Pagi ini Axel menepati janjinya, dilihatnya Julia dan Kayla sedang sarapan saat Axel baru tiba di rumah mereka.
"Pagi Sayang." sapa Axel.
"Papa bangunnya kesiangan ya?" omel Kayla.
"Sudah Kayla cepat selesaikan sarapannya ya, nanti telat ke sekolahnya." bujuk Julia. "Kamu sarapan juga?" tawar Julia kepada Axel.
"Boleh, cukup telur dadar itu saja." pinta Axel. Karena ada nasi goreng, roti dan telur dadar di atas meja makan saat ini. "Apa ada espresso?" tanya Axel lagi.
Julia mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkannya dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya, "Masih pagi, s**u ini akan lebih cocok." ucapnya sambil menyodorkan s**u low fat yang biasa diminumnya setiap pagi.
Axel tersenyum sambil meraih gelas s**u itu dan langsung meneguknya. Saat cairan putih kental itu masuk ke dalam mulutnya, dia mengerjitkan alisnya dan berniat memuntahkannya.
"A a a a a, habiskan! Itu baik untukmu." kata Julia sambil menghentikan gerakan Axel dengan memelototkan matanya ke arah Axel.
Kayla tersenyum melihat papanya seperti kesusahan menelan s**u itu, karena dia sangat tahu rasanya pasti tidak enak. Dia sudah pernah mencobanya dulu.
Axel memejamkan matanya dengan berlebih dan segera meraih gelas yang berisi air putih, "Okey, sebaiknya kita mulai sarapan sekarang Sayang, sebelum Mamamu lebih kejam lagi." bisik Axel ke Kayla namun masih bisa didengar oleh Julia.
"Jangan meracuni gadis kecilku!" kata Julia dan dibalas tawa oleh dua manusia yang berada di depannya.
*
Axel mengantar Kayla ke sekolah bersama Julia, karena sekolah dan tempat kerja Julia searah jadi Axel memutuskan mengajaknya berangkat bersama.
"Sayang, mungkin beberapa hari Papa gak bisa nganter ke sekolah. Papa ada pekerjaan di Surabaya." ucap Axel sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan Kayla.
"Yah... ." eluh Kayla.
"Papa janji setelah dari Surabaya kita liburan, okey?" rayu Axel.
"Okey.. Kayla masuk dulu ya Pa, sudah hampir terlambat. d**a Papa." ucap Kayla sambil mengecup pipi kanan dan kiri Axel. "d**a Mama." dan dia juga melakukannya ke Julia yang berdiri di samping Axel.
Mobil melaju menuju hotel Julia, dengan kecepatan yang konstan dan ditemani musik yang mengalunkan suara serak Once Mekel yang menyanyikan lagu Simphony.
"Aku akan ke Surabaya siang ini." ucap Axel memecah keheningan di antara mereka berdua. Julia hanya bergumam dan tetap menatap ke depan sana meskipun pikirannya melayang entah ke mana. "Apa kamu tidak keberatan? Kamu boleh ikut kalau mau?" imbuhnya.
"Berapa hari di sana?" tanya Julia.
"Entahlah, ada sedikit masalah. Kuharap aku bisa cepat menyelesaikannya. Hanya saja---" Axel menggantung kalimatnya.
"Hanya saja?" Julia menuntut kelanjutan kalimat Axel sambil memutar pandangannya ke arah Axel yang masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Aku takut ada yang merindukanku nanti." ucap Axel tanpa menoleh ke Julia.
Julia yang mendengar itu merasa pipinya memanas saat ini, dia pun menundukkan pandangannya dan mengatur nafas agar jantungnya tidak meledak saat ini.
Axel hanya tersenyum melihat tingkah Julia.
***
Sudah hampir 2 minggu Julia tidak bertemu Axel, meskipun hampir setiap hari mereka vidio call tapi sangat berbeda rasanya dengan bertemu langsung. Ada rindu yang sangat mendalam dirasakan Julia, sepertinya hatinya memang benar-benar menyerah dengan Axel kali ini.
Saat melewati area resto di hotelnya Julia mendengar suara yang cukup dikenalnya, suara ramah yang mampu membuatnya kuat menghadapi apa pun. Dengan sedikit tak percaya Julia mendekati wanita yang kini sedang makan dengan teman-temannya, mungkin mereka sedang arisan saat ini, seperti sekumpulan ibu-ibu sosialita yang biasa menghamburkan uang suaminya untuk melonggarkan nominal digit angka di dalam nomor rekeningnya. Diakunya memang resto di sini memiliki tempat yang nyaman dan pemandangan taman dan kolam yang sangat asri.
Julia memegang lengan kanan perempuan itu agar bisa melihat wajahnya. Setelah wanita itu menoleh dengan wajah terkejutnya, wanita itu segera memeluk Julia dengan erat seakan mencurahkan rindu yang begitu mendalam. "Ibu." ucap Julia yang terharu dengan pertemuan mereka.
"Apa ini Juliaku sayang?" tanya wanita itu dan diangguki oleh Julia. "Sudah sangat lama aku tidak menemukanmu, apa kamu melupakan rumahmu anakku?" tanya wanita itu lagi.
"Tidak Bu, apa Ibu ada waktu, aku ingin mengobrol dengan Ibu." kata Julia.
"Tentu Sayang." wanita itu pun berpamitan dengan teman-temannya dan menggandeng tangan Julia.
Julia mengajak wanita itu ke ruangannya untuk melepaskan rindu karena tidak ingin ada siapa pun yang mengganggunya.
"Kamu bekerja di sini, Sayang?" tanya wanita itu.
"Iya Bu, aku masih sering pulang Bu, tetapi kadang hanya sebentar karena kesibukanku. Aku akan membuatkan Ibu wedang uwuh, di sini ada Bu." ucap Julia sambil berlalu ke pojok ruangannya, di sana ada pemanas elektrik dan beberapa macam bungkus minuman yang disukainya. Julia mengambil cangkir yang berukuran sedang dan menuangkan uwuh yang terbuat dari rempah-rempah dan menyeduhnya dengan air panas. "Silakan Bu." ucapnya.
"Rasanya masih sama." kata wanita itu. "Ibu mendengar berita tentangmu waktu itu, tetapi ibu tidak bisa menemukanmu di mana pun, apa sekarang semuanya baik-baik saja, Sayang?" tanya wanita itu.
"Iya Bu, aku bisa melewatinya." jawab Julia mantap.
"Bagaimana sekarang?" tanya wanita itu lagi.
"Ada seseorang Bu, dan dia mau menerimaku. Aku akan mencobanya kali ini." jawab Julia.
"Semua pasti berakhir indah, Sayang." ucap wanita itu sambil menyesap minumannya sampai hampir habis. Dia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya dan menghela nafas, "Ibu harus pulang Sayang, kita bisa bertemu lagi. Setiap tanggal 17, Ibu selalu datang ke rumahmu, pulanglah pada hari itu pasti kita akan bertemu di sana." wanita itu memeluk dan mengusap punggung Julia.
Julia mengantar wanita itu sampai depan lobi dan melambaikan tangannya.
*
"Aku menemukanmu gadis kecilku." wanita itu merogoh ponsel yang berada di dalam tas jinjingnya dan memanggil seseorang. "Terus awasi, aku tidak mau ada yang terlewatkan sedikit pun." dia pun memutus panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.
***
Julia sangat sibuk hari ini, ada dua acara besar yang akan diadakan di hotelnya dua hari berturut-turut yaitu hari ini dan besok. Dia pun memutuskan untuk tidur di ruangannya agar bisa memonitor acara hingga tidak ada yang salah sedikit pun. Bukannya tidak percaya dengan asistennya, hanya saja dia tidak tega jika dia membiarkan bawahannya bekerja sendirian di situasi yang sangat penting bagi perusahaannya seperti saat ini.
*
Malam sangat cepat berganti dengan pagi, acara semalam telah sukses dilaksanakan. Pagi ini semua kru membersihkan sisa semalam dan mengganti dengan dekorasi yang baru.
Julia mengamati semua pekerjanya dari ruangannya, karena di ruangannya ini bagian dindingnya sisi depan terbuat dari kaca yang dari luar tidak bisa melihat ada apa di dalam, sedangkan dari dalam Julia bisa memantau semua pekerjanya yang berlalu lalang. Lelah terus mengawasi ke arah luar, Julia mulai membuka laptopnya, melihat grafik pendapatan hotelnya yang naik membuatnya tersenyum. Meskipun tidak drastis setidaknya dia bisa menjalankan bisnisnya itu dengan cukup baik.
Tak sengaja Julia melihat foto yang terpajang di atas meja kerjanya, dirinya dan Kayla yang tersenyum lebar serta seorang pria yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia meraih foto itu, mengusap wajah yang sangat dia rindukan di dalam relung hatinya. Andaikan waktu bisa diputar kembali, sungguh Julia ingin bersandar di d**a nyaman itu, seperti dulu. Tetapi semua kejadian yang dia alami mampu membuatnya setegar karang seperti saat ini, "Aku akan bahagia, aku janji." gumamnya.
Drrrrttt...drrrttt....
Ponsel Julia bergetar di atas meja, menampakkan nama seseorang yang selalu membuatnya tertawa.
[Kapan Mama pulang? Aku tidak mau main sama bibi lagi, dia selalu menyuruhku minum s**u yang tidak enak itu, beda dengan buatan Mama] rengek gadis di seberang sana.
"Besok ya Sayang, Mama masih banyak pekerjaan." jawab Julia
[Itu sangat lama] kata Kayla.
"Besok Mama yang akan jemput Kayla, Mama janji." rayu Julia.
[Baiklah, tapi setelah itu Mama harus membelikanku es krim dengan marsmellow yang banyak di atasnya]
"Okey, Sayang." kata Julia.
[Kayla tutup Ma, mmuuuaaahhh]
Julia menatap ponselnya yang memperlihatkan foto Kayla sambil tersenyum lebar, sungguh menggemaskan gadis manis itu.
*
Sang surya telah bergeser ke ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang meneduhkan setiap insan yang memandangnya. Senja itu sangat cepat berlalu meninggalkan gelapnya malam, hembusan anginnya yang semilir terasa mengiris jiwa yang kesepian.
Meskipun di bawah kebisingan seakan memekakkan telinga semua orang yang menghadiri acara itu, namun tidak bagi Julia. Rasa lelah yang menyapa raganya seakan sudah menjadi langganan di setiap malam-malam panjangnya. Ada kebimbangan di hatinya, meskipun dia siap membuka lembaran baru namun sangat sulit untuk melangkahkan kakinya. Bahkan dia pun sadar betapa sangat rapuh dirinya saat ini.
Julia membuka ruang istirahatnya, membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur yang dingin itu dan mencoba memejamkan matanya. Dia ingin malam ini cepat berlalu dan berganti dengan pagi yang menyegarkan esok hari.
***
Julia mengeliat pelan. Merasakan beban berat yang melingkar di atas pinggulnya. Kepalanya membentur sesuatu yang hangat dan menenangkan, aroma maskulin yang menyeruak mampu mengingatkannya kepada seseorang yang beberapa waktu ini mengganggunya.
Julia membuka matanya perlahan, mendapati d**a bidang yang sangat hangat itu, tersenyum, dan menutup matanya kembali. Namun selang beberapa detik dia membulatkan matanya karena menyadari ada yang salah dalam tidurnya kali ini, dia mencoba untuk bangun tetapi pelukan itu semakin erat menjerat tubuhnya.
"Sepuluh menit lagi, kumohon." suara serak yang menyadarkan Julia bahwa ini memang bukanlah mimpi dan Julia sangat tahu pemilik suara itu.
"Bagaimana kamu bisa di sini?" kata Julia sambil terus meronta mencoba melepaskan diri.
"Ayolah, sepuluh menit saja. Dan aku akan menceritakan semuanya setelah itu." Julia yang mendengar itu hanya bisa diam dan menuruti Axel. Dia pun juga merasa nyaman saat seperti ini.