24. Malam Pertama (2)

1370 Kata

Nilam ingin terus menunduk, menekuri lantai keramik kamarnya yang berwarna putih polos. Bahkan saat langkah kaki itu bukan hanya kian mendekat, namun kini telah berada tepat di hadapannya, Nilam masih terus menunduk. Sampai tangan suaminya terjulur mengelus pipinya. Napas Nilam yang sejak tadi tertahan berubah jadi kesiap. Tangan Arka terasa sangat dingin di pipinya yang membara seakan kena demam. Tangan itu tak berhenti di sana begitu saja, melainkan bergerak turun ke arah leher Nilam, terus ke tulang selangkanya, hingga kemudian pada tali bajunya yang setipis lidi di area bahu, untuk kemudian menyibaknya. Membuat kain itu merosot hingga kemudian menampakkan dua gundukan bulat di sana. Lagi-lagi Nilam terkesiap. Dia merasa amat terpapar. Terlebih ketika akhirnya Nilam memberanikan diri

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN