Es krim

1309 Kata
     Beberapa hari ini Julia disibukkan dengan even besar di hotelnya. Jangankan menjemput Kayla, terkadang hanya untuk makan pun dia lupa. Tetapi keadaan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Axel.     Axel mengetahui semua kegiatan Julia. Sejak Axel tertarik dengan Julia, dia langsung mengirim seseorang untuk mengawasi Julia, hanya untuk berjaga dari jarak jauh mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan.     Axel selesai meeting saat ini, bertempat dekat dengan sekolah Kayla dan sekarang juga jam pulang sekolah, membuatnya sangat beruntung. Axel membelokkan mobil Mercedes-Benz 220 berwarna putih itu ke arah sekolah Kayla. Suasana cukup lengang mungkin karena sudah banyak siswa yang pulang, dia pun menyadari jam pulang sekolah sudah terlewat beberapa waktu yang lalu.     Axel yang melihat gadis manis yang rambutnya dikepang dua itu, melambaikan tangannya dan tersenyum manis ke arahnya. Kayla yang mengenali bahwa itu adalah Axel, segera berlari ke arahnya dan memeluknya.     "Om kesini jemput aku kan?" tanya Kayla riang.     "Mama belum datang?"     "Beberapa hari ini selalu telat, kemaren lusa malah hampir sore jemput akunya."     "Tadi Om lihat ada es krim di seberang sana, Kayla mau?" ajak Axel. Kayla mengangguk riang, Axel segera menggandengnya dan mengajaknya menyeberang jalan.     Es krim telah tersaji di depan Kayla, semangkok besar es krim rasa vanila campur dengan coklat, dan dihiasi banyak marsmellow rasa stroberi di atasnya. Sementara Axel hanya memesan kopi espresso. Kayla sangat bahagia dilihat dari binar matanya.     "Makasih ya Om, Kayla lama banget gak makan es krim, mama selalu sibuk dengan pekerjaannya sekarang, terkadang seharian Kayla bertemu sama mama cuma malam saja." omel Kayla yang terdengar lucu di telinga Axel.     "Om boleh kan berteman dengan Kayla?"     "Om suka sama mama?"     "Om sukanya sama kamu." goda Axel.     "Om tahu gak, dulu juga ada yang suka sama mama, tapi setelah kenal sama Kayla om itu sudah jarang main ke rumah Kayla."     "Tapikan Om sukanya sama Kayla."     "Kalau gitu Om mau gak jadi papa Kayla?" tanya Kayla malu-malu, dengan nada sedikit pelan dan wajah yang menunduk.     Axel mendekati Kayla dan memegang kedua pundaknya. "Apa boleh Om jadi papa Kayla?" tanya Axel setelah menyamakan tinggi badannya dengan Kayla.     Kayla yang mendengar itu segera melihat wajah Axel dan memeluknya dengan erat. "Om janji ya gak pergi lagi seperti om yang lainnya?" tuntut Kayla.     "Kok om? Panggil papa dong." jawab Axel sambil membalas pelukan Kayla.     "Kayla sayang banget sama Papa."     "Sudahnya, nanti es krimnya leleh kalau gak cepet dimakan." Kayla mengangguk dan melepaskan pelukannya.     "Tapi Papa mau minta tolong nih sama Kayla." ucap Axel setelah kembali duduk di kursinya tadi.     "Apa Pa?"     "Mama kan gak suka sama Papa, Kayla bisa bantu kan?"     "Mmm ... tapi Papa janji ya, gak boleh pergi lagi."     "Iya Sayang, kamu lucu banget sih." gemas Axel sambil menarik sedikit pipi Kayla.     "Tapi aku mau lihat ikan Pari, boleh kan Pa?"     "Kayla tahu tempatnya?"     "Tahu dong, ayo Pa berangkat sekarang." Kayla pun langsung menyeret tangan Axel dan berjalan sambil berloncat-loncat kecil.     *     "Ke mana Bi?!!" Julia sangat frustrasi karena tidak menemukan Kayla di mana pum, memang kelalaiannya, bahkan sudah terlalu terlambat untuk menjemputnya kali ini.     "Maaf Kak, aku kurang mengawasi Kayla." sesal Bianca.     "Maaf Non, tadi yang menjemput mobilnya warna putih." kata satpam sekolah Kayla. "Saya lihat non Kayla yang menghampiri dulu, saya pikir non Kayla sudah mengenalnya, jadi saya tidak melarangnya Non." jelasnya lagi.     "Iya tapi siapa Pak? Seharusnya Bapak tahu itu bukan saya, jadi Bapak cegah." ucap Julia sambil menangis, dia sangat bingung karena tidak bisa berpikir saat ini.     Bianca yang melihat Julia tak henti menangis lebih mendekatinya dan memeluknya. "Kita lapor polisi ya Kak?"     "Gak bisa Bi, belum 2×24 jam, pasti juga disuruh nunggu."     "Apa coba telefon ke rumah saja Kak, siapa tahu sudah pulang. Kita harus positif Kak."     "Udah Bi, belom pulang katanya." tangisnya semakin deras. "Aku mama yang bodoh Bi, gak bisa jagain Kayla." Julia sangat menyesal karena beberapa hari ini sudah telat menjemput Kayla, dan hari ini juga sangat keterlaluan.     "Jangan seperti ini Kak." Bianca mengusap punggung Julia untuk menguatkannya. Julia melepas pelukannya karena mendengar dering ponsel dari tas yang menyelempang sembarang di pundaknya yang rapuh itu. Tertera panggilan dari rumahnya dan dia pun segera mengangkatnya, "Ya Bi?"     [Non Kayla sudah di rumah Non] suara dari seberang sana, Julia yang mendengar itu merasa sangat lega, dia pun mematikan panggilan tersebut dan beranjak dari duduknya. "Kayla sudah di rumah Bi, aku pulang dulu." ucapnya sambil bergegas keluar ruang kelas itu dan masuk ke mobilnya.     Bianca ikut lega karenanya.     *     Sampai di rumah Julia melihat Kayla dan Axel bermain boneka di ruang TV, Kayla yang sudah berganti baju tetapi Axel masih mengenakan baju kantor yang lengannya sudah dilipat sampai siku dan dasi yang sudah tidak menempel di tempatnya.     Julia segera memeluk Kayla erat, "Sayang, dari mana saja? Mama sangat kawatir tadi nyariin Kayla ke mana-mana." dipeluk dan diciuminya pipi dan seluruh wajah Kayla.     "Tadi Kayla beli es krim Ma, sama Papa. Trus habis itu lihat ikan pari di mall, ya kan Pa?"     Julia tahu ada kebahagiaan di wajah Kayla, "Kayla pasti cape, Kayla istirahat dulu ya, Mama mau bicara sama Om Axel dulu, okey?!"     Kayla mengangguk setuju, lalu dia mencium pipi Julia kanan dan kiri, setelah itu berjalan mendekati Axel dan mencium pipinya juga kanan dan kiri. "Kayla bobok dulu ya Pa."     "Iya Sayang, nanti Papa langsung pulang ya." Kayla mengangguk dan langsung menuju ke kamarnya.     PLAKKKK     Satu tamparan mendarat di pipi Axel, meskipun tidak terlalu sakit tetapi Axel tetap mengusap pipinya.     "Di sana pintu keluarnya, silakan keluar!!" seru Julia.     Julia pun berpaling ingin masuk menyusul Kayla, tetapi ada tangan kekar yang mencengkeram tangannya yang kurus itu.     "Apa aku melakukan kesalahan? Bahkan Kayla sangat menyukai kebersamaan kita tadi!" bantah Axel.     "Kamu bukan siapa-siapa, jangan mengganggu hidupku lagi!!" Julia menekankan di setiap kata-katanya, ada kemarahan yang sangat kentara di wajahnya.     "Kayla memanggilku Papa, bahkan dia yang minta. Cobalah tanya apa keinginannya, jangan cuma memikirkan keegoisanmu saja!!" geram Axel, dia sedikit menaikkan nada suaranya karena sama-sama tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam kepala Julia.     Setelah mengatakan itu Axel melepaskan cengkeramannya dan berjalan meninggalkan Julia sendirian.     *****     Sudah beberapa hari Kayla mogok makan, bahkan semua makanan kesukaannya selalu tersaji di atas meja.     "Ayo Sayang, mama masih banyak pekerjaan di kantor, nanti Kayla telat sekolahnya." bujuk Julia, entah sudah berapa pagi tetap seperti ini.     "Pokoknya Kayla mau sama papa, titik!!" seru Kayla tidak mau kalah.     "Itu bukan papa Kayla sayang, ayo dong kitakan sudah pernah membahas ini."     "Tapi papa Axel sudah janji sama Kayla, gak akan ninggalin Kayla!!"     "Okey, sekarang Kayla sarapan dulu, terus sekolah, mama janji nanti mama ke kantor papa Axel, okey??!" bujuk Julia.     "Tapi kalau nanti Kayla masih gak ketemu sama papa, Kayla gak mau makan lagi!!" ancam Kayla.     "Okey Sayang, Mama janji."     *     Dengan berat hati Julia mendatangi kantor Axel. Setelah pertemuan dengan clien untuk membahas acara yang akan diadakan di hotel Mahesruni, Julia segera melajukan mobilnya menuju ke kantor Axel. Meskipun sudah hampir jam makan siang, tetap tidak ada yang lebih penting dari pada pertemuannya kali ini. Semua hanya demi Kayla.     Setelah bertemu resepsionis Julia langsung didatangi oleh seorang lelaki yang cukup ramah dan mengantarnya langsung ke ruangan Axel.     "Silakan masuk Nona, silakan tunggu di sini. Pak Axel masih rapat. Sekitar tiga puluh menit lagi sudah selesai." setelah mengatakan itu Julia ditinggal sendirian di dalam ruangan yang besar dan sangat rapi itu.     Interior ruangan ini sangat mewah, namun tidak meninggalkan aksen klasiknya yang masih kentara. Furniture dari kayu jati sangat mendominasi di ruangan ini, dan adanya patung Loro Blonyo yang ditempatkan di satu meja khusus berhasil mencuri hati siapa pun yang berada di ruangan ini. Termasuk Julia. Julia cukup mengenal keluarga Cahyono. Bertahun-tahun bekerja sama tentu sedikit banyak Julia tahu tentang selera keluarga besar itu.     Cukup lama Julia menunggu, dengan badan kelelahan dia menyandarkan punggungnya di kursi nyaman ini. Karena rasa kantuknya, dia pun mencoba merebahkan tubuhnya sedikit. Dia yakin rapatnya masih cukup lama, mungkin selesai pas jam makan siang, dan itu masih sekitar satu jam lagi, pikirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN