Bukan mimpi

1267 Kata
    Axel mengeliat, merasakan kebas di tangan kirinya. Dia pun tersenyum melihat wanitanya masih terlelap padahal mentari sudah cukup tinggi. Mungkin wanitanya itu tidur kembali setelah dia menyuruhnya diam sebentar tadi atau karena terlalu nyaman berada di pelukannya. Senyum Axel semakin lebar kala membenarkan pemikirannya sendiri.     Axel memindah posisi tangannya dengan hati-hati agar tidak sampai membangunkan Julia, mengecup wanitanya itu dan berlalu untuk membersihkan tubuhnya.     Julia mulai terjaga dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya dan meraba sisi sebelah kanan tempat tidurnya. Tidak menemukan apa pun namun rasanya tak sedingin tadi malam. Dia pun bangun dan duduk sambil menatap ke arah yang seharusnya berbaring seseorang yang dirindukannya. Meraba kasur itu berkali-kali seperti tidak percaya bahwa dia di sini sendirian saat ini.     “Kau sudah bangun?" tanya Axel mengagetkan Julia.     Julia yang melihat Axel hanya mengenakan handuk berwarna putih yang melingkar di pinggangnya segera memalingkan wajahnya. Dia sangat senang bahwa benar yang tadi itu bukan hanya mimpi saja, tapi dia juga sangat malu kenapa bisa Axel berbuat seperti itu tanpa sungkan sedikit pun.     “Ada banyak handuk di sini." kata Axel sambil menyodorkan satu handuk kepada Julia. "Mandilah, aku akan berganti baju di sini."     Julia hanya bergeming karena pikirannya yang belum sadar betul dari tidurnya dan dia juga tidak tahu harus berkata apa.     “Atau kamu akan melihatku berganti baju sekarang? Aku tidak masalah jika kau mau.", kata Axel lagi sambil tersenyum menggoda wanitanya.     Julia yang mendengar itu segera meraih handuk itu dan berlalu ke kamar mandi.     Axel hanya bisa tersenyum melihat wanitanya itu. Sangat menyenangkan melihat wajah gugup Julia.     ~     Axel sedang menatap smartphonenya saat Julia keluar dari ruang istirahatnya. Dengan wajah yang sudah segar selesai mandi dan bermake up natural seperti biasanya, dia mendekati lelaki yang sangat dirindukan itu, tetapi dia juga tidak terlalu menunjukkannya di depan Axel. "Aku tidak tahu kapan kamu tiba." kata Julia.     Axel menatap Julia yang mengenakan gaun selutut berwarna navi dan ada hiasan pita yang melingkar di pinggangnya, sungguh pemandangan yang sangat indah baginya, Axel meletakan smartphonenya di atas meja, "Mungkin jam dua pagi, aku tidak mungkin membangunkanmu." Axel menarik tangan Julia dan mendudukkannya di atas pangkuannya. "Aku merindukanmu." katanya lagi sambil membelai wajah yang sangat dia rindukan itu.     "Kenapa menyusulku kemari?" tanya Julia dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin di depan Axel.     "Aku dengar kamu tidak ada di rumah, jadi kuputuskan menyusulmu kemari." jawab Axel sambil mencium wangi rambut Julia.     “Maksudku, kenapa tidak pulang ke rumahmu?" tanya Julia mulai kesal dengan jawaban Axel.     "Aku pulang ke rumahku. Kamu rumahku sekarang." jawab Axel sambil meraba bibir merah yang menggoda itu dengan jari jempolnya. Saat Axel akan menciumnya terdengar ketukan di pintu kaca di ruang kerja Julia. Axel dan Julia bisa melihat siapa yang datang dan mengganggu waktu bersenang-senang mereka.     Julia berdiri dari pangkuan Axel, merapikan bajunya dan berjalan mendekati meja kerjanya. "Masuk." Julia sedikit berteriak agar seseorang di luar sana bisa mendengarnya.     “Maaf Bu, ada berkas yang harus ditandatangani.” kata seseorang yang membawa beberapa map ke ruangan Julia.     “Setelah ini tolong bawakan sarapan untukku dan tamuku, s**u yang biasa kuminum dan satu teh hangat.” kata Julia sambil menyerahkan berkas yang sudah ditandatanganinya.     Setelah sarapan Julia kembali ke mejanya karena sudah banyak pekerjaan yang menunggu, dan Axel juga segera meraih smartphonenya lagi. Meski pun Axel tidak berada di kantor bukan berarti dia tidak bekerja sekarang.     ~     Julia dan Axel sama-sama tenggelam dalam pekerjaannya, Julia dengan laptop dan dokumen di depannya sedangkan Axel dengan smartphone dan sesekali menerima panggilan dari ponsel yang selalu berada di saku kemejanya.     Axel meletakan smartphone nya lagi ke atas meja, meregangkan otot pinggangnya dan berdiri berjalan mendekati wanitanya. Dilihatnya jadwal yang akan dilaksanakan selama beberapa waktu ke depan dan beberapa undangan yang berserakan di atas meja kerja Julia. "Kau melakukan ini sendiri?" tanyanya.     "Tidak, aku hanya mengarsipkan saja. Jadi bila sewaktu-waktu ada yang menanyakannya aku bisa langsung membuka data yang kubutuhkan." jawab Julia.     "Untuk apa?"     "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, apalagi semua ini hanya titipan saja."     "Maksudmu?", Axel sedikit bingung dengan arah bicara Julia.     “Kau akan tahu saat waktunya, apa tidak ada yang mencari bosnya saat ini? Bukan kah ini masih jam kerja?" tanya Julia mengganti topik pembicaraan.     "Aku bosnya, ingat?!!" Axel meraih tangan Julia agar berhenti dari aktivitasnya. Mengecup tangan halus itu dengan pandangan yang tidak lepas dari Julia.     “Apa kita akan melanjutkan yang tadi?" tanya Julia mengingatkan kejadian beberapa waktu lalu yang urung dilakukan.     "Aku selalu melakukannya kapan pun kau mau." Axel menarik Julia membawanya ke kursi yang didudukinya tadi dan mendudukkannya kembali ke pangkuannya.     Axel sudah sangat tergoda dengan bibir merah itu, dia mulai menyambarnya dengan kasar namun mengecupnya dengan sangat lembut. Menyesap bibir itu sangat dalam, menautkan lidahnya dan memainkannya.     Julia pun tidak mau kalah, dia ikut menautkan lidahnya dan menghisap bibir Axel masuk ke dalam bibirnya.     Suara yang mereka ciptakan sangat merdu dan memabukkan yang mendengarnya. Tangan Axel mulai meraba gundukan yang membusung itu, meremasnya pelan dan memutarnya.     "Ahh..." satu desahan lolos dari mulut Julia yang sedikit bengkak akibat perbuatan Axel.     Axel yang mendengar desahan itu semakin menggila. Karena Julia memakai gaun selutut, itu sangat memudahkan tangan nakal Axel yang mulai beralih dari gundukan Julia menuju paha mulusnya. Merabanya dengan perlahan sampai ke pangkal paha Julia.     Julia yang menyadari tangan Axel hampir sampai di intinya, segera menghentikan tangan itu. Dengan nafas yang memburu, Julia menggeleng, "Maaf Axel, bukan ini yang kumau."     Axel menarik tangannya, "Maafkan aku, bukan itu maksudku." Axel menangkupkan kedua tangannya di wajah Julia, "Maafkan aku, aku tidak akan mengulangi lagi sampai kamu yang menginginkannya. Maafkan aku." Axel sangat menyesal karena lepas kendali atas dirinya sendiri, sungguh bukan begitu tadi maksudnya.     Julia yang melihat kesungguhan Axel mengangguk, "Maaf aku belum bisa---"     "Sstttt...", Axel memotong ucapan Julia, menempelkan jari jempolnya di depan bibir Julia yang membengkak. "Aku tidak membutuhkannya saat kamu belum siap, jangan meminta maaf aku tidak suka itu." setelah mengatakan itu Axel memeluk wanitanya dan dibalas oleh Julia.     ~     Axel dan Julia menjemput Kayla saat ini, menunggu di depan gerbang sekolahnya yang kurang beberapa menit lagi waktunya pulang sekolah. Axel menyandarkan punggungnya untuk beristirahat sejenak karena sebenarnya dia masih merasa kelelahan, sedangkan Julia menunggu di depan mobil Axel agar jika Kayla keluar dia bisa langsung terlihat oleh Kayla.     Julia mendekati gadis yang sudah dua hari tidak dilihatnya itu.     Kayla berlari dan memeluk mamanya, "Kangen Mama, jadi beli es krim kan, Ma?"     Julia tersenyum karena gadis kecilnya itu tidak pernah melupakan apa pun bila menyangkut dengan kesenangannya. "Mama punya kejutan buat Kayla." ucap Julia sambil menuntun Kayla ke arah mobil Axel.     Kayla yang melihat papanya sedang memejamkan mata mengendap-endap masuk ke dalam mobil itu dan mencium pipi kiri papanya sambil sedikit menarik lehernya membuat Axel terjaga dan tersenyum melihat gadis yang selalu membuatnya tertawa.     "Hay Sayang." sapa Axel dengan suara yang sebenarnya kelelahan namun berusaha menutupinya di depan Julia dan Kayla.     "Kayla seneng deh Papa sudah pulang." kata Kayla sambil memeluk papanya. "Kita pulang ya Ma, kapan-kapan saja makan es krimnya, Kayla mau main sama Papa di rumah." katanya lagi.     “Ya...Mama sudah gak dibutuhin kalau ada Papa." ucap Julia yang pura-pura merajuk dan Axel hanya tersenyum melihatnya.     "Okey okey mainnya sama Papa sama Mama." kata Kayla sambil menarik mamanya masuk ke dalam mobil dan mencium pipi kanan dan kiri mamanya.     ~     Axel bermain dengan Kayla di ruang TV dan Julia menyiapkan makan malam karena sebentar lagi memang sudah waktunya.     Namun tiba-tiba Axel mendapat panggilan mendesak yang mengharuskannya meninggalkan kegiatan yang menyenangkan itu. Dengan berat hati dia pun meninggalkan dua perempuan yang sudah mengisi hatinya dengan sangat penuh itu, sampai tidak ada celah sedikit pun bagi pengganggu yang berniat menyusup ke sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN