Kartini mengeraskan mimik wajahnya, “kenapa kamu tidak menjawabnya, Slamet? Jawab aku! Atau ceriakan aku agar aku bisa menikahkan putra kebanggaanku ini dengan putri kecilku.” 'Deg.' Slamet segera berlutut dan memeluk lutut wanita yang begitu dicintainya itu. Erat, sangat erat, sampai dia pun tidak akan peduli jika Kartini akan terjatuh oleh pelukannya, “jangan katakan itu! Jangan katakan itu!” “Jangan membuatku marah dan mengatakan hal buruk lagi jika memang kamu tidak suka!” Kartini tidak peduli kalau Slamet akan membencinya setelah ini. “Tidak, Kartini. Tidak, Sayang. Aku tidak akan membuatmu marah lagi, aku janji, aku janji, Sayang. Jangan seperti ini lagi ... .” sungguh Slamet sangat mengiba kali ini. Tidak peduli dengan semua orang di tempat ini yang akan memandangnya apa, karena

