Akan kucoba

1431 Kata
     Waktu berjalan lambat kali ini. Julia merasakan hal yang berbeda saat satu mobil dengan Axel. Kecanggungan mulai terasa, mungkin karena sekarang suasananya juga berbeda. Beberapa waktu yang lalu Julia sangat kesal dengan sikap Axel, tapi sekarang dia sangat canggung. Perlakuan Axel sangat manis menurut Julia, membukakan pintu, memasangkan seatbelt, itu sangat mengesankan bagi Julia. Parfum maskulinnya pun berhasil menyeruak masuk ke indra penciuman Julia, bahkan karismanya bisa membuat debaran itu datang kembali. Julia tersenyum sambil memandangi Axel yang masih fokus dengan jalan yang cukup padat sore ini.      Axel yang melirik Julia dari ekor matanya bisa menangkap bahwa Julia sebenarnya memiliki perasaan yang sama kepadanya, hanya saja mungkin ada sesuatu yang menghalanginya untuk mengungkapkan atau bahkan menerima kehadiran Axel dihidupnya. "Apa aku setampan itu?" Julia yang mendengar kalimat Axel mengeritkan alisnya sambil membuka sedikit bibirnya yang menggoda itu.      Axel yang tahu Julia masih tidak mengerti dengan ucapannya, mengulangi kalimatnya kembali. "Apa aku setampan itu sampai kamu seperti ingin memakanku?" goda Axel.      Julia yang mulai sadar akan tindakannya yang ceroboh mendengus dan mengalihkan pandangannya ke depan. "Aku hanya merasa berterima kasih karena kamu sudah mau membantuku." jawabnya sedikit sewot.      "Kamu bisa mengakuinya, aku akan pura-pura tidak mendengarkan pengakuanmu." ucap Axel sambil sedikit menoleh ke Julia dan jalan bergantian.       Julia hanya mendengus dan mengambil ponselnya dari dalam tas dan memainkannya. Axel tersenyum lagi, entah kenapa senang rasanya menggoda wanitanya itu, dia sangat cepat marah tetapi semua sikapnya terkadang sangat konyol menurut Axel.      *      "Halo sayang." sapa Axel saat melihat Kayla cemberut di atas ayunan di samping kolam ikan koi yang bersebelahan dengan kolam renang di rumahnya.      Kayla yang mendengar suara Axel segera berlari ke arah Axel, "Papa!!" Serunya sambil memeluk Axel.      Axel menggendong Kayla dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Dingin Sayang di luar."      "Papa ke mana saja? Kan sudah janji sama Kayla gak pergi-pergi lagi." rajuk Kayla.      "Papa banyak pekerjaan Sayang, tapi kan sekarang Papa sudah sama Kayla?" bujuk Axel agar kesayangannya itu tidak cemberut lagi.      "Okey, okey, sekarang Papa harus nemenin aku main dan gak boleh pulang." ucap Kayla sambil menajamkan pandangannya bermaksud menakuti Axel agar mau menurutinya.      "Tidak Sayang, kita makan dulu, baru bermain. Okey?!!"      "Baiklah, karena Papa memaksa." jawab Kayla sambil memutar bola matanya malas.      Setelah menyelesaikan acara makan malam yang lebih awal, sekarang mereka bertiga bercengkerama seperti keluarga yang sesungguhnya di ruang TV.      Julia yang melihat Axel dan Kayla bermain di depan TV hanya bisa menatap kedua manusia itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya, semua rasanya tidak benar. Tapi apa dia tega melukai gadis kecilnya itu.      "Mama tolong pegangi Papa, Ma." pinta Kayla karena kesusahan memoleskan eye shadow di kelopak mata Axel, Julia mendekat dan bergabung dengan dua manusia konyol itu.      "Ini sangat geli, Sayang." ucap Axel. Axel yang merasakan tangan halus Julia menyentuh kedua telinga dan kepalanya, apalagi wangi parfum cherry blossom yang lembut mengganggu penciumannya. Membuat Axel diam dan tenggelam dalam khayalan yang sedikit liar. Axel sangat tahu bagaimana lembutnya kulit yang menempel itu, bahkan bibir merah Julia sungguh menggoda. Sejak Axel membopongnya di kantor tadi, dia harus menahan hasrat untuk harga dirinya sebagai seorang pria.      "Selesai, trimakasih Mama. Pa kita foto yuk?" ajak Kayla polos.      Julia berdiri berniat untuk duduk ke kursinya tadi, tapi genggaman tangan Axel membuatnya mengurungkan niatnya dan tetap menemai mereka bermain. Berfoto dan bercanda, membuat hati Julia menghangat. Dia sudah sangat lama menantikan hal seperti ini, dan rasanya sangat sulit mendapatkannya. Tak terasa ada cairan yang membendung di kelopak mata Julia, saat cairan itu akan tumpah Julia pergi meninggalkan kedua orang itu.      "Okey Sayang, sekarang Kayla tidur ya? Besok sekolah dan Papa gak mau kalau Kayla sampai telat." ajak Axel.      "Okey, tapi janji Papa gak boleh pergi lagi." jawab Kayla sambil mengangkat jari kelingkingnya.      "Papa janji." Axel menautkan jari kelingkingnya kepada Kayla. "Kayla tidur, Papa mau mandi dan membersihkan ini. Okey?" bujuk Axel.      "Siap komandan!!" seru Kayla sambil mengangkat hormat tangan kanannya. Mencium pipi Axel dan berlari menuju kamarnya.      Axel yang baru bertanya arah kamar tamu kepada bibi segera membersihkan tubuhnya dan berganti baju, karena menemukan pakaian yang cocok untuknya. Dia bermaksud mencari Julia dan akan berpamitan pulang, saat dilihatnya pintu kamar yang sedikit terbuka dan menampakkan siluet wanita yang memunggunginya. Wanita itu memeluk sebuah foto yang Axel tidak tahu itu foto siapa namun saat dilihat wanitanya sedang menangis, dia bisa menebak itu mungkin foto seseorang yang sangat berarti bagi Julia. Axel memegang pundak kiri Julia.      Julia yang merasakan sentuhan itu segera menghapus air matanya yang sangat percuma disembunyikan karena dia yakin Axel sudah mengetahuinya, "Trimakasih sudah membantuku." ucap Julia sambil tersenyum ramah. Senyuman yang sama saat mereka berdua bertemu untuk pertama kali.      "Aku akan pulang." ucap Axel sambil menyentuh pipi Julia dan menghapus sisa air mata yang tinggal sedikit itu.      "Iya, trimakasih." jawab Julia sambil menunduk.      "Aku harap aku selalu bisa membantumu, kita sudah dewasa dan aku rasa kamu tahu apa maksudku."      "Tapi ini tidak benar Axel." jawab Julia dan menatap mata yang mampu menghipnotisnya itu.      "Kenapa? Aku tahu semua tentangmu, dan menurutku tidak ada yang salah dengan itu." terang Axel.      "Bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka akan menerimanya?" butiran bening itu tumpah kembali membasahi pipi pucat Julia.      Axel menakupkan kedua tangannya di pipi Julia, menghapus cairan itu lagi. "Percayalah padaku, sekali ini saja." ditariknya Julia ke dalam pelukannya, tidak ada penolakan, Axel malah merasakan balasan dari wanitanya, meskipun hanya di satu sisi saja, itu mampu membawa kelegaan tersendiri di hati Axel.      Julia mengangguk. "Akan kucoba." jawab Julia, sungguh dia pun juga ingin membuka hatinya. Bila memang ada yang mau menerima kondisinya, akan sangat membahagiakan baginya.      Axel melepas pelukannya, mengambil foto yang dipegang Julia, meletakannya di ranjang Julia, dan merengkuh wanitanya itu. Pelukan yang sangat hangat itu juga mampu meluluhkan ego Julia, dia membalas pelukan itu. Julia sangat menantikan ada seseorang yang selalu berada di sampingnya dalam keadaan apa pun, jika memang Axel mau menerimanya dia pun akan menerimanya juga.      "Aku akan pulang, dan besok pagi aku yang akan mengantar Kayla sekolah." ucap Axel setelah melepas pelukannya.      Julia mengangguk dan mengantar Axel keluar, setelah sampai di depan rumah Julia menarik tangan Axel "Trimakasih." ucapnya lagi.      Axel berbalik dan mengangguk, dia berniat masuk ke dalam mobil, tetapi ada sesuatu yang sangat mengganggunya. Disentuhnya pipi wanitanya itu dengan punggung tangan kanannya, membelai pipi yang sekarang merona dan tatapan yang sangat meneduhkan. Axel menyentuh bibir merah ceri yang mengganggunya dari tadi, mengecup benda kenyal itu dan menahan tengkuk Julia. Merasa Julia tidak menolaknya, Axel menyesap bibir manis itu dengan sangat lembut.      Julia yang merasakan gelayar aneh akibat perlakuan Axel malah mengalungkan tangannya di leher Axel. Ikut memagut dan menikmati keadaan yang sangat dia rindukan. Axel terus mencium bibir manis itu, menautkan lidahnya dan menarik lidah Julia masuk ke dalam mulutnya. Menyesapnya terus menerus sampai hampir kehabisan nafas.      Dua orang itu kini berpandangan dengan nafas yang sama-sama memburu, Axel mempererat pelukan di pinggah Julia karena merasa Julia sebentar lagi akan luruh, dan mengusap bibir Julia yang basah setelah kejadian tadi.      Julia yang merasa tubuhnya seperti jeli hanya bisa menatap Axel, tanpa ingin mengatakan apa pun. "Aku akan pulang, sebelum aku gila karenamu." Axel mengatakan itu sambil tersenyum ke Julia.      Julia hanya bisa mengangguk dan membiarkan Axel masuk ke dalam mobilnya. Mobil Axel berlalu namun Julia enggan masuk ke dalam rumah, dia malah memegangi dadanya karena merasa jantungnya sebentar lagi akan copot akibat kejadian barusan.      *      "Apa sebanyak itu pekerjaan di kantor sampai harus pulang selarut ini?" sapaan Slamet saat Axel baru saja masuk ke dalam rumah.      "Romo belum tidur?" Axel kembali nyerukan sebuah pertanyaan tanpa berniat menjawab keluhan romonya.      "Aku harap kamu cukup dewasa dan tahu diri atas semua perbuatanmu!!" bentak Slamet.      "Karena cukup dewasa, bisakah Romo membiarkanku kali ini? Aku tahu dan tidak akan mengecewakanmu dalam hal apa pun." Axel kebingungan, apa mungkin romonya tahu tentang Julia, kenapa arah bicaranya kali ini ke sana, pikirnya.      "Kalau kamu tidak mau mencoreng mukaku, kenapa proyek di Surabaya berhenti di tengah jalan? Kamu bukan anak ingusan lagi, kamu sudah besar, ada nama besar di sini yang harus kamu jaga!!" bentak romonya lagi sambil mengepalkan tangan kanannya dan menempelkan ke dadanya.      Axel sedikit lega karena ternyata bukan karena Julia, meskipun Axel mencintai Julia sepenuh hati, tetapi dia akan mencari waktu untuk membicarakan status Julia kepada keluarganya. "Ada dua sponsor yang menyeleweng, dan aku akan segera mengurusnya besok. Tadi siang jadwal meetingku sangat padat, aku akan mengurusnya besok." terang Axel.      "Aku tidak menerima kegagalan." setelah mengatakan itu Slamet berlalu menuju kamarnya. Meskipun malas menghadapi Slamet, Axel sebenarnya sangat menghormati romonya itu. Banyak hal dari romonya yang sangat mengagumkan bagi Axel, andai saja romonya itu tidak terlalu kaku dengan tradisi yang sangat ribet menurut Axel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN