Yang jaraknya cukup dekat hanya sekitar sepuluh menit apabila di tempuh dengan berjalan kaki.
Kembali lagi ke kediaman Dennis Xian
Setelah tragedi siang hari tadi, Dennis sedikit murung karena akibat ia memainkan pedang pusaka ayahnya, Cristian Wong mengalami luka – luka tetapi dengan kemampuan sang ibu yang luar biasa, luka – luka tersebut bisa sembuh dengan cepat.
"Kau, kenapa anakku? Tumben kamu diam saja, apa ini karena kejadian tadi siang, ya?" selidik Cristian Wong dengan muka seriusnya.
"Benar, ayah, karena aku, tadi siang ayah menjadi terluka," lirih Dennis merasa bersalah karena telah memaksa meminjam pedang sang ayah.
"Ayah, tidak apa – apa kok, nak, ayah baik – baik saja," meyakinkan sang anak agar ia menjadi ceria kembali.
Dengan mata yang berbinar, Dennis, melihat ayahnya yang telah meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak terluka terlalu parah, hanya sekedar luka ringan yang dideritanya.
Membuat sang anak tersenyum kembali dan mulai menjadi ceria.
"Nah gitu dong, ini baru anak ayah yang biasa, bukan seperti yang tadi yang hanya sedih saja," ujar sang ayah senang karena melihat anaknya kembali normal.
"Bagaimana kalau ayah mengajak kamu untuk latihan bersama?" ajak Cristian dengan tatapan yang serius.
"Ayah, serius? Mengajak aku latihan pedang?" tanya Dennis serius dengan tatapan yang nanar.
"Benar sayang, ayah mengajak kamu untuk latihan bersama, apakah kamu tidak mau, sayang?" tanya Cristian kembali untuk mempertegas kepada anaknya.
"Mau... Mau... Aku sangat mau, ayah, kapan kita akan latihan, yah?" jawab Dennis dengan sangat antusias karena emang itulah yang ditunggu – tunggu sama Dennis.
Akhirnya mereka berdua mulai untuk latihan dasar, yaitu latihan teknik dasar pedang yang dikuasai oleh Cristian yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
Cristian akan mengajari cara mencabut pedang pusaka, posisi kaki dan cara memegang pedang dengan tangan kiri memegang sarung dan tangan kanan memegang gagang pedang tersebut.
Setelah mengajari semua teknik – teknik pedang yang Cristian tahu kepada anaknya. Akhirnya Dennis belajar sendiri dengan berbekal ilmu dari ayahnya dengan sedikit modifikasi di setiap jurusnya.
"Bagus, sayang, teruslah seperti itu, kamu cepat belajar," ucap Cristian bangga kepada anaknya, yang semakin menyeramkan setelah belajar beberapa teknik pedang dasar.
Kenapa tidak menyeramkan, karena setiap tebasan yang ia ayunkan akan merusak area yang dilalui oleh arah pedang itu berasal. Yang membuat sang ayah menggeleng – gelengkan kepalanya akibat latihan sang anak.
Yang hampir saja menghancurkan semua bagian rumahnya. Tetapi terdapat sebuah simpul senyum dari kedua orang tuanya melihat perkembangan anaknya yang begitu cepat.
(Garuk – garuk kepala)
"Maafkan aku, ayah, ibu, karena perbuatan aku hampir saja menghancurkan rumah kita ini dan sekitarnya," lirih Dennis kepada kedua orang tuanya.
"Tidak apa – apa, sayang, kami malah senang melihat perkembangan kamu yang sangat pesat padahal sebelumnya, kamu hanya dilatih sebentar saja oleh ayahmu itu," cetus sang ibunya dengan wajah yang berbinar senang.
(Menundukkan badan)
"Ayo, naik ke atas punggung ayah, sayang," ajak Cristian kepada Dennis karena terlihat sang anak sangat kelelahan setelah melakukan latihan pedang ringan.
"Ayo, cepetan sayang, bawa anak kita masuk ke dalam rumah agar anak kita tidak kedinginan karena udara malam hari ini," ajak Minnie agar Cristian cepat membawa Dennis masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah mereka langsung membersihkan dirinya masing – masing sebelum akhirnya mereka semua tertidur dikamar masing – masing.
Keesokan harinya
Di sebuah hutan ada seorang anak berusia tiga tahun yang sedang memperdalam ilmu pedang yang telah ia dapatkan dari sang ayah, yang merupakan pendekar pedang legendaris.
Dia mulai mencoba jurus – jurus yang telah diajarkan oleh sang ayah kepadanya.
Pertama – tama dia memulainya dengan cara menarik pedang dari sarungnya, dan perlahan – lahan ia mengayunkan pedang dengan kekuatan yang biasa saja, tetapi hasilnya masih tetap sama seperti apa yang kemarin mereka latih, yaitu banyak sekali pohon yang tumbang dalam sekali tebasan pedangnya.
Tanpa ia sadari, dari tadi ada sesosok bayangan hitam yang sedang mengintai dirinya karena bagi sosok hitam ini, anak kecil ini telah membuat keributan ditempat istirahatnya.
Sang sosok bayangan hitam itu, tidak suka wilayahnya dijadikan tempat untuk latihan karena ia paling tidak suka akan yang namanya sebuah keributan apalagi sampai adanya pertempuran darah ditempatnya.
"Hai! Anak kecil, kamu sedang apa disini?" gertak dari suara bayangan hitam itu.
"Maafkan, aku tuan, aku tidak bermaksud untuk membuat keributan di tempat ini tuan, aku hanya sekedar belajar beberapa jurus di sini" memelas Dennis dengan wajah yang tiba – tiba memucat pasi.
Akhirnya sosok bayangan hitamnya menunjukkan dirinya kepada sang anak kecil, ternyata dia adalah monster dengan sosok campuran yang memiliki ciri – ciri mempunyai tubuh rusa, wajah naga, ekor banteng, dan cakar merak bersisik, serta memiliki tanduk lebih dari satu buah.
"Hah? K-ka-kamu? Kamu adalah Qirin? Monster legenda yang sering sekali diceritakan oleh ayah dan ibuku," gugup Dennis kaget melihat monster yang telah datang dan menunjukkan dirinya kepada Dennis.
Hahaha... Tawa menggelegar dari sosok Qirin itu membuat Dennis semakin gemetaran karena ini adalah pertama kalinya ia melihat dan berhadapan secara langsung dengan sosok Qirin.
"Kau kan yang telah membuat keributan di tempat aku tapi kenapa kamu menjadi gemetaran seperti itu bocah kecil?" gertak sang monster legenda Qirin.
"Ka-karena... Ka-kamu... Adalah monster yang sangat kuat dan begitu ganas jadi aku sedikit takut kepadamu, wahai monster legenda, Qirin," ujar Dennis dengan gemetar menjawab semua pertanyaan Qirin, monster legenda.
Hahaha... Suara tawanya kembali menggelegar sehingga semua binatang – binatang yang berada di sana keluar dari tempat persembunyiannya. Yang membuat bulu kuduk Dennis berdiri semuanya.
Tanpa basa – basi lagi Qirin mulai menerjang sang anak kecil itu, dengan cakar yang telah merenggang siap untuk menangkap sang mangsanya. Dengan gerakan secepat kilat ia menangkap Dennis dengan mencengkram kerah baju yang sedang dia pakai.
"Hua... Ayah, ibu," teriak Dennis panik.
Tidak lama setelah panggilan dari anaknya terdengar oleh sang ayah, ada sebuah kilatan cahaya yang membentuk garis miring sehingga Qirin melepaskan cengkraman terhadap anaknya.
Lalu dengan cepat Cristian melompat untuk menangkap Dennis yang telah terlepas dari cengkraman cakar Qirin tersebut.
"Kamu baik – baik saja, anakku?" tanya Cristian kepada Dennis yang sedikit ketakutan karena dia telah dibawa terbang oleh Qirin.
"Oh, kau ternyata adalah ayah dari anak ini, Cristian," umpat Qirin kesal karena jurus yang digunakan oleh Cristian adalah jurus pedang kelas langit.
"Hai, Qirin bagaimana kamu bisa mengenal nama aku, apakah kita pernah bertemu?" tanya Cristian heran dengan ucapan dari monster legenda ini.