang tidak loyal dengannya.
"Tidak Pak." jawab Ari tegas.
"Kalau memang kamu sudah tidak sanggup bekerja di sini silakan mengajukan surat pengunduran diri." ucap Axel lagi dan Ari semakin menundukkan pandangannya.
"Maaf atas kecerobohan saya."
"Kau berpihak padaku yang saat ini menjadi atasanmu atau keluargaku yang dulu menjadi atasanmu?" tanya Axel tegas.
"Maaf Pak, saya akan setia kepada Anda." jawab Ari mantap sambil menatap Axel meski pun tidak tepat di manik matanya.
"Aku pegang kata-katamu, kalau sekali lagi kamu melakukan kesalahan jangan salahkan aku bila aku melakukan sesuatu terhadapmu." setelah mengatakan itu Axel mengibaskan tangannya, Ari yang mengerti segera berpamitan dan keluar dari ruang kebesaran Axel.
~
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Axel yang malas untuk pulang ke rumahnya akhirnya melajukan mobilnya menuju rumah Julia. Meski pun sudah sangat larut tetapi dia ingin bertemu wanitanya itu.
"Axel?" tanya Julia saat melihat Axel keluar dari mobilnya.
"Kayla sudah tidur?" tanya Axel acuh seakan tidak ada kesalahan saat dia berada di sini selarut ini.
"Sudah, kau mencarinya?" tanya Julia lagi.
"Aku mencarimu."
"Oh, ayolah Axel. Ini sudah sangat larut malam."
"Bahkan kita sudah tidur bersama waktu itu, ku rasa tidak salah kalau aku ingin mengulanginya lagi." jawab Axel dan langsung masuk ke dalam rumah Julia.
Julia memutar bola matanya malas, sangat sulit menang dari Axel ketika berdebat seperti ini. "Kamu sudah makan?" akhirnya malah kalimat itu yang keluar dari mulut Julia.
"Apa aku boleh memakanmu?" tanya Axel saat mereka berdua sampai di kamar Julia dan Axel berniat membersihkan diri.
"Lebih baik pulang saja Axel kalau kamu hanya ingin menggangguku." jawab Julia ketus, tetapi dia tidak bisa mengabaikan Axel. Dicarikannya handuk dan pakaian suaminya yang memang mereka memiliki tubuh yang hampir sama.
"Aku akan menunggumu di dapur, bibi sudah istirahat aku tidak mau merepotkan mereka. Akan kupanaskan makanan untukmu." ucap Julia sambil melangkah keluar dari kamarnya.
~
Julia sedang membuatkan s**u untuk Axel saat Axel menghampirinya, dipeluknya pinggang ramping Julia dari belakang dan sedikit mencium puncak kelapanya, sungguh Axel sangat menyukai aroma ini.
"Makanlah dulu." kata Julia dan mengajak Axel duduk untuk menyantap makan malam yang tadi dihangatkan.
Julia menyodorkan s**u hangat buatannya disertai dengan senyum lebar. Tetapi tidak dengan Axel, ditatapnya Julia dan gelas s**u itu bergantian, dia tidak mau meminum minuman aneh selarut ini.
"Yang ini manis." kata Julia yang memahami kegundahan Axel.
Setelah menyelesaikan makan malam Julia berniat untuk tidur karena memang waktu sudah malam, saat dia ingin menutup pintu kamarnya Axel menahan pintu itu dan ikut masuk ke dalam kamar Julia.
"Apa yang kau lakukan?" kata Julia berbisik karena tidak ingin Kayla sampai bangun. Kamarnya dan kamar Kayla memang berdekatan.
"Aku hanya ingin tidur, aku janji." jawab Axel yang langsung berbaring di kasur king size Julia.
"Oh, ayolah Axel?!!" Julia tidak ingin terjadi hal yang tidak dia inginkan.
"Hanya tidur, aku janji. Kita sudah pernah tidur bersama dan tidak terjadi apa-apa." kata Axel lagi sambil memejamkan matanya.
Julia yang memang juga sudah mengantuk malas berdebat dengan Axel yang memang suka seenaknya. Dia pun masuk ke dalam selimut dan membaringkan tubuhnya.
Axel yang merasa jarak antara mereka terlalu jauh merengkuh tubuh Julia dan menyerukan wajahnya di leher Julia. "Begini lebih baik. Selamat tidur wanitaku." setelah mengatakan itu sudah tidak terdengar satu kata lagi dari bibir Axel.
Julia yang merasa tidak nyaman karena posisinya sangat tidak menguntungkan baginya hanya bisa terdiam dan mendengar hembusan nafas teratur Axel. Meski pun dia yakin Axel memang benar-benar tidur malam ini, dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok pagi saat dia terbangun.
~
Julia merasakan badannya sakit karena tidak bisa merubah posisinya dan tidak terlalu lelap dalam tidurnya. Dipandanginya wajah damai Axel, menyentuh hidung mancungnya dan berhenti di puncak hidung itu. Julia tersenyum melihat Axel yang tidur meringkuk seperti bayi besar. Mungkin hatinya memang benar-benar jatuh pada Axel sekarang. Julia mengecup pipi Axel, membenarkan selimutnya dan keluar dari kamarnya.
Axel yang sebenarnya mudah bangun sejak merasakan Julia yang menggeliat dan menikmati semua sentuhan Julia. Hatinya menghangat mengetahui Julia juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.
***
Sudah beberapa hari Axel selalu pulang ke rumah Julia, dia merasakan kedamaian dalam hidupnya. Sosok Kayla selalu membuatnya merasa dibutuhkan dan itu sangat berarti bagi Axel.
Axel baru saja menidurkan Kayla. Saat dia masuk ke dalam kamar Julia, dilihat wanitanya itu sedang di atas tempat tidur berkutat dengan laptopnya dengan raut muka yang sedikit tegang. "Sayang." sapa Axel sambil mengecup puncak kepala Julia.
Julia memandang Axel dan tersenyum sambil melepas kacamata yang dikenakannya, menutup laptopnya dan menaruhnya di meja di samping tempat tidur.
"Jangan membawa pekerjaan ke rumah, apalagi sampai ke dalam kamar. Istirahatlah." ucap Axel.
Julia mendekatkan tubuhnya, merapatkan kepalanya dengan d**a bidang Axel. Mendengar detak jantung teratur itu dan mencium parfum maskulin Axel yang selalu memabukkannya. "Apa Kayla sudah tidur?" tanya Julia.
Axel mengelus rambut panjang Julia dan menyingkirkan anak rambut Julia ke belakang telinganya. "Aku ingin membawamu bertemu dengan bundaku."
Mendengar kata itu Julia menegakkan punggungnya dan menatap ke dalam manik Axel yang mengisyaratkan kesungguhan di dalamnya, "Aku belum siap."
"Ada aku." kata Axel meyakinkan.
"Mereka pasti kecewa."
"Tidak ada yang salah denganmu."
"Bagaimana dengan statusku.”
"Aku menerimamu Sayang, aku tidak bisa menahannya terlalu lama." Axel menarik Julia ke dalam pelukannya. "Percayalah, aku akan selalu di sampingmu".
Julia hanya mengangguk pasrah. Dalam lubuk hatinya dia sangat menginginkan ini cepat terjadi, namun dia takut kalau keluarga Axel pasti akan kecewa dengan keadaannya.