Selepas selawatan di masjid, Arka bertandang ke rumah Danu. Dan seakan sudah menunggu-nunggu kedatangan Arka, si empunya rumah sudah membukakan pintu setibanya Arka di halaman rumah yang sederhana namun asri itu. Bahkan beberapa hidangan jajanan telah tersedia di meja tamu.
“Nggak nyangka gue ternyata lo masih inget cara pake sarung. Gua kira abis tahunan di kota lo cuma tahu cara masukin kaki ke celana.” Pria dengan tubuh sama tegap dengan Arka, menyambut di ambang pintu. Otot-otot pria itu tampak liat, menyembul dari kaus abu-abu lengan pendek yang dia kenakan. Kerja kasar yang rutin dikerjakannya telah menempa otot-otot itu, berbeda dengan Arka dan Resya yang memperoleh otot-otot mereka dari kunjungan rutin ke gym.
Arka tergelak. “Gini-gini gue masih solat.”
“Beneran?” Danu mengangkat alis, usil.
“Kampret lo!” sembur Arka sambil menghadiahi lemparan tutup stoples pada sosok di seberangnya. Danu berkelit, kemudian dengan sigap menangkap tutup stoples itu sebelum jatuh dan menggelinding di lantai.
Danu kemudian lanjut bicara, “Tapi bener, sih. Di situasi kayak gini lo mesti kencengin solat sama doa lo. Biar Tuhan kasihan dan segera nolongin lo nemuin Acung.”
Arka tanpa sadar mengetatkan otot-otot rahangnya saat mendengar nama itu disebut. Ada geram yang bercokol menyala-nyala di dadanya pada nama itu, dan pada dirinya sendiri. Ya, bagaimanapun, dirinya juga ambil peran dalam lubang masalah ini. Dan hal ini membuat Arka lagi-lagi ingin merutuki diri sendiri, bisa-bisanya kemarin dia memercayai Acung dengan kepercayaan bak sapi dicocok hidungnya.
“Kira-kira sampe kapan lo bakal di sini?”
“Enggak bakal lama. Gue emang ambil semua sisa cuti gue yang belum dipake, tapi itu aja udah alot banget debatnya sama pihak personalia sampe akhirnya di-ACC. Abis ini gue pasti diganjar pekerjaaan segunung.” Tanpa sadar Arka menarik-narik kerah lehernya, seakan di sana ada dasi yang biasa dia tarik dan longgarkan simpulnya, sebagaimana kebiasaannya saat menghadapi tumpukan pekerjaan di kantor. Menyadari bahwa saat ini dia tak mengenakan dasi, bahwa yang melingkari lehernya adalah kerah rapat baju koko, Arka kembali tergelak.
Kalau dia terus-terusan tergelak sendiri seperti ini, bisa-bisa dia dianggap gila. Tapi jujur, saking senewennya, Arka memang bisa disebut hampir gila.
Seumur-umur dirinya tak pernah berutang, dari kecil bapaknya selalu mengajari bahwa berutang itu tindakan paling tak bertanggung jawab. Lebih baik hanya punya satu kelereng, daripada punya berpuluh-puluh, bahkan sampai penuh satu stoples, tapi itu semua hasil ngutang, kata bapaknya waktu Arka masih bocah pecicilan yang hobi main.
“Punya utang itu hanya akan membuatmu senang hari ini, tapi besok dan hari-hari setelahnya, kamu akan dipenuhi rasa cemas dan tak tenang soal bagaimana cara melunasinya.”
Itu ucapan yang selalu Arka ingat dari bapaknya.
Tapi kini Arka malah punya banyat utang. Amat banyak. Memang bukan utangnya secara langsung, semua nominal yang mencengangkan itu adalah utang si k*****t Acung, tapi dengan Arka mau terlibat dalam proses transaksi ini, bagaimana dia bisa dengan sukarela membolehkan namanya dijadikan penjamin, Arka merasa telah melakukan kesalahan fatal. Arka merasa sedikit-banyak telah mengkhianati nasihat bapaknya.
“Terus kalo selama di sini lo tetep nggak bisa nemuin Acung, gimana langkah lo selanjutnya?” tanya Danu, menarik Arka dari pikiran di dalam kepalanya.
“Entah.” Satu kata getir meluncur dari bibir Arka.
Berusaha menghalau suasana yang pekat dengan nuansa putus asa, Danu bertanya dengan santai, “Si Resya gimana? Masih suka ngejar-ngejarin cewek nggak?”
“Masih. Bahkan makin menjadi-jadi aja dari yang terakhir lo liat pas kita masih jamannya kuliah. Kalau dulu dia cuma tidur sama pacar-pacarnya, sekarang dia tidur sama siapa aja asal itu cewek.”
“Gila itu anak. Nggak takut tititnya kudisan apa.”
Mendengar seloroh itu, keduanya pun kontan tertawa.
“Cuma kalau kerjaan di kantor lagi overload aja yang bisa bikin Resya nggak inget buat nyari cewek.”
“Nah, itu tuh! Itu sebabnya gue nggak mau kerja kantoran, dan lebih milih pulang ke kampung.”
Arka menaikkan alisnya, mempertanyakan maksud sahabatnya. “Maksud lo, kalau di kampung nggak ada overload kerjaan, jadi bisa bebas ngejar gadis terus-terusan nonstop?”
Danu makin menjadi tertawa. Suaranya lantang sampai terdengar hingga ke beranda. Untung kedua orang tuanya masih tak pulang dari masjid sehingga mereka berdua bebas berkelakar yang tentu tak akan berani mereka kelakarkan sebebas ini kalau ada orang tua Danu.
“Lo tahu gue bukan penjahat kelamin kayak Resya. Tapi ya gue nggak suci-suci ametlah. Mana ada cowok yang nggak mikirin cewek, emang gue belok apa? Maksud gue, di kampung tuh enak, kerja semampunya, pendapatan ya emang cuma seadanya—nggak bisa kalau mau gue bandingan sama penghasilan lo-lo pada di sana. Tapi gue nggak mesti ngerasain stres berlebih kayak pas kalian lagi dikejar deadline. Nggak ada tuntutan berlebih, nggak ada bos penuntut. Hidup lebih santai.” Danu menyeringai, kemudian dia menambahkan dengan nada penuh kemenenangan, “Dan gue bisa kerja—garap sawah—sambil dikasi pemandangan perawan-perawan lagi nyuci di sungai. Bilang sama Resya, gue nggak usah nyari, tapi langsung dikasi.”
Arka mendecihkan bibir.
Memang, inilah beda Danu dengan dirinya dan Resya. Bisa dibilang Danu sangat anti jadi pegawai kantoran, ataupun pegawai apa pun yang akan membuatnya terikat. Padahal bukannya Danu tidak punya kualifikasi untuk melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan bonafide. IP-nya bahkan di atas 3.
Kalau saja ini tujuh tahun yang lalu, atau bahkan dua tahun yang lalu, Arka masih akan mentertawakan prinsip sahabatnya ini. Bagaimana bisa pekerjaan kasar yang hanya membuang-buang waktu tanpa menghasilkan uang seberapa, dibandingkan dengan pekerjaannya dan Resya yang stabil, berada di ruang ber-AC, terlindungi dari terik matahari, dan memiliki gaji banyak. Tapi kini, Arka tak bisa tidak mulai mengerti prinsip Danu, bahkan mulai condong mengikuti prinsipnya. Arka sudah lelah menjadi pegawai kantoran.
Tetapi memangnya dia sedang dalam posisi bisa pilih-pilih pekerjaan?
Sebelum Acung menipunya, Arka sudah 50% siap untuk berganti pekerjaan. 50% sisanya hanya soal timing yang tepat kapan dia akan mengajukan surat resign-nya. Tetapi kini setelah Acung menipunya, Arka tak punya jaminan apa-apa lagi bahwa kalau sampai dia benar-benar resign dia masih akan sukses di pekerjaan yang selanjutnya.
“Ya udah gue pulang dulu, ya. Sampein salam gue buat Bu Armi dan Pak Jaka,” pamit Arka sambil menyebut nama kedua orang tua Danu.
“Nggak tungguin mereka aja? Bentar lagi Ibu-Bapak pasti turun kok dari masjid.”
Arka menggeleng, tanpa memberi alasan. Lalu Danu terkekeh.
“Gue tahu. Lo pasti takut ditanya-tanya soal nikah ya?”
“Kampret lo! Kayak yang nggak ngerti aja gimana ribetnya.”
“Itulah, Ka, yang namanya hidup. Butuh tujuan. Mereka cuma bantu kita buat segera nemuin tujuan.”
“Gue nggak keberatan kalau lo yang duluan nikah,” potong Arka, kesal dengan omongan sok bijak sahabatnya.
Danu mengedikkan bahu. “Gue juga nggak keberatan. Gue cuma belum nemu yang pas aja.”
Tiba-tiba Arka ingin menyebutkan nama Nilam, tapi secepat pikiran itu muncul, secepat itu pula satu sudut pikirannya yang lain mencegat. Entah kenapa Arka tak ingin—bahkan meski semata saran usil—memprovokasi Danu untuk memikirkan Nilam.