“Kamu sudah bawa semuanya kan, Ka? Nggak ada yang ketinggalan? Itu, kiriman yang dari Bu Sima untuk Resya udah dimasukin kan ke bagasi? Kalau kelupaan bukan cuma kamu yang bakal diomelin, Ibu juga bakal terus disindir-sindir di arisan. Pasti dikatain pikun sampe bisa lupa hal penting beginian.”
“Udah kok, Bu. Itu ada di bawah Tupperware yang isi masakan yang Ibu buat untuk Arka.”
Tak langsung percaya begitu saja dengan jawaban putranya, Sutia menyempatkan melongok ke bagasi.
“Syukurlah …,” ucap perempuan yang kali ini menanggalkan baju favoritnya, daster, dan beralih mengenakan jubah satin. Lalu sekali lagi Sutia melirik pada putranya yang hanya mengenakan kaus polo dan celana training. Tampak seperti orang yang seharian mau mendekam di rumah, tampak terlalu santai untuk ukuran orang yang mau bepergian, begitu pendapat Sutia tadi pagi waktu melihat Arka keluar dari kamarnya dengan berpakaian seperti itu. “Kenapa nggak pakai kemejamu kalau ke kantor sih, Ka? Masa pake baju kayak mau nongkrong sama si Danu.”
Dan anaknya itu hanya menjawab bahwa dia lebih nyaman begini. “Lagian di bus nanti kan Arka juga cuma bakalan duduk atau ketiduran di kursi, ngapain pake baju bagus-bagus.”
Sutia menggeleng-geleng, tak habis pikir dengan jalan pikir anaknya. Kalau dirinya yang bepergian jauh, sudah pasti dia keluarkan bajunya yang paling anyar. Dan jubah satin yang dikenakannya saat ini jelas adalah yang teranyar. Ada di lemari paling bawah saking jarangnya dipakai. Padahal dirinya Cuma mau mengantar ke terminal. Soal kenyamanan itu nomor paling belakang, yang penting tampil bagus.
Beberapa saat suasana lengang. Hanya “beberapa saat”, karena kemudian Sutia kembali berkicau, “Kalau tiketmu, nggak kelupaan juga kan, Ka?”
“Enggak, Bu. Tiketnya nanti dibeli pas udah sampai terminal.”
“Eh, nggak takut kehabisan tiket? Gimana kalau nggak kebagian?”
“Tenang, Bu, Arka udah nelepon sama kernetnya tadi. Udah mesen satu tiketnya. Aman, kok,” jawab Arka, masih dengan sabar.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Tap—“
Ucapan Sutia tiba-tiba diinterupsi oleh bunyi klakson yang menyalak garang dan berentet. Semua orang di dalam mobil serta-merta terkejut, mata mereka awas ke jalan, mengira ada yang tak beres.
“Kenapa, Mas?” suara yang sarat khawatir terdengar dari perempuan berkerudung cokelat yang duduk di jok depan di sebelah sopir.
“Oh, nggak, kok. Tadi ada kucing di tengah jalan,” sahut sang sopir, yang tak lain adalah Lutfi, suami Nida, adik ipar Arka.
“Nggak kelindes tapi kan, Mas?” Nida yang adalah seorang pencinta kucing bertanya dengan mata terbelalak.
“Enggak, kok, tenang, Dek.”
“Beneran? Nida cek dulu keluar, ya?”
“Eh, nggak usah, udah lewat juga.”
“Iya, Nida, nggak usah. Kamu kok masih lebih kepikiran kucing daripada kakakmu. Kalau kakakmu telat sampai terminal gimana?” timpal ibunya dari belakang.
“Ya bagus kan, Bu. Biar nggak usah balik sekalian. Ibu juga sebenernya masih belum selesai kangen-kangenan sama Kak Arka, kan?” Nida mengedip-ngedip penuh persekongkolan ke jok belakang tempat ibu dan kakaknya duduk. Meski sudah berumur 27 tahun dan memiliki satu orang anak, tapi Nida masih tampak semuda mahasiswa angkatan tahun pertama. Matanya yang selalu mengerling penuh canda, adalah faktor utama dalam keawetmudaannya.
Sutia melirik ke samping, tempat anak sulungnya berdecak menanggapi usulan adiknya.
“Ka, Ibu memang sebenarnya belum selesai kangen sama kamu.”
“Ibu …,” ucap Arka dengan nada putus asa.
“Loh, ya kamu yang bener aja. Coba kamu bilang, kapan kamu terakhir pulang? Udah bertahun-tahun yang lalu. Ibu sampe lupa berapa tahun hitungannya saking lamanya. Ini kamu baru sekarang pulang, mestinya kamu di sini itu nyampe sebulan-dua bulan, bukan cuma seminggu.”
Arka memijat pelipisnya. Ini sudah perdebatan yang kesekian kali soal jadwal kepulangannya. Bahkan sebenarnya Arka harusnya sudah pulang kemarin, tapi dia mengalah dengan menambah waktu satu hari demi menuruti kemauan ibunya. Entah apa yang bakal dia bilang nanti ke pihak personalia.
“Arka janji, abis ini bakal lebih sering pulang.”
“Bener ya, Kak? Janji ya? Kakak kemarin udah janji sama Rafael mau beliin dia truk yang bisa dia naikin. Itu, kalau Kakak mau pulang harus bawa itu,” ucap Nida penuh nada antusias, sekaligus mengancam.
“Nida, nggak boleh gituin kakakmu,” tegur Sutia.
“Ih, Ibu, paling Ibu juga diam-diam minta oleh-oleh daster sama mukenah ke Kakak.”
Arka tersenyum melihat interaksi dua wanita kesayangannya. Sedikit banyak dirinya memang merasa bersalah karena sudah lama tak pulang.
“Ibu sih nggak nolak kalau Arka mau beliin Ibu itu. Tapi …,” Sutia melirik penuh arti pada anak lelakinya, ucapannya dengan dramatis, “Ibu lebih ngarep kalau kamu pulang bawain Ibu calon mantu.”
“Bu … kita juga udah bicarain soal ini kemarin. Arka masih belum kepikiran buat nikah,” ucap Arka dengan erangan lelah.
“Ya makanya ini Ibu omongin sama kamu, biar kamu kepikiran. Kamu itu kalau ngelajang terus, uang hasil gajimu mau dipakai buat apa?”
Arka tersadar betapa terdengar miris ucapan ibunya.
“Mending punya istri, nanti ada yang ngurus kamu, ngurus uang kamu. Uang kamu lebih jelas perginya ke mana. Kamu juga bisa—“
Kembali rentetan klakson terdengar, memotong ucapan Sutia, membuat lagi-lagi seisi penumpang kaget.
“Kenapa lagi, Mas?” tanya Nida.
“Kucing, Dek. Heran, Mas, kok mereka muncul terus dari tadi, berisik pula, ganggu aja.”
Nida dan ibunya saling lirik. Berisik? Memangnya suara ngeong kucingnya sampai kedengaran ke dalam mobil? Sepertinya mereka tidak mendengar apa-apa sejak tadi.
“Oh …. Ya sudah, hati-hati, Mas, nyetirnya,” pesan Nida akhirnya, sambil mengusap dadanya yang masih berdebar-debar kencang.
“Iya, Lutfi, hati-hati. Mending pelan asal sampainya selamat,” timpal Sutia.
Kedua perempuan itu kemudian menghentikan percakapan mereka, fokus memperhatikan jalan sambil sesekali menggumamkan selawat, berharap keselamatan.
Namun, lain cerita dengan Arka. Dia mungkin saja ikut diam, tetapi dalam hati Arka menyumpahserapahi perbuatan Lutfi. Arka sadar bahwa yang terjadi sejak tadi, rentetan klakson itu, bukan karena ulah kucing—tak ada kucing—tetapi ulah Lutfi sendiri. Untuk menyela percakapan istri dan mertuanya agar berhenti. Yang dimaksud “kucing berisik” adalah sindiran untuk mertuanya.
Tahu begini Arka menyesal kenapa tidak menyewa mobil carteran saja, dan malah menuruti saran kedua orang tuanya agar diantar suami Nida. Arka awalnya sungkan, tak enak merepotkan, tapi kata ibunya—yang juga disetujui bapaknya—tak usah sungkan, hitung-hitung untuk merekatkan hubungan antara Arka dan adik iparnya. Karena sejak Nida menikah, Arka hanya beberapa kali berkesempatan bertemu dengan Lutfi.
Dari awal ketika masih di rumah tadi, Arka sudah dapat merasakan aura tak ramah dari suami Nida. Ternyata orangnya memang mengesalkan, Arka yakin mereka tak akan pernah bisa jadi kakak dan ipar yang akur.
Kalau saja tak ada ibu dan adiknya, Arka akan melabrak Lutfi atas tingkah tak sopannya pada kedua perempuan yang paling disayangi Arka itu. Namun Arka memilih diam, tak ingin memperpanjang masalah supaya ibu dan adiknya tak kepikiran.