Kartini seakan menulikan pendengarannya. Semerdu apa rayuan Slamet, tidak akan merasuk sedikit pun ke dalam hatinya. “Bunda, maafin romo, ya? Romo harus apa biar Bunda maafin?” rasanya sampai habis kata-kata Slamet. “Cukup! Jangan bicara lagi!” Kartini segera mendorong Slamet yang duduk terlalu dekat dengannya, dan beranjak dari kamar yang sudah ditinggalinya sejak kedatangannya kemarin. Berjalan dengan cepat ke luar dan turun ke lantai bawah, dia merasa akan kembali lagi ke Julia, di sana akan lebih baik dari pada tinggal serumah dengan lelaki menjengkelkan seperti Slamet. “Bunda, Bunda jangan begitu, Bunda!” Slamet sedikit berteriak agar Kartini tidak jadi pergi meninggalkannya lagi. “Nyonya, Nyonya mau ke mana, Nyonya.” “Jangan pergi, Nyonya.” “Jangan pergi, kami mohon, Nyonya.”

